Buya Yahya, Dai Kondang Asal Cirebon yang Dekat Dengan Nuansa Nahdliyin

gomuslim.co.id - Buya Yahya merupakan da’i kondang asal Cirebon. Selain menjadi pengasuh pondok pesantren, beliau juga aktif di berbagai sektor usaha.

Pria bernama lengkap Yahya Zainul Ma'arif ini lahir di Kabupaten Blitar, Jawa Timur pada 10 Agustus 1973. Buya Yahya adalah pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah yang berpusat di Cirebon.

Awalnya, kedatangan Buya Yahya ke Cirebon pada akhir tahun 2005 dalam rangka mejalankan tugas dari gurunya Rektor Universitas Al Ahgaff Almurobbi Profesor Doktor Al Habib Abdullah bin Muhammad Baharun (seorang guru yang sangat berpengaruh didalam perjalanan ilmiah Buya Yahya) untuk memimpin Pesantren Persiapan bagi mahasiswa sebelum kuliah ke universitas Al Ahgaff di Yaman.

Untuk menjalankan aktivitasnya, Yahya dengan teman-temanya Habib Hasan Aljufri, ustaz Budi Abdullathif, ustaz Abdul Aziz Muslim dan ustaz Fathurrahman mengontrak tempat di pondok pesantren Nuurussidiq, Tuparev-Cirebon. Itu berlangsung hingga pertengahan 2006. Saat itu, Buya Yahya belum mendapatkan izin dari gurunya untuk berdakwah ke masyarakat.

Pada pertengahan 2006, Buya Yahya menghadap kepada gurunya di Yaman. Mulai saat itu, ia telah diizinkan untuk berdakwah di masyarakat. Yahya memulai berdakwah dari hal yang kecil, tidak memaksa dan apa adanya.

Dengan penuh kesabaran, Buya Yahya memasuki musala-musala kecil. Hingga akhirnya dimudahkan oleh Allah untuk membuka majlis-majlis taklim di masjid terbesar di Cirebon yakni masjid Attaqwa. Beliau mengisi majelis setiap senin malam selasa. Semula, jamaah hanya dihadiri 20 orang. Lambat laun, jamaah hampir memenuhi ruangan dalam masjid.

Bersamaan itu juga, Buya Yahya membuka majlis taklim bulanan di berbagai tempat hingga 29 majlis yang beliau asuh di Cirebon Kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan.

Di antaranya adalah majlis yang diadakan masjid Al-Imam alun-alun kota Majalengka, masjid al Istiqomah Cilimus Kuningan, masjid Pertamina Klayan, masjid Almustaqim Weru dan beberapa swalayan dan toserba, seperti Yogya, Matahari Department Store Grage, Lembaga Pemasyarakatan Kesambi dan lainnya. Majleis yang Buya Yahya asuh diberi nama Majlis Al-Bahjah sekaligus nama pesantren yang saat ini Buya Yahya rintis.

Pada pertengahan 2006, Buya Yahya selama satu tahun sempat berjuang di stasiun radio Salma 101 FM. Saat itu, Buya Yahya mendapatkan kepercayaan sebagai direktur operasional radio tersebut. 

Selama itu pula, Buya Yahya mencoba menghadirkan dakwah lewat radio dengan membuat program pesantren udara dengan memadatkan acara radio dengan pengajian pengajian. Di media cetak, Buya Yahya juga ikut berdakwah. Selama bulan Ramadan, Buya Yahya mengasuh rubrik tanya jawab di koran harian umum Radar Cirebon.

Sampai saat ini, beliau masih aktif mengisi artikel di harian tersebut setiap hari Jumat dalam Oase Iman. Buya Yahya mengasuh rubrik masail diniyah di sebuah majalah Islami Al-Basyirah yang terbit di Jawa Timur.

Perjalanan Ilmiah Buya Yahya

Sebelum ke Yaman, pendidikan dasar hingga SMP diselesaikan di kota kelahirannya. Disamping itu, beliau juga mengambil pendidikan agama di Madrasah Diniyah yang dipimpin oleh seorang guru yang saleh, KH. Imron Mahbub di Blitar. 

Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikannya di pesantren Darullughah Wadda’wah di Bangil Pasuruan Jawa Timur dibawah asuhan al Murobbi Al Habib Hasan bin Ahmad Baharun, yaitu pada tahun 1988 hingga 1993. Pada tahun 1993 hingga 1996, beliau mengajar di pesantren Darullughah Wadda’wah Bangil Pasuruan. 

Pada tahun 1996, Buya Yahya berangkat ke Universitas al-Ahgaf atas perintah sang guru Habib Hasan Baharun hingga akhir 2005.

Buya Yahya selama 9 tahun di Yaman belajar fiqih, di antaranya kepada para Mufti Hadramaut Syekh Fadhol Bafadhol, Syekh Muhammad Al Khotib, Syekh Muhammad Baudhon, dan Habib Ali Masyur bin Hafid. Selama di Yaman, ia pun belajar ilmu hadits kepada Dr Ismail Kadhim Al-Aisawi dari Iraq, Habib Salim Asysyathri dan Sayyihd Ahmad Bin Husin Assegaf.

Dari Habib Salim Asysyatiri, Buya Yahya sempat mengambil beberapa disiplin ilmu. Di antaranya fiqih, aqidah, ulummul quran dan mustholah al hadits. 

Biarpun Buya Yahya tidak tinggal dipesantren (Rubath) Habib Salim Asysyathri, beliau mendapatkan kesempatan yang sangat banyak untuk belajar dari beliau. Sebab di pagi hari, Habib Salim mengajar di kampus dan sore hari hingga malam, Buya Yahya mendapatkan waktu khusus selama hampir 2 tahun untuk belajar dari beliau 4 kali dalam seminggu mulai ashar hingga isya di Rubath Tarim.

Hadits dan ilmu haditsnya di ambil dari beberapa guru diantaranya adalah Dr Ismail Kadhim Al Aisawi. Secara khusus, ilmu ushul fiqihnya diambil dari beberapa pakar, di antaranya Syekh Muhammad Al-Hafid Assyingqithi, Syekh Muhammad Amin Assyingqiti dan Syekh Abdullah Walad Aslam Assyingqiti (semuanya adalah dari Syingqiti–Mortania yang mereka adalah para ulama dalam Madhab Maliki) dan DR Mahmud Assulaimani dari Mesir.

Buya Yahya sempat mengajar di Yaman selama 3 tahun di Fakultas Tarbiyah dan Dirosah Islamiah (khusus putri) Universitas Al-Ahgaff. Sekarang Buya Yahya aktif berdakwah di masyarakat dan mengasuh majelis Al-Bahjah dan pesantren Al-Bahjah.

Guru-guru Buya Yahya.

Ada dua guru murobbi Buya Yahya yang sangat mempengaruhi di dalam perjalanan ilmiah Buya Yahya. Pertama adalah Almurobbi Almursyid Al-Habib Hasan bin Ahmad Baharun pengasuh dan pendiri Pon-pes Darullughoh Waddakwah Bangil-Pasuruan-Jawa Timur.

Kedua, Almurobbi Almursyid Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun rektor universitas Al Ahgaff Republik Yaman. 

Buya Yahya mempunyai sanad ilmu dari guru-guru yang sangat jelas. Selain dari murobbi dan mursidnya tersebut guru Buya Yahya amat banyak. (hmz/BiografiBuyaYahya)


Back to Top