Ini Fatwa MUI Tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan Jamaah untuk Cegah Penularan Wabah COVID-19

gomuslim.co.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa tentang Penyelenggaraan Salat Jumat dan Jamaah Untuk Mencegah Penularan Wabah COVID-19. Hal itu bertujuan untuk mengatur regulasi pelaksaan salat jamaah terhadap warga masyarakat agar bisa tercegah dari ancaman virus corona.

Berikut Fatwa MUI terkait Salat Jumat dan Jamaah:

FATWA

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Nomor: 31 Tahun 2020

Tentang

PENYELENGGARAAN SHALAT JUM’AT DAN JAMAAH UNTUK MENCEGAH PENULARAN WABAH COVID-19

Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), setelah :

MENIMBANG: 

a. bahwa terkait pelonggaran aktifitas sosial seiring mulai  meredanya ancaman wabah COVID-19 di beberapa kawasan, maka banyak dari pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) akan membuka kembali masjid untuk diselenggarakan kembali shalat Jum’at dan shalat berjamaah lima waktu (rawatib);

 b. bahwa wabah COVID-19 saat ini belum benar-benar hilang dari negeri ini, bahkan di berbagai negara terpaksa menerapkan kembali karantina sosial setelah meningkatnya kembali angka penyebaran;

c. bahwa muncul pertanyaan di masyarakat tentang hukum pelaksanaan shalat Jum’at dan shalat jama’ah lima waktu dengan protokol kesehatan seperti dengan merenggangkan saf dalam rangka penerapan jaga jarak (physical distancing), shalat dengan menggunakan masker, dan tata cara pelaksanaan shalat Jum’at akibat physical distancing yang berdampak pengurangan daya tampung;

d. bahwa oleh karena itu dipandang perlu menetapkan fatwa tentang Penyelenggaraan Shalat Jum’at dan Jamaah Untuk Mencegah Penularan Wabah COVID-19 sebagai pedoman.

MENGINGAT:                       

1. Firman Allah SWT : Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. al-Jumu’ah [62]: 9)

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. al-Baqarah [2]: 43)

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersamasama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu raka’at), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka bersamamu dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap-siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” (QS. al-Nisaa’ [4]: 102)

Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. al-Hajj [22]: 77) ُّ

Dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Baqarah [2]: 195)

… Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu… (QS. al-Baqarah [2]: 185)

… dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan … (QS. al-Hajj [22]: 78)

Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu … (QS. al-Taghabun [64]: 16)

2. Hadis Rasulullah SAW, antara lain:

Dari Anas bin Malik ra. dari Rasulullah Saw. bersabda: “Lekatkanlah/rapatkanlah barisan kalian dan saling berdekatlah dan tempelkan pundak-pundak kamu. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sesungguhnya aku melihat syetan memasuki di antara sela-sela saf seperti Hadzaf (anak kambing hitam.jenis kambing yang berada di daerah Yaman)” (HR. Abu Dawud)

Dari Jabir bin Abdullah ra. berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Saya dikaruniai (oleh Allah) lima hal, yang belum pernah dikaruniakan kepada selain saya. Saya ditolong (dalam peperangan,sehingga) perasaaan musuh (dalam peperangan) menjadi gentar (menghadapi saya) dalam masa peperangan yang memakan waktu sekitar sebulan, bumi dijadikan sebagai tempat shalat dan suci bagi saya dan karenanya, siapa saja dari umatku yang mendapatkan waktu shalat, maka hendaklah dia shalat (di bumi mana saja dia berada), … “. (HR. Bukhari)

Dari Ibnu Abbas ra. berkata: Nabi Saw. bersabda: “Aku diperintahkan untuk sujud di atas tujuh anggota badan; kening (lalu beliau menunjuk juga pada hidungnya), kedua tangan, kedua lutut, dan kedua kaki, dan kami tidak (boleh) menahan pakaian dan rambut”. (HR. Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. berkata: “Rasulullah Saw. melarang orang laki-laki untuk menutup mulutnya saat shalat”. (HR. Ibnu Majah)

Abu Hurairah ra. mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Apa saja yang aku larang kamu melakukannya, hendaklah kamu jauhi, dan apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu. Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena mereka banyak bertanya dan tidak patuh dengan nabi-nabi mereka.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah suka untuk dikerjakan rukhsah-Nya, demikian juga Allah suka untuk dikerjakan perintah-Nya (azimah).” (HR. al-Baihaqi)

Dari Ibnu Umar ra. Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah suka untuk dilakukan rukhsah-Nya, sebagaimana Allah membenci apabila maksiat dilakukan.” (HR. Ahmad)

Dari Abû Sa’îd Sa’d bin Mâlik bin Sinân al-Khudri Radhyallahu anhu, Rasûlullâh Saw. bersabda, “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain”. (HR. al-Dâraquthni, al-Baihaqi, al-Hakim)

 3. Atsar sahabat

"Dari Ibnu Juraij: aku berkata kepada 'Atha: tidakkah kau lihat penduduk Bashrah? masjid besar di sana tak mampu lagi menampung mereka! lalu apa yg musti mereka perbuat?. 'Atha menjawab: baiknya setiap penduduk daerah mempunyai masjid sendiri untuk mereka berkumpul didalamnya, maka hal tersebut sudah mencukupi (untuk didirikannya shalat Jum'at). Lalu mereka mengingkari fatwa 'Atha, dan tetap memilih mendirikan shalat di masjid besar tersebut."

4. Qaidah Fiqhiyyah 

“Kemudharatan harus dihilangkan”

“Menolak mafsadah didahulukan dari pada mecari kemaslahatan”

“Kemudharatan sedapat mungkin harus dihindarkan”

“Kemudlaratan dibatasi sesuai kadarnya”

“Sesuatu ketika sulit, menjadi longgar, dan ketika longgar,   menjadi sulit.”

“Kebijakan pemimpin [pemegang otoritas] terhadap rakyat harus mengikuti kemaslahatan“.

“Apa yang tidak dapat diperoleh seluruhnya tidak boleh ditinggal seluruhnya”

 

MEMPERHATIKAN: 

1. Pendapat fuqaha terkait dengan saf dalam shalat jamaah, antara lain:

a. Pendapat al-Ramli dalam kitab Nihayah al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj (2/192):

Syihab al-Ramli pernah ditanya tentang fatwa sebagian ulama tentang kuat atau tidaknya pendapat bahwa jika seorang jamaah yang membuat saf baru sebelum sempurnanya saf di depannya maka dia tidak mendapatkan keutamaan shalat berjamaah. Beliau berpendapat bahwa seorang jamaah tersebut tidak kehilangan keutamaan shalat berjamaah karena membuat saf baru tersebut.

b. Pendapat al-Ramli dalam kitab Nihayah al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj (2/196-197):

Dan hukumnya makruh bagi makmum yang berdiri sendiri, tetapi tidak sampai membatalkan shalat jamaah karena Rasul Saw. tidak memerintahkannya untuk mengulangi shalat. Adapun perintah Rasul Saw. untuk mengulani shalat (pada riwayat yang lain) adalah dipahami sebagai sesuatu yang disunnahkan.

Sesungguhnya meluruskan saf adalah termasuk kesempurnaan shalat berjamaah sebagaimana tersebut dalam hadis. Hal ini berbeda jika barisan tidak teratur, maka imam disunnahkan untuk tidak bertakbiratul ihram sebelum meluruskan saf. Jika seseorang tidak merapatkan saf karena uzur seperti cuaca panas di masjidil haram, maka tidak makruh karena bukan niat meremehkan.

c. Pendapat Ibnu Alan As-Shiddiqi al-Syafii dalam kitab Dalil al-Falihin (6/573-574):

Dari sahabat Anas ra., Rasulullah Saw. bersabda: “(Susunlah saf kalian) sehingga tidak ada celah dan longgar (dekatkanlah antara keduanya) antara dua saf kurang lebih berjarak tiga hasta. Jika sebuah saf berjarak lebih jauh dari itu dari saf sebelumnya, maka hal itu dimakruh dan luput keutamaan berjamaah sekira tidak ada uzur cuaca panas atau sangat dingin misalnya.

2. Pendapat Fuqaha terkait dengan pelaksanaan Shalat Jum’at di beberapa tempat, antara lain:

a. Pendapat Al-Kasani dalam kitab Bada’i al-Shanaai fi Tartib al-Syarai’ (1/126):

Berdasarkan dzahir riwayat dan pendapat yg dipegang dalam madzhab Hanafi bahwasahnya boleh dilaksanakan shalat Jum’at di dua tempat saja dan tidak boleh lebih dari itu. Diriwayatkan dari Sayyidina Ali bahwa beliau pernah keluar ke lapangan/gurun untuk shalat ied, bersamaan ia mengangkat seseorang sahabat untuk menjadi imam di kawasan kota dan hal tersebut disaksikan para sahabat. Lalu ketika hal ini saja boleh di dalam shalat ied, maka boleh pula di shalat jumat, karena keduanya sama-sama dilaksanakan satu tempat dalam satu daerah dan karena secara umum kesulitan hilang dengan didirikannnya shalat di dua tempat. Adapun yang diriwayatkan oleh muhammad berupa pemutlakan kebolehan di tiga tempat, itu dimaksudkan untuk keadaan hajat dan darurat.

b. Pendapat Imam Ibnu ‘Abidin dalam kitab Radd al-Mukhtar ‘ala al-Durri al-Mukhtar (2/144):

Shalat Jum’at boleh dilaksanakan di banyak tempat dalam satu daerah secara mutlak dalam madzhab Hanafi.

c. Pendapat Imam al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ (4/586):

Yang shahih dalam madzhab Syafii adalah bolehnya mengadakan shalat Jum’at pada dua lokasi atau lebih tergantung hajah dan tingkat kesulitan.

d. Pendapat al-Murawadi dalam kitab al-Insaf fi Ma’rifat alRajih min al-Khilaf (2/400):

Jika tidak ada hajah, maka tidak boleh melaksanakan shalat jum’at lebih dari satu lokasi. Ini adalah pendapat madzhab Hanbali.

e. Pendapat Muhammad Syamsul Haq Abadi dalam kitab ’Aun al-Ma’bud Syarhu Sunan Abi Dawud, Bairut-Dar al-Kutub al- ‘Ilmiyyah, Cet ke-2, 1415 H, juz, III, h. 281:

"Sebagian ulama mempersyaratkan masjid sebagai tempat pelaksanaan shalat Jum’at. Sebab, menurut mereka shalat Jumat tidak ada kecuali di masjid. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i dan mayoritas ulama bahwa masjid bukan syarat bagi pelakasanaan shalat Jumat. Dan ini adalah pendapat yang kuat."

f. Penjelasan al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ (4/558):

Menurut madzhab Syafii bahwa orang yang ruku’nya imam pada rakaat kedua maka dia shalat Jum’atnya sah dan jika tidak maka shalatnya tidak sah. Ini adalah pendapat jumhur ulama.

3. Pendapat Fuqaha terkait dengan anggota sujud dan larangan menutup mulut dan wajah saat shalat, antara lain:

a. Penjelasan Imam al Mawardi dalam kitab al-Hawi al-Kabir (2/126):

Adapun masalah kening dan hidung, sebenarnya kewajiban sujud itu terkait dengan kening bukan pada hidung. Jika seseorang sujud dengan keningnya maka sah shalatnya dan sebaliknya, jika sududnya dengan hidung maka tidak sah shalatnya. Ikrimah dan Ibnu Jubair berpendapat bahwa kewajiban sujud itu terkait dengan kening dan hidung secara bersama-sama, jika bersujud hanya dengan salah satu keduanya maka tidak sah shalatnya.

Imam Abu Hanifah berkata: “Kewajiban sujud itu terkait dengan salah satu dari kening dan hidung, maka sah jika bersujud dengan salah satu dari keduanya”. Ulama yang berpendapat bahwa anggota badan dalam sujud itu meliputi kening dan hidung berhujjah kepada riwayat hadis yang artinya; “tidak sah shalat seseorang yang tidak menempelkan hidungnya pada tempat sujud”. Ulama yang berpendapat bahwa anggota badan saat bersujud itu cukup dengan menempelkan hidung ke tempat sujud tanpa kening berhujjah pada riwayat hadis yang artinya; “tempelkan keningmu dan hidungmu pada tempat sujud saat bersujud”. Jika tidak memungkinkan untuk mengumpulkan dua hadis tersebut, maka dianggap sah shalatnya dengan menempelkan salah satu dari kedua anggota tubuh tersebut.

Dalil madzhb Syafii adalah hadis riwayat al-Syafii dari Sufyan dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah Saw. diperintahkan untuk sujud di atas kedua tangan, kedua lututnya dan ujung jari-jari kakinya, dan dahi dan dilarang untuk menahan rambut dan pakaiannya. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa masalah terkait kening dan hidung itu seperti anggota tubuh saat bersujud yang lainnya yang semua harus menempel pada tempat sujud.

b. Pendapat al-Nawawi dalam al-Majmu’ (3/197):

Orang laki-laki dimakruhkan untuk menutup mulutnya saat shalat sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah ra. bahwa “Rasulullah Saw. melarang orang laki-laki untuk menutup mulutnya saat shalat”. Sedangkan perempuan dimakruhkan untuk memakai cadar saat shalat karena wajah perempuan tidak termasuk aurat saat shalat.

c. Penjelasan Manshur al-Bahuty dalam kitab Kasysyaf alQanna’ (1/268): ُ

Dalam keadaan tanpa hajah (perempuan dimakruhkan untuk memakai cadar saat shalat), Ibnu Abdi al-Bar berkata: “Ulama bersepakat bahwa perempuan harus membuka wajahnya saat shalat dan ihram, karena menutup wajah menghalangi dahi dan hidung untuk menyentuh tempat sujud”. Dan ulama juga bersepakat bahwa laki-laki tidak boleh menutup mulut saat shalat karena adanya riwayat hadis yang melarang laki-laki menutup mulut saat shalat. Jika karena ada hajah seperti hadirnya orang yang bukan muhrim maka tidak dimakruhkan.

4. Fatwa Musyawarah Nasional VI MUI nomor 5/MUNAS VI/MUI/2000 tentang Pelaksanaan Shalat Jum’at 2 (Dua) Gelombang

a. Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 14 tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah COVID19.

b. Fatwa Majelis Ulama Indonesia Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta nomor 05 tahun 2020 tentang Hukum Dan Panduan Shalat Jum’at Lebih Dari Satu Kali Pada Saat Pandemi COVID-19.

c. Pendapat, saran, dan masukan yang berkembang dalam Sidang Komisi Fatwa yang berakhir pada tanggal 3 dan 4 Juni 2020.

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG PENYELENGGARAAN SHALAT JUM’AT DAN JAMAAH UNTUK MENCEGAH PENULARAN WABAH COVID-19

Pertama        : Ketentuan Hukum

A. Perenggangan Saf Saat Berjamaah

1. Meluruskan dan merapatkan saf (barisan) pada shalat berjamaah merupakan keutamaan dan kesempurnaan berjamaah.

2. Shalat berjamaah dengan saf yang tidak lurus dan tidak rapat hukumnya tetap sah tetapi kehilangan keutamaan dan kesempurnaan jamaah.

3. Untuk mencegah penularan wabah COVID-19, penerapan physical distancing saat shalat jamaah dengan cara merenggangkan saf hukumnya boleh, shalatnya sah dan tidak kehilangan keutamaan berjamaah karena kondisi tersebut sebagai hajat syar’iyyah.

B. Pelaksanaan Shalat Jum’at

1. Pada dasarnya shalat Jum’at hanya boleh diselenggarakan satu kali di satu masjid pada satu kawasan.

2. Untuk mencegah penularan wabah COVID-19 maka penyelenggaraan shalat Jumat boleh menerapkan physical distancing dengan cara perenggangan saf.

3. Jika jamaah shalat Jum’at tidak dapat tertampung karena adanya penerapan physical distancing, maka boleh denyelenggarakan shalat Jum’at berbilang (ta’addud aljumu’ah), dengan menyelenggarakan shalat Jum’at di tempat lainnya seperti mushalla, aula, gedung pertemuan, gedung olahraga, dan stadion.

4. Dalam hal masjid dan tempat lain masih tidak menampung jamaah shalat Jum’at dan/atau tidak ada tempat lain untuk pelaksanaan shalat Jum’at, maka Sidang Komisi Fatwa MUI berbeda pendapat terhadap jamaah yang belum dapat melaksanakan shalat Jum’at sebagai berikut:

a. Pendapat pertama, jamaah boleh menyelenggarakan shalat Jum’at di masjid atau tempat lain yang telah melaksanakan shalat Jum’at dengan model shift, dan pelaksanaan shalat Jum’at dengan model shift hukumnya sah.

b. Pendapat kedua, jamaah melaksanakan shalat zuhur, baik secara sendiri maupun berjamaah, dan pelaksanaan shalat Jum’at dengan model shift hukumnya tidak sah.

Terhadap perbedaan pendapat di atas (point a dan b), dalam pelaksanaannya jamaah dapat memilih salah satu di antara dua pendapat dengan mempertimbangkan keadaan dan kemaslahatan di wilayah masing-masing.

C. Penggunaan Masker Saat Shalat

1. Menggunakan masker yang menutup hidung saat shalat hukumnya boleh dan shalatnya sah karena hidung tidak termasuk anggota badan yang harus menempel pada tempat sujud saat shalat.

2. Menutup mulut saat shalat hukumnya makruh, kecuali ada hajat syar’iyyah. Karena itu, shalat dengan memakai masker karena ada hajat untuk mencegah penularan wabah COVID-19 hukumnya sah dan tidak makruh.

Kedua : Rekomendasi

1. Pelaksanaan shalat Jumat dan jamaah perlu tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker, membawa sajadah sendiri, wudlu dari rumah, dan menjaga jarak aman.

2. Perlu memperpendek pelaksanaan khutbah Jum’at dan memilih bacaan surat al-Quran yang pendek saat shalat.

3. Jamaah yang sedang sakit dianjurkan shalat di kediaman masing-masing.

Ketiga : Ketentuan Penutup

1. Fatwa ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan berlaku selama pandemi COVID-19, dengan ketentuan jika di kemudian hari membutuhkan penyempurnaan, akan disempurnakan sebagaimana mestinya.

2. Agar setiap muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, semua pihak dihimbau untuk menyebarluaskan fatwa ini.

3. Hal-hal yang belum jelas akan diterangkan dalam bayan.

Ditetapkan di : Jakarta

Pada tanggal : 12 Syawwal 1441 H     

                      4 Juni 2020 M

 

MAJELIS ULAMA INDONESIA

KOMISI FATWA

 

Ketua                                                                                                                                                       Sekretaris

PROF. DR. H. HASANUDDIN AF                                                                                                                   DR. HM. ASRORUN NI’AM SHOLEH, MA.

 

Mengetahui,

DEWAN PIMPINAN

MAJELIS ULAMA INDONESIA

           

Wakil Ketua Umum                                                                                                                                      Sekretaris Jenderal

KH. MUHYIDDIN JUNAEDI, MA                                                                                                                      DR. H. ANWAR ABBAS, M.M, M. Ag


Back to Top