Majlis Nurul Qolbi, Tempat Belajar Alquran para Tunanetra di Kuningan

gomuslim.co.id - Majelis Nurul Qolbi di Kuningan membuka kelas khusus Tahsin dan Tahfidz bagi penyandang difabel tunanetra.

"Sekarang jumlah peserta Nurul Qolbi ada 100 orang yang tersebar di Desa Cilimus, Desa Bandorasa, Desa Timbang dan Desa Cipicung. Mereka aktif dalam tahfidz dan tahsin," ungkap Uu Tanuwarsa (61), Ketua Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Cabang Kuningan, Kamis (19/11/2020).

 

Baca juga:

Remaja Tuna Netra Asal Mesir Ini Hafal Alquran dalam Tiga Bulan

 

Uu mengapresiasi pengurus Rumah Sahabat Quran yang telah menyediakan tempat untuk para penyandang tunanetra, dalam melangsungkan belajar membaca dan menghafal Alquran.

"Selain mereka belajar ngaji, kami berharap pada pemerintah memberikan peluang  pelatihan keterampilan, karena ada beberapa penyandang ada yang belum memiliki keahlian dan harus memenuhi kebutuhan hajat hidupnya," katanya. 

Dia mengatakan,  KBM kitab suci Alquran ini sudah berjalan selama empat tahun. "Pengajian rutin tahsin dan tahfidz, sepekan sekali, kemudian untuk kitab sucinya pun itu berbeda dengan pada bentuk dan hirup, disini kami gunakan Quran dengan huruf bralle," katanya. 

Di lokasi, lantunan ayat suci begitu terdengar merdu dari para santri penyandang disabilitas tunanetra di Rumah Sahabat Alquran Jalan Otista 126 tak jauh dari SMPN 2 Kuningan. 

"Ya kami sebagai pemilik rumah sahabat Quran sangat bersyukur ada santri dari penyandang disabilitas tunanetra yang kini telah hafal Alquran 30 Juz," ungkap Harun. 

Ke depan ada tahfidz dan tahsin khusus yang membina generasi qur'ani para penyandang disabilitas tunanetra. "Selama pandemi COVID-19, pengajian sempat terhenti, akibat penerapan protokol kesehatan, Alhamdulillah sekarang bisa kembali mengadakan pengajian,"ujarnya.

Mengenai akomodasi bagi peserta didik tunanetra ini, H Harun menjawab bahwa selama ini mendapat sumbangan dari para donatur.

 

Baca juga:

Pasangan Tunanetra Asal Amerika Ini Rilis Alquran Braille

 

"Berterima kasih kepada simpatisan yang telah membantu, ada yang ngasih snack, ngasih nasi kotak dan transportasi para santri, karena santri di sini rumahnya juga jauh - jauh," katanya.

Sementara itu, salah seorang penyandang disabilitas dari Ikatan Muslim Tunanetra Kuningan, Eman Sulaeman mengatakan dengan adanya tahsin dan tahfidz selain bisa memperkuat ukhuwah dan menambah hapalan. 

"Saya merasa terbantu, dengan adanya pengajian seperti ini, apalagi saat pandemi COVID-19, pemasukan untuk memijat berkurang," kata Eman yang dikenal tukang pijat ini. 

Eman pun berharap kepada pemkab Kuningan, bisa memberikan program pemberdayaan untuk tunanetra. "Jadi tidak hanya memberikan ikan, berikan juga kailnya, misalnya wirausaha seperti pembuatan telur asin,parfum atau apalah," ujarnya.

Eman mengungkapkan hingga saat ini ada lebih dari seratus orang yang tergabung dalam IMTK, mulai dari anak-anak hingga dewasa, namun tidak semuanya bisa membaca Alquran braile. "Belum semua santri bisa membaca alquran braile, dan untuk menghapal kebanyakan dari Hape dan alquran digital," kata Eman lagi. (Mr/Tribun)


Back to Top