Didiskualifikasi Karena Berhijab, Remaja Ini Perjuangkan Hak Muslimah

gomuslim.co.id - Setelah didiskualifikasi dari lomba lari lintas alam sekolah menengah, seorang remaja Muslim berusia 17 tahun dari Ohio, Amerika Serikat (AS) menolak untuk menerima status-quo. Dia malah bekerja untuk mengubah aturan dan mengizinkan Muslimah berhijab agar bisa bersaing.

“Muslimah bisa menjadi wajah atletik. Saya bisa menjadi wajah perlombaan lintas alam atau di majalah lari,” kata Noor Abukaram seperti dilansir dari publikasi Daily Californian, Rabu (7/4/2021).

Sebelumnya, Noor Abukaram didiskualifikasi dari perlombaan lari lintas Negara pada Oktober 2019 karena mengenakan jilbab.

Beberapa hari setelah perlombaan, Abukaram meminta pelatihnya mengisi keringanan agar dia bisa kompetisi lari lagi. Namun dia sangat kaget karena pelatih menunjukkan sikap tidak mendukung,

“Kami memiliki seorang adik perempuan yang akan segera mengenakan jilbab. Apakah Anda benar-benar ingin hal yang sama terjadi lagi padanya? Untuk generasi atlet hijabi berikutnya yang akan lolos?,” kata Abukaram.

Noor Abukaram pun mulai bekerja dan bermitra dengan Senator Ohio Theresa Gavarone untuk merancang SB 288 negara bagian Ohio yang melarang sekolah dan organisasi antarsekolah membuat aturan yang melanggar hak untuk mengenakan pakaian keagamaan. Itu disahkan dengan suara bulat pada 24 Juni 2020.

Setelah itu, dia mengorganisir kampanye “Let Noor Run Virtual 5k” untuk mengumpulkan uang bagi House of Innovation, sebuah komunitas yang bertujuan mempromosikan keragaman dan inklusi di semua bidang.

 

Baca juga:

Beth Davidson Prakarsai Wanita Muslim dalam Olahraga Anggar

 

Hijab yang disumbangkan melalui 5k akan diberikan kembali ke sekolah-sekolah di dalam kota Toledo bekerja sama dengan departemen ekuitas, keragaman, dan inklusi Sekolah Umum Toledo.

“Sebagai atlet hijabi, saya diberikan tank top dan celana pendek untuk berlari dalam perlombaan lintas alam, benar-benar bodoh karena saya tidak bisa memakainya. Saya harus mendapatkan legging, kemeja lengan panjang dan hijab olahraga untuk dipakai,” kata Abukaram.

Noor menekankan bahwa misi yang sedang dilakukan untuk memberikan akses hijab bagi para Muslimah di sistem sekolah. “Hei, kami punya jilbab untukmu. Semuanya dapat diakses, seperti dapat diakses oleh orang lain '- itulah misi lain yang kami lakukan,” ujar dia.

Di seluruh dunia, Muslimah menentang batasan budaya dan stereotip untuk bersaing dan unggul di level olahraga tertinggi seperti sepak bola, anggar, angkat besi, bola basket, hoki es, dan banyak lagi.

Pada 2016, 14 wanita Muslim meraih medali di Olimpiade Rio, termasuk pemain anggar Amerika Ibtihaj Muhammad, Muslimah pertama yang mewakili Amerika Serikat di podium.

Namun, olahraga lain terus mengalami diskriminasi serupa terhadap perempuan Muslimah berhijab. Seperti pada pertandingan judo yang melarang judoka Indonesia Miftahul Jannah dari ajang Asian Para Games karena menolak melepas jilbab. (jms/Daily Californian/About Islam)

 

Baca juga:

Beth Davidson Prakarsai Wanita Muslim dalam Olahraga Anggar


Back to Top