Otoritas Masjid Suci Rilis Gambar Maqam Ibrahim Beresolusi Tinggi

gomuslim.co.id – Setelah mendokumentasikan gambar Hajar Aswad dengan kualitas tinggi, Kepresidenan Umum Urusan Dua Masjid Suci pada hari Rabu (5/5) merilis gambar detail Maqam Ibrahim atau batu tempat Ibrahim berpijak di Masjidil Haram, Makkah yang tidak pernah terlihat sebelumnya.

Dilansir dari publikasi Saudi Gazette, Kamis (6/5/2021), Kepresidenan menangkap detail gambar langka Maqam Abraham dengan teknik baru yang menggunakan fokus panorama bertumpuk.

Maqam Ibrahim adalah batu yang memiliki jejak dimana Nabi berdiri saat membangun Kakbah ketika tembok menjadi terlalu tinggi. Batu itu diabadikan dengan bingkai emas, perak, dan kaca untuk melestarikan jejak kaki Nabi Ibrahim.

Dalam serangkaian tweet yang diposting di akun Twitter resminya, Kepresidenan menyertakan sejumlah gambar yang menunjukkan tempat suci dengan cara yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Presidensi mencatat, tempat suci Nabi Ibrahim adalah batu delima dari surga. Kuil Nabi Ibrahim terletak di depan pintu Kakbah, 10 hingga 11 meter di timur Kakbah, di bagian yang mengarah ke Safa dan Marwah

Kepresidenan menjelaskan bahwa tempat suci itu adalah batu arkeologi tempat Nabi Ibrahim berdiri ketika Kakbah dibangun. Bentuk batunya hampir bujur sangkar dengan panjang 40 sentimeter dan lebar serta tinggi sekitar 20 cm.

 

Baca juga:

Gunakan Teknik Terbaru, Foto Hajar Aswad Terlihat Sangat Jelas

 

Warna batu ini berwarna putih kekuningan dan kemerahan. Jejak kaki berada di tengah-tengah batu. Panjang tapak kaki pada permukaan batu adalah 27 cm dan lebarnya 14 cm.

Menurut keyakinan Islam, Allah menurunkan Hajar Aswad dan batu keramat kepada Nabi Ibrahim dan Ismail dari Surga, setelah keduanya diperintahkan untuk mengangkat fondasi Kakbah.

Batu kuil ditandai dengan dua jejak kaki di atasnya. Sepanjang sejarah, batu tersebut tetap bersebelahan dengan Kakbah suci sebagai salah satu landmark Makkah.

Ketika Nabi Muhammad SAW menaklukkan Makkah, dia dan para sahabatnya memutuskan untuk memindahkan batu dari lokasi aslinya di dekat Kakbah ke lokasinya saat ini pada jarak lebih dari 10 meter. Ini untuk memfasilitasi ritual tawaf dan memungkinkan jamaah salat di belakang tempat suci seperti yang dijelaskan dalam Alquran.

Menurut sejarawan, penguasa pertama yang menutupi tempat suci itu adalah Khalifah Abbasiyah Al-Mahdi. Khalifah Al-Mutawakkil menutupinya dengan emas dan perak untuk memperkuatnya.

Di era Saudi, khususnya pada masa pemerintahan Raja Faisal, pekerjaan perluasan diperintahkan dan bangunan dipindahkan untuk memfasilitasi ritual keliling agar lebih mudah.

Kaca kristal dan penutup perak kemudian dipasang. Renovasi juga berlangsung pada masa pemerintahan Raja Fahd. Kaca buram tahan panas dan tahan pecah ditempatkan di atas kuil yang dilapisi tembaga yang terbungkus emas. (jms/saudigazette)

 

Baca juga:

Hotel-Hotel di Makkah Dapat Lampu Hijau untuk Terima Tamu

 


Back to Top