Wakil Ketua BWI: Wakaf Itu Investasi Abadi

gomuslim.co.id – Wakaf merupakan salah satu investasi keabadian atau investment for eternity. Hal demikian disampaikan Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Imam Teguh Saptono dalam acara Public Expose 2021 PPPA Daarul Qur'an, pekan lalu.  

Imam menyampaikan bahwa makna investasi yang sering tersiar di masyarakat masih belum tepat. Sebab, investasi yang ramai di kalangan masyarakat saat ini adalah investasi masa depan atau investment for future.

Sedangkan, instrumen investasi yang tepat jika mengacu pada dalil tentang wakaf adalah investasi keabadian. "Harusnya instrumen investasi yang kita bicarakan bukanlah investasi masa depan, tapi investment for eternity atau investasi keabdian," jelas Imam.

Menurut Imam, Islam telah mengajarkan instrumen keuangan bukan hanya untuk masa depan semata, namun untuk keabadian. Sehingga atas konsep ini, instrumen investasi keabadianlah yang seharusnya diedukasi kepada masyarakat, terutama oleh lembaga wakaf atau Nazhir.

Imam menjelaskan untuk mencapai investasi keabadian tersebut, ada tiga hal yang harus dipenuhi. Ketiganya yakni amal jariyah atau wakaf, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih. Hal itu, kata dia, sesuai dengan hadits sholih yang diriwayatkan Muslim.

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah bersabda: "Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak sholeh yang mendoakan kepadanya." (HR Muslim).

Ketiga hal tersebut, di mata Imam, telah dilakukan oleh KH. Yusuf Mansur dan Daarul Qur'an, di antaranya dengan membentuk lembaga wakaf dan pendidikan.

"Wakal atau amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh, dan alhamdulillah ketiganya sudah diterapkan oleh KH. Yusuf Mansur dalam pendekatan wakaf, pendidikan dan anak yang sholeh dalam artian berilmu," tutur Imam.

 

Baca juga:

Pertama di Dunia Filantropi Islam, Laznas PPPA Daarul Qur’an Terbitkan Sustainability Report

 

Terkait dengan wakaf, sebelumnnya Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo telah meluncurkan Gerakan Nasional Wakaf Uang (GNWU) pada Januari lalu.  

Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Prof M Nuh menegaskan bahwa wakaf uang yang saat ini digaungkan oleh pemerintah untuk dibudayakan di masyarakat tidak akan masuk ke kas APBN. Hal itu menampik polemik yang menyebut bahwa wakaf uang tersebut akan digunakan untuk kepentingan pembangunan infrastruktur.

“Uang wakaf itu atau wakaf uang itu tidak masuk sepeserpun ke dalam kas Negara. Jadi nggak bener kalau wakaf uang itu terus duitnya dipakai oleh Kementerian Keuangan untuk membiayai APBN,” tegas Nuh.

Hal ini karena mekanisme wakaf dalam agama Islam sudah jelas harus diserahkan ke Nazir (pengelola). Dan ketika seseorang mau menunaikan wakaf uang, yang bersangkutan tidak menyerahkan uangnya ke Kementerian Keuangan namun harus diserahkan ke nazir tersebut.

Prof Nuh pun menjelaskan bahwa dalam Islam ada istilah Islamic Social Fund yang di dalamnya ada zakat, infak, dan sedekah (ZIS) termasuk juga wakaf. ZIS jelas Prof Nuh, dipergunakan untuk biaya operasional umat dan akan habis setiap tahunnya.

Namun wakaf tidak bisa habis. Wakaf, seperti wakaf uang digunakan untuk kemaslahatan dan kebaikan.

“Induknya, modalnya ini harus tetap bertahan, dikelola sehingga hasilnyalah yang bisa dipakai untuk kemanfaatan,” sambungnya sembari mengingatkan tentang fatwa Fatwa No. 2 Tahun 2002 tentang Wakaf Uang yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Baik ZIS maupun wakaf lanjutnya, adalah elemen yang penting dan jika dipersatukan maka menurutnya akan bisa mengatasi persoalan kesejahteraan termasuk kemiskinan, pendidikan, kesehatan dan sejenisnya di Indonesia. Hal ini didasarkan potensi wakaf di Indonesia yang menurutnya sangat dahsyat dan luar biasa mencapai 2.000 triliun. (jms/daqu/NUOnline)

 

Baca juga:

Gerakan Wakaf Nasional: Harapan atau kekhawatiran


Back to Top