Ini Tantangan Besar Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah 2021

gomuslim.co.id – Pelaku industri dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Tanah Air mempunyai sejumlah tantangan dan pekerjaan rumah (PR) besar di masa depan. Tantangan tersebut perlu segera ditangani untuk mengimbangi pertumbuhan positif ekonomi dan keuangan syariah, terlebih ketika ekonomi merosot akibat pandemi COVID-19.  

Demikian disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso dalam Webinar Sharia Economic Outlook 2021 di Jakarta, Selasa (19/1/2021). “Tantangan ke depan akan lebih berat dan ini semua sejalan dengan ekonomi kita,” ujar dia.

Wimboh menjelaskan, PR tersebut di antaranya meningkatkan pangsa pasar ekonomi dan keuangan syariah yang masih rendah di Indonesia. Dari segi aset, proporsi total aset keuangan syariah baru mencapai 9,9 persen sedangkan sisanya keuangan konvensional.

Hingga 2020, total aset ekonomi dan keuangan syariah mencapai Rp1.770,32 triliun atau tumbuh 21,48 persen. Literasi dan inklusi keuangan syariah masih terbilang rendah yang masing-masing mencapai 8,9 persen dan 9,1 persen.

Tak hanya itu, industri ekonomi dan keuangan syariah perlu memperkaya model bisnis dan produk syariah.

“Kita sudah mencoba produk pasar modal berbasis syariah security crowd funding yang syariah sudah kami bangun sehingga ini variasi lebih banyak produk syariah. Produk ritel banyak yang harus mewarnai,” katanya.

Tantangan selanjutnya, lanjut dia, adaptasi teknologi sebagai basis utama menjadi game changer khususnya pada masa pandemi. Kemudian, pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang menyesuaikan dengan tren saat ini teknologi dan milenial.

Seluruh tantangan tersebut sudah masuk dalam Master Plan Sektor Jasa Keuangan Indonesia 2021-2025 yang salah satunya juga memuat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

 

Baca juga:

Ekonom Syariah IPB: Potensi Ekonomi Halal di Indonesia Belum Tereksplorasi

 

Pada kesempatan tersebut, Wimboh juga memaparkan sejumlah kiat yang dinilai dapat mendongkrak pangsa pasar ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia, meski ada pandemi COVID-19.

Menurutnya, saingan di sektor ini bukan lagi domestik maupun konvensional, tapi produk syariah luar negeri, dari global dan regional. Dengan demikian, tolok ukur saat ini bukan dari dalam negeri lagi sehingga ekonomi dan keuangan syariah Indonesia harus memiliki pemain tangguh baik di dalam dan luar negeri.

“Untuk menjadi pemain tangguh, aksesnya harus diperluas, infrastruktur permodalan dan sumber daya manusia (SDM) juga harus diperkuat,” paparnya.

Kemudian, harga produk juga harus kompetitif hingga teknologi yang menjadi tulang punggung dapat diandalkan.

Selanjutnya, ekonomi dan keuangan syariah Indonesia harus fokus kepada ritel dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Fokus bisnis ritel dan UMKM dilakukan karena banyak dibutuhkan masyarakat sekaligus mencermati pengalaman sebelumnya yakni perbankan syariah mengalami banyak masalah di kredit komersial.

“Dengan beberapa poin itu, kalau kira review perbankan syariah kita ada siap tidak? Kami tidak yakin ada, berarti harus ada satu kebijakan yang extraordinary,” imbuhnya.

OJK, lanjut dia, menyambut baik penggabungan tiga bank syariah yang merupakan anak perusahaan tiga bank BUMN menjadi Bank Syariah Indonesia.

Merger itu diharapkan menjadi pembangkit baik dari sisi produk, inovasi, akses masyarakat dan SDM dan menjadi role model tidak hanya di Indonesia tapi juga tataran regional dan global. (jms/Antara)

 

Baca juga:

CEO ALAMI: Keuangan Syariah Punya Daya Tahan Baik dalam Kondisi Sulit


Back to Top