Mualaf Jepang: Dulu Hanya Cowok Sekuler, Tapi Sekarang Tujuan Hidup Saya Jelas

gomuslim.co.id – Seorang pemuda asal Jepang membagikan pengalamannya mengenal Islam hingga memutuskan menjadi mualaf. Pemuda tersebut bernama Kaiji Wada.

Sebelum menjadi seorang Muslim, hal yang Wada dengar tentang Islam adalah berbagai berita miring terkait pemberitaan di media. Khususnya soal serangan oleh kelompok yang menyebut diri Negara Islam atau ISIS di Timur Tengah.

Pandangannya tentang Islam berubah ketika mengikuti kegiatan pertukaran pelajar di Brunei pada 2015. Wada mengaku, pengalaman itu membuka matanya seperti apa sebenarnya para pemeluk Islam.

Ajang pertukaran pelajar ini merupakan pertemuan dan komunikasi pertamanya dengan warga Muslim dan dunia Islam.

Sekembalinya kegiatan tersebut, Kaiji Wada mulai bertemu dengan banyak Muslim lain dan belajar banyak tentang agama. Dia mengaku menemukan sesuatu yang istimewa, pengalaman spiritual yang membantunya mengetahui tujuan hidup sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk Islam pada 2017.

"Tahun ini adalah Ramadan keempat sebagai Muslim Jepang. Saya merasa bangga dengan agama saya. Lewat ibadah, identitas saya sebagai Muslim menjadi lebih kuat," kata Kaiji seperti dilansir dari publikasi BBC News Indonesia, Selasa (13/4/2021).

"Pikiran saya berubah. Setelah kembali (ke Jepang), saya sering bertemu orang Malaysia, Indonesia, Brunei. Mereka tenang, mereka baik. Saya terinpirasi dengan pengalaman itu, karena itu saya tertarik pada Islam dan ingin tahu apa yang dipelajari dalam Islam," cerita Kaiji.

Seperti mualaf pada umumnya, Kaiji juga menghadapi berbagai tantangan. Bukan hanya datang dari lingkungan, namun dari keluarga sendiri, yang tak bisa memahami mengapa dirinya memerlukan agama.

"Awalnya ibu saya tak suka agama, bukan hanya Islam tapi semua agama. Saya pikir karena ibu tak ada pengalaman berkomunikasi langsung dengan orang Islam, hanya informasi dari media. Kalau ketemu langsung, mereka tidak bahaya," tambahnya.

Sejauh ini, cerita Kaiji lagi, sang ibu belum nyaman dengan agama yang dianutnya. Namun ibunya mendukung keputusan Kaiji, karena dia anaknya. “Alhamdulilah, dia (ibu) sering kirim makanan halal untuk saya," ujarnya.

 

Baca juga:

Terpikat dengan Mesir Sejak Remaja, Wanita Hungaria Ini Akhirnya Jadi Mualaf

 

Kaiji yang bekerja sebagai CEO Career Diversity, perusahaan konsultan perekrutan tenaga kerja di Tokyo, mengaku masih sulit menemukan tempat ibadah. “Tantangan saya adalah harus cari tempat salat karena sedikit masjid dan juga cari makanan halal," kata dia.

Kaiji mengatakan dirinya belajar agama melalui pengajian online para ustaz Jepang. Selain itu, dia juga belajar melalui berbagai pertemuan"komunitas orang Indonesia di Jepang dan komunitas mualaf."

Dia menggambarkan kehidupannya lebih tenang dalam lebih tiga tahun terakhir. Jauh berbeda dibandingkan sebelum 2017, masa yang disebutnya seperti orang yang "tak punya tujuan hidup".

"Biasanya di masyarakat Jepang, mereka sering tersesat, atau bingung [dalam menetapkan] apa yang penting dalam kehidupan mereka, apa yang benar dan tidak benar. Jadi mereka hidup untuk bekerja sampai bunuh diri, disebabkan kecapean," paparnya.

"Setelah masuk Islam semua tujuan dan jawaban tertulis di Alquran. Sekarang tujuan hidup saya sudah jelas, Alhamdulilah. Saya termotivasi untuk kehidupan saya sendiri," kata Humas di organisasi Olive, Young Muslim Community, komunitas Muslim untuk anak muda di Jepang ini.

Angka bunuh diri di Jepang termasuk yang paling tinggi di dunia. Persoalan keluarga, perundungan hingga kekhawatiran terhadap masa depan diduga menjadi faktor penyebab yang melatari kenaikan angka bunuh diri pada anak-anak muda Jepang.

Di antara pengalaman spiritual yang tak akan Kaiji lupakan adalah ketika ia umrah bersama para mualaf dari negara-negara lain.

"Saat saya lihat Kakbah, saya [berpikir] saya cuma cowok Jepang biasa yang dulu sekuler, tak beragama. Kehidupan saya saat itu sangat jauh dari ajaran Islam. Siapa yang bisa bayangkan orang seperti saya berdiri di depan rumah Allah SWT, tak ada yang bisa mengatur kecuali Allah SWT. Satu hal yang tak akan saya lupakan," ungkapnya.

Saat Idul Fitri tiba, Kaiji tidak tak pulang kampung seperti orang Muslim Indonesia. Karena dalam keluarganya, hanya Kaiji yang memeluk Islam. "Saya akan kumpul-kumpul dengan saudara-saudara Muslim di masjid," tambahnya.

Namun karena pandemi, berbagai kegiatan di masjid seperti buka puasa dibatasi berdasarkan peraturan masjid masing-masing. "Saya akan merayakan [Idul Fitri] dengan istri saya, insya Allah," kata Kaiji yang menikah dengan perempuan Indonesia, Yusanne Pitaloka. (jms/bbcIndonesia)

 

Baca juga:

Cerita Hijrah Tere: Jadi Mualaf Hingga Bangun Komunitas Muslim


Back to Top