BPKH Siap Investasikan Dana Haji ke Sektor Perhotelan di Saudi Tahun Ini

gomuslim.co.id – Badan Pengelola Dana Haji (BPKH) Indonesia akan berinvestasi pada operator hotel di Arab Saudi tahun ini. Hal tersebut disampaikan Anggota Badan Pelaksana BPKH, Hurriyah El Islamy dalam kegiatan Global Islamic Investment Forum, pekan lalu. 

Dia menilai saat ini saat yang tepat untuk berinvestasi di bidang akomodasi yang berkaitan dengan jemaah haji di Arab Saudi. Dia menyebut investasi di bidang perhotelan seharusnya direalisasikan pada 2020. Namun, karena pandemi COVID-19 merebak, rencana tersebut ditangguhkan.

“Tapi kami berharap, semoga tahun ini sudah bisa. Kalau jamaah berangkat tahun ini sudah ada bangunan pakai merah putih, plus restoran, minimal hotel. Target tahun ini. Kita akan pastikan  investasi itu aman, langkah hati-hati dan sesuai rambu-rambu,” ujar Hurriyah.

BPKH sendiri menghimpun dana kelolaan haji sebesar Rp 143,1 triliun pada akhir Desember 2020. Kurang dari 1% di antaranya diinvestasikan di lembaga internasional.

Dana tersebut sedang dipertimbangkan untuk investasi baik di ekuitas hotel Saudi atau di kamar. Investasi ini mengharapkan pengembalian minimum sekitar 8%, naik setinggi 20%, dan menargetkan Makkah, Jeddah dan Madinah.

Dia menuturkan, pada tahun lalu banyak hotel yang tidak terpakai karena terdampak pandemi dan untuk mengoperasionalkan kembali butuh biaya. Artinya investor saat ini adalah raja yang bisa mendapatkan harga yang baik agar bisa meningkatkan margin.

“Investor yang cerdas masuk di saat kondisi turun untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih besar. This is the moment we shouldn’t lose the opportunity,” kata Hurriyah.

 

Baca juga:

BPKH Serahkan Bantuan Mobil Rescue ke BAZNAS

 

Saat ini, Raja Arab Saudi sudah memperbolehkan umrah bagi jamaah, 14 hari setelah mereka meminum dosis pertama vaksin COVID-19. Tinggal menunggu waktu sebelum Kerajaan menyatakan haji dibuka dengan protokol kesehatan yang ketat.

Dana menganggur selama pandemi ketika otoritas Saudi menutup perbatasan mereka untuk sebagian besar tahun 2020, termasuk untuk umrah dan jemaah haji internasional. Hal ini mendorong tingkat hunian hotel ke rekor terendah, membuat investasi di hotel bernilai baik.

Menurutnya, jika rencana investasi di bidang akomodasi itu tidak dieksekusi tahun ini, seiring bergulirnya waktu dan pandemi makin terkendali dan jumlah jemaah haji meningkat, maka nilai investasi bisa lebih mahal lagi.

Sektor akomodasi ini tuturnya, kian menjanjikan karena Pemerintah Arab Saudi mulai mengubah pengelolaan ibadah umrah yang akan dikategorikan sebagai pariwisata sehingga para jemaah bisa lebih leluasa datang ke negara itu berbekal keterangan vaksin. Dengan begitu, paparnya, tingkat okupansi hotel akan terjaga.

“BPKH akan berinvestasi pada perusahaan yang menunjukkan fundamental yang kuat, seperti arus kas yang baik dan memiliki kontrak yang siap dengan penyewa,” kata Hurriyah.

Strateginya juga menargetkan hotel-hotel di dekat Kakbah untuk menggaet pasar jemaah umrah dan umrah plus pariwisata saat ibadah haji dibuka kembali.

“Kami akan sangat hati-hati dalam menginvestasikan dana umat. Investasi di sektor riil ini juga bisa menciptakan nilai lain misalkan kita bisa menyerap tenaga kerja dari Indonesia, impor berbagai bahan makanan dari Indonesia juga yang otomatis meningkatkan devisa,” pungkasnya.

BPKH membuka unit Penanaman Modal Asing dan Kerjasama Internasional pada April tahun lalu untuk menjajaki lebih banyak pilihan di luar negeri. (jms/salaamgateway/bisnis)

 

Baca juga:

Mulai Ramadan, Jemaah Umrah Tanpa Izin Resmi Bakal Didenda Rp39 Juta


Back to Top