:
:
News
Mualaf Andrea: Ketertarikan Saya pada Islam adalah Simbiosis Cinta dan Ide-Ide Intelektual

gomuslim.co.id – Sebagian masyarakat Eropa menganggap agama bukan merupakan hal penting. Beberapa keluarga tidak menganggap agama tidak memainkan peran penting bagi kehidupan. Inilah yang dialami Andrea Chishti, seorang guru kelahiran Watford, Inggris.  

Wanita berdarah Pakistan ini tidak menyangka bisa tertarik pada agama, khususnya agama Islam. Dia dibesarkan di Jerman, di sebuah rumah tangga di mana agama tidak begitu menjadi prioritas.

"Ayah saya adalah seorang ateis, tetapi ibu saya dan sekolah saya meninggalkan saya dengan keyakinan bahwa spiritualitas itu penting," ujar Andera seperti dilansir dari publikasi The Guardian, Rabu (23/06/2021).

Andrea kemudian menikah dengan seorang Muslim kelahiran Inggris asal Pakistan bernama Fida. Mereka dikaruniai seorang putra dan putri. Andrea dan Fida bertemu di universitas pada 1991. Ketertarikan Andrea pada Islam adalah simbiosis cinta dan ide-ide intelektual.

"Fida menginginkan keluarga Muslim dan pada 1992 minat saya pada Islam telah berkembang secara signifikan, jadi saya memilih untuk pindah agama. Namun, kami butuh tiga tahun lagi untuk menikah. Selama waktu itu, kami bertengkar, bertemu teman dan keluarga, sepakat tentang bagaimana hidup bersama," ungkap Andrea.

 

Baca juga:

Terpesona Kebaikan Muslimah di Masjid, Wanita Irlandia Ini Putuskan Masuk Islam

 

Hingga kemudian Andrea memutuskan untuk masuk Islam sehingga ayahnya, yang ateis, pun terkejut. "Ketika saya pindah agama, ayah saya berpikir itu gila, tetapi dia menyukai calon suami saya. Meski begitu, dia membelikanku sebuah flat kecil agar aku selalu bisa kembali," tuturnya.

Tidak hanya ayahnya yang kaget. Ibunya Andrea juga bahkan khawatir karena akan melangsungkan pernikahan yang kental nuansa Pakistan dengan keluarga besar Fida. Apalagi, Andrea akan pindah ke negara lain sehingga banyak yang harus dia tangani.

Saat itu, Andrea tidak merasa perlu untuk berpakaian secara berbeda. Dia juga merasa tidak perlu berhijab dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dia merasa sangat nyaman memakainya di tempat umum saat menjalankan kewajiban agama. "Saya tidak memakainya juga karena pertimbangan ibu saya, karena, itu adalah masalah besar baginya," ujarnya.

Andrea merupakan tipe orang yang berpikir logis. Dia adalah guru dan sejak dulu memang tidak minum minuman beralkohol. Karena itu, sebetulnya dengan menjadi mualaf, dia tidak keluar dari kehidupan lama untuk menemukan hal yang baru.

"Tetapi, Islam telah memperkuat etika dan moral saya, serta memberikan landasan yang baik untuk kehidupan keluarga saya," ungkapnya.

Ada hal berbeda yang dirasakan Andrea saat hidup bersama suaminya di Pakistan. "Anda terkadang merasa seperti piala karena Anda berkulit putih. Jika Anda pergi ke pertemuan, semua orang ingin membantu dan mengajari Anda, sampai pada titik di mana saya merasa tercekik. Tetapi, pindah agama adalah urusan manusia, urusan wanita," katanya. (jms/TheGuardian/Republika/foto:ilustrasi)

 

Baca juga:

Sempat Berpikir Islam Agama Teroris, Wanita Ini Akhirnya Dapat Hidayah dan Jadi Mualaf

Responsive image
Other Article