KH. Basori Alwi, Ulama Pencetus Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) 

gomuslim.co.id - KH. Basori Alwi dikenal sebagai ulama Alquran bukan hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara. Tah heran jika KH. Basori Alwi sering dipanggil professor Alquran. 

Beliau adalah pendiri Jam’iyatul-Qurra’ wal Huffadz dan sekaligus salah satu pencetus ide Musabaqah Tilawatil Quran tingkat internasional pada Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) 1964. KH. Basori Alwi juga termasuk penggagas Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ) yang hingga saat ini diadopsi hingga tingkat daerah.

Selain itu Pendiri Pesantren Ilmu Alquran (PIQ) Singosari ini dipercaya sebagai hakim dalam MTQ Internasioanal. Tercatat pernah menjadi juri MTQ tingkat internasional di Brunei Darussalam (1985), Mesir (1998) dan Jakarta (2003). 

 

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Basori Alwi Murtadlo. Lahir di Singosari, 15 April 1927 dari pasangan Kiai Alwi Murtadlo dan Nyai Riwati. Sejak kecil, beliau belajar Alquran pada ayahnya, Kiai Murtadlo. 

Lantas berguru kepada Kiai Muhith, seorang penghafal Alquran dari Pesantren Sidogiri (Pasuruan) lalu kepada kakak kandung beliau, Kiai Abdus Salam. Beliau juga belajar kepada Kiai Yasin Thoyyib (Singosari), Kiai Dasuqi (Singosari) dan Kiai Abdul Rosyid (Palembang).

Sewaktu tinggal di Solo pada tahun 1946-1949, beliau sempat belajar di Madrasah Aliyah dan mondok di Ponpes Salafiyah Solo. Bahkan, ketika sudah berkeluarga dan tinggal di Gresik, beliau masih menyempatkan diri untuk mengaji kepada Kiai Abdul Karim. Adapun lagu-lagu Alquran beliau peroleh dari Kiai Damanhuri (Malang) dan Kiai Raden Salimin (Yogya). Selanjutnya, beliau memperdalam lagu Alquran melalui kaset rekaman para qari’ Mesir, khususnya Syaikh Shiddiq Al-Minsyawi.

 

Baca juga:

Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih, Ahli Hadits dan Pelopor Berdirinya UIN Malang

 

Ustadz Basori Alwi, demikian singkat orang banyak memanggilnya. Tak banyak orang memanggil beliau Kiai Basori. Entah apa sebabnya. Mungkin karena terkait dengan keahlian ustadz dalam melagukan Alquran. Sebab, pelantun Alquran biasanya dipanggil ustadz. Apalagi, hingga kini, Ustadz Basori masih berkiprah di Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) tingkat Nasional dalam Dewan Hakim. Atau mungkin, kata “Ustadz” yang menurut Al-Khuli, diartikan “Profesor”, sehingga memang pas bila gelar “Profesor” di bidang pembelajaran Alquran, disematkan pada diri Kiai Basori Alwi sebagai ulama ahli Alquran yang berpengaruh di dalam maupun luar negeri.

Basori muda, sebelum belajar di Ponpes Salafiyah Solo, pernah mondok di Ponpes Sidogiri dan Ponpes Legi di Pasuruan antara tahun 1940-1943. Selain mengkaji ilmu-ilmu agama dengan kitab-kitab klasik khas pesantren salaf, Basori Muda juga tekun belajar Bahasa Arab. Beliau pernah berguru kepada Syaikh Mahmud Al-Ayyubi dari Iraq, Sayyid Abdur Rahman bin Syihab Al-Habsyi (sewaktu di Solo), Syaikh Ismail dari Banda Aceh, Ustadz Abdullah bin Nuh dari Bogor (sewaktu di Yogyakarta). Guru beliau yang disebut paling akhir ini adalah pengasuh Ponpes Al-Ghozali dan redaktur siaran berbahasa Arab di RRI Yogyakarta ketika masih menjadi ibukota darurat RI.

KH. Basori Alwi merupakan sosok praktisi dunia pendidikan yang profesional dan berpengalaman. Buktinya, beliau telah malang melintang berkhidmat di lembaga-lembaga pendidikan, baik umum maupun agama, formal maupun informal. Beliau mulai menjadi pengajar sekitar tahun 1950 saat tinggal di kawasan Ampel Surabaya, di rumah pamannya. Disana, beliau ditawari mengajar di SMI Surabaya dan PGA Negeri Surabaya (1950-1953) dan di PGAA Negeri Surabaya (1953-1958). Sejak itulah, jiwa kepengajaran beliau semakin terasah. Ketika hijrah ke Gresik setelah mempersunting gadis di sana, beliau masih mengajar di Surabaya.

Setelah lama merantau, pada tahun 1958, beliau kembali ke Singosari. Di sini beliau meneruskan tradisi mengajarnya dengan menjadi guru di PGAA Negeri Malang (1958-1960), dosen Bahasa Arab di IAIN Malang (1960-1961, sekarang UIN Malang). Di samping mengajar di lembaga formal, beliau aktif mengajar bacaan dan lagu Alquran di berbagai tempat. Sampai akhirnya, pada 1978, beliau mendirikan Pesantren yang dinamainya Pesantren Ilmu Alquran (PIQ) di Singosari, Malang.

Kiprah dan andil besar KH. Basori Alwi di bidang pendidikan Alquran sungguh luar biasa. Benar, jika beliau disebut pakar Alquran karena memang Ustadz Basori tiada henti mengajar Alquran dan mendakwahkannya. Dahulu, Ustadz memang seorang qari’ (pelantun Alquran bil-ghina) tingkat nasional, bahkan internasional, walaupun tak seterkenal Abdul Aziz Muslim. Beliau ibarat pendekar yang sudah malang-melintang di dunia tilawah. Bersama dua qari’ nasional lainnya, Ustadz Abdul Aziz Muslim dan (alm.) Fuad Zain, dia pernah diundang untuk membaca Alquran di 11 negara Asia Afrika (Arab Saudi, Pakistan, Irak, Iran, Siria, Lebanon, Mesir, Palestina, Aljazair dan Libya). Hal itu berlangsung selepas peristiwa pemberontakan G30S PKI tahun 1965. “Saat berkunjung ke Saudi, kami berkesempatan melakukan ibadah haji, dan itu adalah haji pertama saya” kata Ustadz Basori.

Tak pelak lagi, Ustadz Basori tercatat sebagai tokoh kaliber nasional dan internasional di bidang Tilawatil Qur’an. Beliau salah satu pendiri Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffadh (Organisasi para qari’ dan penghafal Alquran), sekaligus salah satu pencetus ide Musabaqah Tilawatil Qur’an tingkat internasional pada Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) tahun 1964. KH. Basori juga termasuk penggagas MTQ tingkat nasional. Beliau tidak pernah absen menjadi juri, baik pada MTQ dan STQ Nasional, maupun MTQ tingkat provinsi. Di samping itu, beliau dipercaya menjadi juri MTQ tingkat internasional di Brunei Darussalam (1985), Mesir (1998) dan Jakarta (2003).

Selain terjun di dunia pendidikan, KH. Basori adalah sosok aktivis organisasi kemasyarakatan yang ulet dan selalu konsen pada dunia dakwah Islamiyah. Tercatat, beliau pernah memegang tampuk kepemimpinan Gerakan Pemuda Ansor (1955-1958).

Karya-karya

KH. Basori Alwi, bisa dibilang, adalah sosok ulama yang komplet. Faseh berceramah dan penulis yang produktif. Beliau banyak menulis buku dan risalah ringkas, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Indonesia. Karya-karya beliau, antara lain:

  • Mabadi’ Ilm At-Tajwid (Pokok-Pokok Ilmu Tajwid) dilengkapi Kamus “Miftahul Huda” (Panduan Waqaf dan Ibtida’)
  • Madarij Ad-Duruus Al-Arabiyah (Pelajaran Bahasa Arab, 4 Jilid)
  • Dalil-Dalil Hukum Islam (Terjemahan Matan Ghayah Wat Taqrib, 2 Jilid)
  • Al-Ghoroib Fii Ar-Rasm Al-Utsmany (Seputar bacaan dan tulisan asing dalam Mushaf Rasm Utsmany)
  • Ahadiits Fi Fadhailil Qur’an Wa Qurra’ihi (Hadis-hadis tentang keutamaan Alquran dan para pembacanya)
  • Terjemahan Syari’atullah Al-Khalidah (Karangan Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki)
  • Pedoman Tauhid (Terjemahan Aqidatul Awwam)
  • Pengantar Waraqaat Imam Al-Haramain
  • Membahas kekuasaan (Terjemahan Al-Nasaih al-Diniyah Wa Al-Washaya Al-Imaniyah)
  • Al-Miqat Al-Jawwi Li Hajji Indonesia (Miqat Udara bagi Haji Indonesia)
  • Manasik Haji
  • Pedoman Singkat Imam dan Khotib Jum’at
  • Kumpulan khutbah Jum’at
  • At-Tadlhiyah, Petunjuk singkat tentang qurban
  • At-Tartil Waa Al-Lahn, risalah tentang Tepat dan Salah Baca dalam Alquran
  • Bina Ucap (Mahraj dan Sifat Huruf)
  • Bina Ucap (Hamzah Washol dan Hamzal Qotho’)
  • Dzikir Ba’da Shalat Jum’at
  • Zakat dan Penggunaannya
  • Hukum Talqin dan Tahlil
  • Tarawih dan Dasar Hukumnya
  • Dan beberapa kitab dan risalah lainnya.
 
Baca juga:
 

Dari sekian banyak karya ilmiah Ustadz Basori, dapat disimpulkan, bahwa pemikiran beliau amat dinamis dan berwawasan luas, mencakup berbagai bidang kehidupan umat beragama. Dengan berkembangnya dunia tehnologi modern, beliaupun tak ketinggalan zaman. Kiai Basori beserta para santrinya melahirkan rekaman melalui kaset, MP3, VCD dan DVD yang memuat panduan pembelajaran Alquran, praktek metode pengajaran, teori-teori ilmu tajwid dan sebagainya. Semua produk itu di buat di studio milik pesantren.

Pesantren Ilmu Alquran (PIQ) Singosari

KH. Basori Alwi mendirikan Pesantren Ilmu Al-Quran (PIQ) yang terletak di Singosari kabupaten Malang, (±10 km utara kota Malang) pada tanggal 1 Mei 1978. Sesuai dengan namanya, PIQ mempunyai spesialisasi dan prioritas pengajaran pada Al-Quran.

Sebagai pesantren yang lebih berkonsentrasi pada bidang Al-Quran, dengan metode pembelajarannya yang disebut dengan ‘Metode Jibril’, PIQ sering dijadikan objek comparative study dan penelitian oleh kalangan pesantren, universitas, dan lembaga-lembaga kajian lain. Namun dalam perkembangannya, Bahasa Arab juga memperoleh porsi perhatian yang besar, sebagai media pengembangan wawasan berpikir dan alat untuk menganalisa keilmuan Islam klasik & modern.

PIQ telah menjadi salah satu kiblat yang penting dalam hal tilawah. PIQ menjadi pusat pembinaan para qari dan qariah dari kota dan kabupaten di seluruh Jawa Timur. Tak hanya itu, Kiai Basori, sejak dulu juga menjadi rujukan untuk Qira’ah Bit-Tartil atau membaca Alquran yang baik dan benar, khususnya di beberapa tempat di Jawa Timur. Baik masyarakat umum, maupun masyarakat pesantren merasa perlu datang kepadanya untuk memintanya mengoreksi (mentashih) bacaan mereka dalam hal fasohah (pengucapan makhraj dan sifat huruf).

Paling tidak, ada tiga pesantren yang mempercayakan para gurunya untuk digembleng bacaan Alqurannya oleh Kiai Basori, yang selanjutnya mereka tularkan kepada para santrinya. Ketiga pesantren itu adalah Pondok Sidogiri (Pasuruan), Ponpes As-Salafiyah Asy-Syafi’iyah Asembagus (Situbondo), dan sebuah pesantren di Lumajang. Selain itu, beliau rutin mengajar masyarakat umum di kota Probolinggo, Leces, Pacet (Mojokerto), Blitar, Sidoarjo, dan Malang.

Wafat

KH. Basori Alwi meninggal dunia diusia 93 tahun karena sakit jantung koroner  pada Senin, 22 Maret 2020. KH. Basori Alwi dimakamkan pada Selasa, 24 Maret usai salat zuhur di kompleks pemakamanan Yayasan PIQ di Dengkol, Singasari, Kabupaten Malang.


Back to Top