Pakar Falak Muhammadiyah Jelaskan Kriteria Awal Bulan Hijriah

gomuslim.co.id – Ada dua pendekatan yang kerap dilakukan oleh umat muslim di dunia untuk menentukan awal bulan hijriah. Keduanya yakni pendekatan rukyat dan hisab.

Rukyat merupakan aktivitas mengamati visibilitas hilal. Sementara hisab adalah cara memperkirakan posisi bulan dan matahari terhadap bumi dengan proses perhitungan astronomis.

Perintah rukyat hadir di zaman Rasulullah Saw sebagai penentu awal bulan hijriyah, sesuai dengan sabda Nabi yang artinya, “Berpuasalah karena melihatnya (hilal).”

Tetapi dalam perkembangan zaman, ilmu astronomi memungkinkan posisi bulan dan matahari terhadap bumi dapat dilihat dengan proses kalkulasi sehingga dapat menentukan awal bulan untuk tahun-tahun yang akan datang.

Dua pendekatan ini terkadang menimbulkan perbedaan pendapat dalam penentuan awal bulan, khususnya awal Ramadan, hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha.

Fenomena ini tentu meresahkan sebagian besar masyarakat muslim. Adanya potensi perbedaan tanggal di bulan-bulan yang penuh dengan ritual ibadah ini, gagasan Kalender Islam Global menumukan arti dan relevansinya.

 

Baca juga:

Pemuda Muhammadiyah Segera Rilis Aplikasi Ojek Online Nasional

 

Menurut pakar Falak Muhammadiyah, Susiknan Azhari, proses penyusunan kalender hijriah terbagi dua, yaitu kalender Urfi dan kalender hakiki. Kalender Urfi berarti sistem kalender yang berdasarkan perhitungan rata-rata peredaran bulan mengelilingi bumi.

“Sementara Kalender Hakiki yaitu sistem kalender berdasarkan perhitungan peredaran bulan mengelilingi bumi dengan mempertimbangkan posisi bulan/hilal yang sebenarnya terhadap ufuk,” jelas Susiknan baru-baru ini.

Dalam penyusunan kalender Hijriah, Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki Wujudul Hilal. Susikan menjelaskan bahwa kriteria awal bulan menggunakan teori ini berdasarkan tiga hal.

Pertama, telah terjadi ijtimak (konjungsi). Kedua, pada saat terbenam matahari, bulan belum terbenam. Dan ketiga, pada saat terbenamnya matahari piringan atas Bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud).

“Tiga kriteria ini tidak semata dari QS. Yasin ayat 39 dan 40, melainkan dihubungkan dengan ayat, hadis dan konsep fikih lainnya serta dibantu ilmu astronomi. Ketiga kriteria ini penggunaannya harus terpenuhi sekaligus, secara kumulatif artinya kalau salah satu dari ketiga kriteria ini tidak terpenuhi, maka bulan baru belum mulai,” terang Susiknan. (Muhammadiyah)

 

Baca juga:

Kepala LAPAN: Perkiraan Awal Ramadan Bakal Seragam Tanggal 13 April


Back to Top