KH. Syam’un, Pendiri Al-Khairiyah dan Pahlawan Nasional Asal Banten

gomuslim.co.id - Nama KH. Syam’un mungkin terdengar asing bagi banyak orang di Indonesia. Namun, bagi penduduk yang ada di kawasan Banten, nama beliau dikenal dengan sangat baik. 

KH. Syam’un adalah seorang pejuang asli Banten yang mengabdikan dirinya untuk Indonesia. Beliau tumbuh dengan semangat juang tinggi untuk tidak mau terus menerima penindasan.

Selain dikenal sebagai pejuang yang sangat hebat, KH. Syam’un juga dikenal hebat dalam ilmu agama sehingga mampu mendirikan pondok pesantren dan lembaga pendidikan Al-Khairiyah. Terakhir, beliau juga aktif di dalam dunia militer. 

Atas peran dan jasanya kepada bangsa dan negara, KH Syam’un ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi pada 8 November 2018. Berikut kisah KH. Syam’un selengkapnya.

Brigjen KH Syam’un lahir di Kampung Beji, Cilegon, Banten, pada 15 April 1883. Ibunya bernama Siti Hadjar, putri K.H. Wasid, tokoh perlawanan petani Banten terhadap pemerintah kolonial pada 1888. Ayahnya bernama H. Alwidjan yang meninggal di Sumatra ketika KH Syam’un masih kecil. Makam dan silsilahnya hingga kini belum diketahui secara jelas.

KH Syam’un remaja memperoleh pendidikan di pesantren Dalingseng milik KH Sa’i pada 1901. Dia pindah ke pesantren Kamasan, asuhan KH Jasim di Serang pada 1904. Tahun berikutnya, KH Syam’un belajar ke Mekkah. Dia menghabiskan waktu lima tahun di Mekkah, lalu bergerak ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dari 1910 hingga 1915.

Memperbarui Pesantren

Usai memperoleh ijazah Al-Azhar, KH Syam’un kembali ke Mekkah untuk mengajar di Masjid al-Haram. Muridnya dari aneka suku bangsa. Yang terbanyak dari Jawa. Meskipun cuma setahun mengajar, di sini namanya mulai sohor sebagai “Ulama Banten yang besar." KH Syam’un pulang ke Hindia Belanda pada 1915.

Wujud gagasan KH Syam’un terlihat dari pendirian pesantren di Citangkil, Cilegon, pada 1916. Sepuluh tahun awal, materi ajarnya masih terbatas pada ilmu agama seperti tata bahasa Arab, fikih, hadits, tafsir, dan akidah. Santrinya pun hanya berjumlah puluhan. Lama-kelamaan pesantren Citangkil berkembang. Tidak hanya dari jumlah santri, melainkan juga materi ajar dan metode pembelajaran.

KH Syam’un menggabungkan pola pendidikan tradisional pesantren dengan sekolah modern pada 1926. KH. Syam’un berusaha mengembangkan rasionalitas Islam dengan seruan kembali kepada ajaran Islam yang pokok. Pada tahun ini pula, KH Syam’un bergabung dengan Nahdlatul Ulama.

KH Syam’un membuat kurikulum baru dengan memasukkan mata pelajaran sekolah modern seperti matematika, ilmu alam, ilmu hayat, ilmu bumi, kosmografi, sejarah, bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan kegiatan ekstrakurikuler seperti kepanduan, kesenian, dan olahraga. Dia juga mulai menerapkan pembelajaran dalam ruang kelas secara berjenjang, sesuai tingkatan umur santri.

Perubahan corak pesantren Citangkil seiring pula dengan perubahan nama pesantren menjadi Perguruan Islam Al-Khairiyah. Cabang-cabangnya bermunculan di sejumlah wilayah Banten pada 1929. Dan pada 1936, KH Syam’un mendirikan sekolah dasar umum, Hollandsch Inlandsch School.

Selain mendirikan lembaga pendidikan, KH Syam'un juga mengabadikan gagasannya lewat kitab. Dia menulis kitab tentang akidah, fikih, akhlak, dan sejarah. Publikasi karya-karya tersebut hanya terbatas pada kalangan pesantren, tapi mempunyai peran penting dalam pembentukan karakter santri-santrinya.

Berdirinya Al-khairiyah

Al-Khairiyah, banyak orang yang mungkin awam mendengar namanya. Namun, Al-Khairiyah merupakan salah satu organisasi dan lembaga pendidikan tertua di Banten yang telah berusia 101 tahun.

Nama Al-Khairiyah dengan pendirinya adalah Brigjen K.H. Syam'un memang tak setenar dengan Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1926 dengan pendirinya K.H. Hasjim Asy'ari ataupun Muhammadiyah yang berdiri ditahun 1912 dengan tokohnya Muhammad Darwis, khususnya dalam kancah perpolitikan nasional.

Dalam catatam sejarah, Perguruan Islam Al-Khairiyah di dirikan oleh K.H. Brigjen Syam'un yang bertempat di Citangkil, Kota Cilegon, Banten, pada tahun 1916 Masehi. Perguruan tersebut dibagi dalam dua sistem, yakni sistem pesantren atau tradisional lalu yang kedua menerapkan sistem madrasah atau klasikal.

Nama Al-Khairiyah sendiri di ambil dari sebuah nama bendungan di Sungai Nil, Mesir dengan harapan dapat menambah semangat juang K.H.Brigjen Syam'un dalam Dunia Pendidikan dan membawa manfaat yang sangat besar bagi masyarakat, agama dan Negara. Sebagaimana bendungan tersebut member manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat Mesir

Pada perkembangannya sendiri, pesantren Al-Khairiyah Citangkil yang telah menjadi madrasah terus mengalami perkembangan signifikan dengan berdirinya cabang Al-Khariyah yang tersebar di kota besar semial, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Banten, Jakarta dan Lampung. Untuk pembiayaan Madrasah yang mulai berkembang cukup pesat, pada tahun 1927 didirikanlah sebuah koperasi dengan nama “Koperasi Bumi Putera Citangkil l” yang diketuai oleh KH. Abdul Aziz (Pensiunan Kepala Kantor Kecamatan Cilegon). Kini Al-Khairiyah memiliki hampir ratusan sekolah madrasah dan kepengurusan yang tersebar di Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan juga wilayah Sumatera lainnya.

Karya-karya

Bagi KH. Syam’un, pesantren memberikan lingkungan yang baik bagi pematangan pemikiran. Pada awalnya, santrinya hanya berjumlah 25 orang.

Berangkat dari renungan KH. Syam’un tersebut kemudian ia berdakwah melalui tulisan. Ia pun menulis beberapa kitab dengan tujuan untuk menggali dan menjelaskan beberapa hal tentang ilmu keislaman, seperti aqidah yang menurutnya akan berdampak terhadap kehidupan sosial masyarakat Banten. Beberapa kitab itu, yakni: (1) Kitab Al-Djami’ah Fi Aqidil Muslimin wal Muslimat (kitab Aqidah untuk muslim dan muslimat) ditulis dengan huruf Arab berbahasa jawa; (2) Kitab Aqidatoel Al-Faal (kitab Aqidah untuk anak-anak) ditulis dalam bahasa Arab; dan (3) Kitab Mujmalussiratti Muhammadiyyah (kitab sejarah lahirnya Muhammadiyyah) ditulis dalam bahasa Arab.

Ketiga kitab yang ditulis KH. Syam’un tersebut bertujuan untuk membina akhlak masyarakat Baten khususnya. Kitab itu sebagai dasar untuk membangun manusia berkualitas baik, terutama akhlak. Karena manusia yang baik itu apabila akhlak kepribadiannya baik. Kitab ini pun diharapkan dapat memberikan pencerahan dan memantik kesadaran para santri dan masyarakat Banten umumnya dalam konteks kehidupan berbangsa

Keterlibatan di Pembela Tanah Air (PETA)

Setelah kekuasaan pemerintah kolonial berakhir pada 1942, KH Syam’un menjadi salah satu tokoh yang didekati oleh pemerintah pendudukan Jepang untuk merebut simpati rakyat Banten. Kiprah KH Syam’un di ranah pendidikan terekam oleh pemerintah pendudukan Jepang. Namanya muncul dalam buku Orang Indonesia Jang Terkemoeka di Djawa terbitan Gunseikanbu tahun 1944.

Jepang mengajak KH Syam’un bergabung bersama PETA pada November 1943 sebagai daidanco atau komandan batalion. Nugroho Notosutanto dalam Tentara Peta Pada Zaman Pendudukan Jepang di Indonesia mengungkapkan bahwa Jepang selalu mengincar tokoh rakyat seperti pemimpin partai, agama, kiai, dan pamong praja untuk duduk sebagai daidanco.

KH Syam’un sebenarnya terpaksa menerima ajakan itu. Jepang mewanti-wanti jika KH. Syam’un menolak, perguruan Al-Khaeriyah akan ditutup. Tetapi KH Syam’un kemudian memandang keputusannya bergabung ke PETA ada gunanya juga. Dia mempelajari taktik dan strategi militer.

Keputusan KH Syam’un bergabung ke PETA tak mengurangi kadar wibawanya di Banten. Dia justru makin banyak beroleh penghormatan. Anak buahnya mematuhi perintahnya lebih dari sekadar seorang komandan, tetapi juga mematuhinya selayaknya guru dan bapak.

Meredakan Kekacauan

KH Syam’un menggunakan wibawa dan kecakapan militernya untuk memulihkan keadaan Banten setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Pada Oktober 1945 begitu dibentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Komandemen 1/Jawa Barat membentuk Divisi 1 TKR dengan nama Divisi 1000/1 dengan panglima divisinya yakni K.H Syam’un dengan pangkat kolonel.

Di bawah pimpinanya, Divisi 1 TKR menumpas Gerakan Dewan Rakyat yang menangkap tokoh-tokoh penting pemerintahan di Banten. Bahkan karena gerakan ini, ada desas-desus Banten akan melepaskan diri dari Indonesia. Hal ini kemudian mendorong Sukarno dan Hatta harus turun ke Banten dan meyakinkan rakyatnya.

Pada 1946, terjadi penggantian jabatan di Banten dan pilihannya jatuh kepada KH Syam’un untuk menjadi Bupati Serang. Naiknya ulama di lingkungan pemerintahan diharapkan menjaga kedaulatan RI dari ancaman termasuk tentara Belanda yang datang setelah Jepang kalah dari sekutu.

Saat Tentara Keamanan Rakyat mengalami perubahan dan restrukturisasi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada 1946, Komandemen 1/Jawa Barat berubah menjadi Divisi I/Siliwangi dan dipimpin oleh Panglima Jenderal Mayor A.H Nasution. Divisi ini kemudian membawahi lima brigade salah satunya Brigade I/Tirtayasa di Banten dengan komandan Kolonel K.H Syamun.

Dalam perkembangannya, karena merangkap menjadi bupati, KH Syam’un kemudian diganti oleh Letnan Kolonnel Soekanda Bratamenggala.

Selesai berurusan dengan Tje Mamat, KH Syam’un menghadapi tentara NICA dan Sekutu. Dalam periode ini, dia bertindak sebagai Panglima Divisi 1000/ 1 —kelak menjadi Divisi Siliwangi— sampai Maret 1947. KH Syam’un berperan menahan infiltrasi NICA dan Sekutu ke Banten.

Wafat dalam Perjuangan

Ketika terjadi Agresi Militer Belanda pertama pada 21 Juli 1947, KH Syam’un menjabat bupati di Serang. Tentara Belanda berhasil memblokade wilayah Banten sehingga pasokan kebutuhan pokok dan uang Republik berkurang. KH Syam’un menyumbangkan mesin cetaknya untuk memproduksi uang khusus yang disetujui oleh pemerintah Indonesia.

 

Agresi Militer Belanda kedua pada Desember 1948 turut menyasar kota Serang. Tentara Belanda berhasil memasuki kota ini dan menangkap beberapa pejabat. Tetapi KH Syam’un lolos dari sergapan tentara Belanda. Dia berpindah-pindah tempat untuk memimpin perlawanan terhadap tentara Belanda. 

Di banyak tempat dia singgah, dia bertemu dengan gerilyawan Republik dan memberi mereka semangat. KH Syam’un wafat di usia ke 66 di Gunung Cacaban Anyer pada 2 Maret 1949, tak lama setelah bertemu dengan gerilyawan. 


Back to Top