Bank Sentral Saudi dan UEA Kembangkan Mata Uang Digital

gomuslim.co.id – Bank Sentral Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan rencana untuk bersama-sama mengembangkan mata uang digital baru.

Dilansir dari publikasi Arab News, Selasa (1/12/2020), dalam pernyataan bersama, Bank Sentral Uni Emirat Arab (CBUAE) dan Bank Sentral Saudi (SAMA) meluncurkan proyek 'Aber' yang berupaya mengevaluasi kelayakan penerbitan mata uang digital untuk digunakan antara kedua bank sentral.

Tujuannya adalah untuk mengembangkan sistem pembayaran lintas batas yang akan mengurangi waktu dan biaya transfer antar bank di kedua negara Teluk tersebut.

Bank tersebut pun berencana untuk mengembangkan teknologi seperti buku besar terdistribusi yang dapat digunakan untuk mengelola mata uang digital antara dua bank sentral dan bank yang berpartisipasi dalam inisiatif di Arab Saudi dan UEA.

 

Baca juga:

Arab Saudi Akan Berikan Vaksin COVID-19 Gratis untuk Warganya

 

SAMA dan CBUAE pun mengungkapkan kepuasan mereka dengan hasil yang dicapai, visi yang dibagikan, dan pelajaran berharga yang dipetik. Sedangkan sejauh ini hal itu menjadi bagian dari proyek 'Aber'.

Semenara itu, Dewan Menteri sendiri telah menyetujui undang-undang baru yang mencakup perubahan nama Otoritas Moneter Arab Saudi (SAMA) menjadi Bank Sentral Saudi.

Di bawah undang-undang tersebut, Bank Sentral Saudi yang baru akan dihubungkan langsung dengan raja dan akan menikmati kemerdekaan finansial dan manajerial penuh.

Undang-Undang Bank Sentral Saudi menetapkan tiga tujuan inti dari lembaga baru tersebut yaitu, untuk menjaga stabilitas kas, meningkatkan kepercayaan dan kepercayaan di sektor keuangan, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Undang-undang baru menyatakan bahwa bank sentral bertanggung jawab untuk menetapkan dan mengelola kebijakan moneter dan menguraikan hubungan antara bank, pemerintah, dan organisasi serta badan penting internasional lainnya. Ini juga menetapkan kerangka kerja untuk mengatur operasi dan keputusan bank.

Pakar Ekonomi dan anggota Dewan Shoura, Fadhel Al-Buainain mengatakan salah satu aspek penting dari Undang-Undang Bank Sentral Saudi adalah bahwa hal itu terkait langsung dengan raja.

“Ini meningkatkan kemandirian penuh sehubungan dengan penetapan kebijakan moneter dan hubungan bank dengan pemerintah dan organisasi global,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Undang-undang menyatakan bahwa singkatan SAMA, yang didirikan pada tahun 1952, tidak akan berubah karena kepentingan historisnya di dalam negeri dan internasional. Sementara akronim SAMA akan tetap ada.

"Fakta bahwa bank tidak akan mengubah singkatan SAMA itu penting dan mencerminkan keputusan yang bijak karena singkatan itu dikenal luas," tegasnya.

Seorang Konsultan Ekonomi, Hassan Alwatban menguraikan perbedaan antara otoritas moneter dan bank sentral. Agar bank sentral dapat menjalankan tugasnya dengan baik, menurutnya perlu sepenuhnya independen dalam pengambilan keputusan, terutama keputusan terkait pengelolaan dana negara.

Perbedaan lainnya adalah bahwa presiden bank sentral tidak akan berada di bawah kewenangan negara dan pencalonan mereka akan dilakukan oleh otoritas legislatif. Pemerintah atau negara bagian tidak dapat menunjuk atau mencopot presiden kecuali oleh otoritas kehakiman tertinggi.

Ketiga, tambahnya, instansi pemerintah tidak dapat mencampuri urusan bank karena bank menikmati kekuasaan moneter penuh.

“Oleh karena itu, mengubah otoritas moneter menjadi bank sentral adalah sehat bagi perekonomian nasional. Tugas Kementerian Keuangan yang bertanggung jawab atas kebijakan keuangan akan dipisahkan dari tugas bank sentral yang bertanggung jawab dalam menetapkan kebijakan moneter. Sebelum perubahan, tugas Kementerian Keuangan dan SAMA tumpang tindih,” papar Alwatban.

“Selain itu, Kementerian Keuangan bertanggung jawab atas kebijakan keuangan dan kebijakan moneter, fakta yang membuat SAMA lebih fokus melayani kepentingan bank daripada melayani kepentingan masyarakat,” pungkasnya. (mga/ArabNews)

 

Baca juga:

Arab Saudi Utamakan Perlindungan Kehidupan dan Ekonomi


Back to Top