:
:
News
Senat AS Setuju Penunjukan Muslim Pertama yang Jadi Hakim Federal

gomuslim.co.id – Senat Amerika Serikat (AS) untuk pertama kalinya menyetujui penunjukan seorang hakim Muslim sebagai hakim federal. Dia adalah Zahid Quraishi. Penunjukan tersebut menjadi peristiwa bersejarah yang memicu gejolak di komunitas Muslim Amerika.

Zahid Quraishi mendapat dukungan 83 suara dari Senat. Sementara 16 suara lainnya menentang. “Meskipun Islam adalah agama terbesar ketiga di Amerika Serikat, tidak ada Muslim yang pernah bertugas di distrik federal,” kata Pemimpin Mayoritas Senat, Chuck Schumer seperti dilansir dari publikasi Reuters, Senin (14/06/2021).

Schumer mengatakan Senat perlu memperluas tidak hanya keragaman demografis, tetapi juga keragaman pekerjaan. “Saya tahu ,Presiden Biden setuju dengan saya dalam hal ini. Inilah yang akan saya lakukan,” ujar dia.

"Hakim Quraishi telah mengabdikan karirnya untuk melayani negara kita. Dia mewujudkan janji Amerika sebagai tempat di mana segala sesuatu mungkin terjadi," kata Senator New Jersey, Bob Menendez.

Sementara Senator Corey Booker yang juga dari New Jersey, merekomendasikan Quraishi untuk posisi itu. Booker menyebut, Quraishi sebagai orang yang percaya diri dan patriotisme dan kebetulan juga Muslim.

Quraishi sendiri merupakan seorang Muslim keturunan Pakistan dan berasal dari keluarga imigran di New York City. Dia sebelumnya bertugas di bidang kehakiman New Jersey dan menerima gelar sarjana hukum dari Universitas Rutgers.

Meski begitu, tugas Quraishi saat menjabat Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) selama pemerintahan Bush dan perannya dalam perang Irak telah menuai kritik.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis sebelumnya pada April, Dewan Hubungan Islam Amerika, sebuah kelompok advokasi hak-hak sipil Muslim, menyuarakan keprihatinan tentang masa lalu profesional Quraishi.

 

Baca juga:

Yasar Bashir, Muslim Pertama yang Jadi Asisten Kepala Polisi di Kota Houston Amerika

 

"ICE tetap prihatin tentang kurangnya kejelasan atas pengalaman profesional masa lalu Hakim Quraishi dalam melayani bersama tentara dalam memberikan nasihat hukum tentang penahanan di Irak selama masa penyalahgunaan militer AS dan masa jabatannya di ICE selama tahun terakhir pemerintahan Bush," ujar Direktur departemen urusan pemerintah ICE, Robert McCaw seperti dilansir dari publikasi The Guardian.

Menurutnya, baik Hakim Quraishi, Gedung Putih, atau Kongres tidak membahas pengalaman kerja sebelumnya dan mereka juga tidak secara terbuka memeriksanya. Sementara ICE terus meminta Quraisy untuk mengklarifikasi pengalaman profesionalnya di masa lalu.

"Sementara itu, kami berharap dia memenuhi tugas seorang hakim dengan menjunjung tinggi hak-hak semua warga negara Amerika, termasuk Muslim," ujar McCaw.

Setelah lulus sekolah hukum, Zahid Quraishi dua kali dikerahkan ke Irak pada 2004 dan 2006 di mana ia menjadi jaksa militer dan mendapatkan pangkat kapten.

Selama bertugas di tentara AS, Quraishi juga menjabat sebagai penasihat hukum untuk operasi penahanan, posisi kontroversial yang belum ia klarifikasi secara terbuka. Quraishi terus bekerja untuk ICE selama pemerintahan Bush, memprovokasi kemarahan aktivis sayap kiri dan organisasi Muslim.

Asosiasi Pengacara Muslim Amerika mengatakan kepada Law360 bahwa kelompok itu tetap prihatin dengan kurangnya transparansi seputar keterlibatan hakim dengan tentara AS sebagai penasihat hukum untuk operasi penahanan di Irak dan dengan (ICE).

Kelompok tersebut mengatakan, kegagalan pemerintah untuk berkonsultasi dengan aktivis hukum utama di komunitas Muslim sebelum pencalonan Hakim Quraishi adalah kesempatan yang terlewatkan untuk membangun kepercayaan dan menemukan landasan bersama. (jms/reuters/theguardian/republika/dbs)

 

Baca juga:

Bayan Galal, Muslim Pertama yang Jadi Presiden BEM Universitas Yale AS

Responsive image
Other Article