Guru Zuhdi, Ulama Kharismatik Masa Kini Asal Kalimantan Selatan

gomuslim.co.id - Ulama kharismatik asal Kalimantan Selatan, KH Ahmad Zuhdiannor atau yang akrab disapa Guru Zuhdi telah berpulang ke Rahmatullah di usia 48 tahun, Sabtu (2/5/2020) atau Ramadan ke-8 1441 H, pukul 7.30 Wita di RS Medistra Jakarta.

Kali ini gomuslim merangkum riwayat singkat almarhum Guru Zuhdi semasa hidup yang dinukil dari berbagai sumber.

KH. Ahmad Zuhdiannor atau Guru Zuhdi dilahirkan di Banjarmasin pada 10 Februari 1972 dari keluarga yang menekuni ilmu-ilmu agama.

Guru Zuhdi merupakan putera dari H. Muhammad bin Jafri (pimpinan Ponpes Al-Falah) dan Hj. Zahidah binti KH Asli. Ayah beliau dikenal sebagai ulama yang cukup terkenal di Banjarmasin. Sementara kakek beliau dari pihak Ibu, KH Asli adalah tokoh ulama yang berdomisili di Alabio, salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara Amuntai.

 

Baca juga:

Zakiah Daradjat, Muslimah Pelopor Psikologi Islam di Indonesia

 

Beliau memiliki sembilan orang saudara. Dua orang di antaranya sudah meninggal, sehingga ada tujuh orang yang masih hidup. Nama-nama saudara beliau, Hj. Naqiah, Sa‟aduddin, Jahratul Mahbubah, Saduddin, Zulkifli, Najiah, Nashihah, dan Nafisah.

Pendidikan

Pendidikan formal yang dijalani Guru Zuhdi hanya sampai tingkat SD. Setelah itu, beliau melanjutkan ke Pesantren Al Falah, selama sekitar dua bulan, namun karena sakit kemudian berhenti.

Kemudian beliau belajar dari kakek beliau sendiri dari pihak ibu, KH. Asli selama satu tahun. Bidang ilmu yang dipelajari di sana, yaitu Ilmu Tajwid, Fikih, Tashrif, Tauhid, Tasawuf. Setelah satu tahun di Alabio, kemudian meneruskan mengaji dengan orang tuanya, belajar Tauhid, Fikih, Nahwu, Tasawuf.

Selama di Banjarmasin, beliau juga belajar dengan KH. Abd. Syukur Teluk Tiram, di sana beliau belajar tasawuf, fikih, ushul fikih, Arudh. Setelah meninggal K.H. Abd. Syukur kemudian menimba ilmu dengan KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul), dengan beliau belajar beberapa ilmu, terutama akhlak kurang lebih selama tujuh tahun.

Pengaruh Guru Sekumpul terhadap Guru Zuhdi sangat kuat. Pada banyak hal beliau selalu merujuk kepada figur sang guru ini, seperti dalam hal tarekat, beliau mengikuti Tarekat Sammaniyah. Bahkan dalam berpakaian pun ketika mengisi pengajian, beliau sangat mirip dengan ulama kharismatik asal Martapura ini, yakni baju putih dengan serban besar di kepala.

 

Baca juga:

Dr Ahmad Lutfi Fathullah MA, Putra Asli Betawi dan Pendiri Pusat Kajian Hadis

 

Kitab-kitab yang beliau pelajari selama nyantri yaitu: Pada bidang tauhid, Syarah Hud Hudi karya Imam Syarkawi, Syarah Dasuqi karya Imam Sanusi, Matan Sanusiah karya Imam Sanusi, dan Kifayatul Awal, karya Syekh Fudhali. Pada bidang tasawuf, Bidayatul Hidayah karya Imam Ghazali, Minhajul Abidin karya Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali, dan Taqribul Ushul karya Syekh Zaini Dahlan.

Pada bidang fikih, Syarah Sitin karya Syekh Ramli, Syarah Bajuri karya Syekh Bajuri, dan Syarah I‟anatuthalibin karya Syekh Zainuddin. Sedangkan pada ilmu nahwu, Matan Jurumiah karya Imam Sanhaji, Mukhtasar Jidan karya Syekh Zaini Dahlan, Syarah Syekh Khalid karya Syekh Khalid, dan Alfiah Ibnu Malik karya Ibnu Malik.

Guru Zuhdi pernah mengajar selama sekitar dua tahun di Pondok Pesantren Al Falah. Aktivitas beliau yaitu membuka pengajian di Mesjid Jami pada Malam Ahad, pengajian di rumah Guru Zuhdi pada Malam Sabtu, pengajian di Teluk Dalam, Langgar Darul Iman malam selasa, dan pengajian di Sabilal Muhtadin pada malam Jum‟at. Beliau biasanya tidak bersedia di undang pada peringatan hari-hari besar Islam, dan hanya memfokuskan diri pada pengajian saja.

Jadi Relawan Barisan Pemadam Kebakaran

Di sela-sela waktu memberi pengajian dalam beberapa majelis di Banjarmasin, Guru Zuhdi juga menjadi anggota pemadam kebakaran.

Ia pernah beberapa kali terlibat dalam kegiatan pemadaman api yang menghanguskan rumah warga di Kota Banjarmasin.

Beberapa kisah lucu saat menjadi anggota pemadam, terkadang beliau sampaikan di depan jamaahnya, sebagai selingan.

Dekat dengan Klub Sepak Bola, Barito Putera

Tak hanya itu, Guru Zuhdi juga merupakan sosok yang dekat dan dihormati para petinggi klub sepak bola Kalimantan Selatan, Barito Putera. Guru Zuhdi menjabat sebagai Ketua Dewan Penasehat Barito Putera.

Beberapa kali beliau terlibat acara-acara penting klub berjuluk Laskar Antasari tersebut mulai dari launching pemain dan jersey klub, kegiatan buka bersama, hingga acara-acara lainnya.

Asisten pelatih Barito Putera, Yunan Helmi mengungkapkan kesedihannya, bahkan jajaran klub Sepak Bola Barito Putera merasa kehilangan sosok ulama kharismatik ini.

"Beliau adalah ulama besar kharismatik Banjarmasin dan Kalimantan. Di samping itu beliau adalah dewan penasehat PS.Baritoputera," kata Yunan Helmi, Sabtu (2/5/2020).

Wafat

Guru Zuhdi meninggal dunia pada Sabtu 2 Mei 2020 dalam usia 48 tahun setelah dirawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta dan didiagnosa mengalami kanker paru dengan diagnosis diferensial kanker kelenjar getah bening. Jenazah almarhum diterbangkan dari Jakarta menuju Banjarmasin dan dimakamkan di kubah tepat di samping kediaman beliau di Jalan Belakang Masjid Jami, Sungai Jingah, Sabtu (2/5/2020) malam, sekitar pukul 21.00 Wita.

Beliau adalah guru yang sangat tawaddhu’, sosok orang yang sangat sederhana, adab beliau sungguh luar biasa, baik kepada para habaib, ulama, pejabat, masyarakat bahkan kepada anak-anak sekalipun.

Sebagai guru yang karismatik dapat di jadikan contoh dalam Akhlaq, Adab dan Ilmunya. Dengan adanya ceramah beliau para jamaah tidak terasa gelap gulita, untuk menerangkan hati karena beliau memberikan ilmu agama kepada mereka. Beliau selalu menerangi cahaya hati orang lewat da’wahnya dalam pengajian, masyarakat Banjar memberi gelar kepada beliau “Mutiara Banjar”.


Back to Top