Jaga Pasar Domestik, Impor Produk Halal Perlu Dikendalikan

gomuslim.co.id - Pengendalian impor terhadap produk-produk halal dinilai penting dalam rangka menjaga pasar domestik. Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Didi Sumedi dalam diskusi daring di Jakarta, Sabtu (24/10/2020).

Menurutnya, 87 persen dari populasi Indonesia adalah Muslim. Hal ini menjadi pasar yang perlu dijaga dan dimanfaatkan supaya tidak diambil oleh negara lain. Karena itu, kata dia, penting untuk melakukan pengendalian impor terhadap produk-produk meskipun itu halal.

Ia menyebut standar aturan yang tinggi terhadap produk halal impor dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga pasar halal domestik.

"Ini sangat penting, kehalalan itu tidak hanya pada konten produk, tapi dilihat dari mulai proses awal, proses produksi, output sampai pada distribusi. Ini perlu menjadi sebuah standar yang kita berlakukan di dalam negeri untuk bisa menahan laju impor barang-barang dari luar negeri yang menyerbu pasar kita," paparnya.

Didi memaparkan, saat ini Brazil dan Malaysia menjadi salah satu negara terbesar pengekspor untuk produk halal.

Kemendag, kata dia, juga terus mendorong produk halal ke negara yang tidak tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

"Ada beberapa strategi yang kami lakukan di Kemendag, tidak hanya ke negara yang mayoritas Muslim atau OKI, tapi kami juga mencoba beberapa negara yang sebetulnya sudah mulai meningkat kesadarannya untuk produk-produk halal seperti Taiwan," ujar Didi. Menurut dia, kesadaran pemerintah Taiwan terhadap produk halal mulai meningkat. Salah satu tujuannya yakni untuk menarik wisatawan.

"Negara itu adalah salah satu potensi yang sedang kami coba untuk dieksplorasi pasarnya. Karena apa? Mereka perlu menarik wisatawan dari negara Muslim," ucapnya.

Selain produk halal, menurut dia, Taiwan juga membutuhkan sistem sertifikasi untuk produk halal.

"Saat ini sudah terjalin kerja sama dengan MUI untuk sertifikasi produk-produk halal di Taiwan sehingga ini satu peluang besar untuk kita mengisi pasar Taiwan," ujarnya.

 

Baca juga:

Pemerintah Siap Dukung UMKM Sediakan Produk Halal

 

Selain itu, lanjut Didi, sejumlah negara Eurasia atau pecahan Uni Soviet juga penting untuk dieksplorasi mengenai pasar halalnya.

"Negara-negara Eurasia berpenduduk Muslim sehingga ini adalah peluang pasar yang perlu kita isi juga," ucapnya.

Ia menambahkan, negara-negara di kawasan Afrika juga tentunya mempunyai potensi pasar halal yang cukup baik. "Kami juga sedang mencoba meningkatkan akses pasar ke arah sana," katanya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani mengatakan Indonesia dapat meningkatkan ekspor produk halal ke negara yang tidak masuk dalam OKI karena memiliki jumlah penduduk Muslim cukup besar dan permintaan mereka terhadap barang dan jasa terus meningkat. "Kita juga bisa meningkatkan dan memenetrasikan ke negara non-OKI," ujarnya.

Terlebih lagi, Sri Mulyani menuturkan total pengeluaran penduduk Muslim di dunia yang berjumlah 1,8 miliar orang atau 24 persen dari total penduduk di dunia terhadap produk halal diperkirakan sebesar 2,2 triliun dolar AS.

Pengeluaran 1,8 miliar orang Muslim di dunia itu meliputi seluruh bidang mulai dari makanan, obat-obatan, lifestyle dan berbagai hal lain yang dipengaruhi oleh kebutuhan serta etika nilai ajaran Islam. "Pengeluaran ini juga memiliki pertumbuhan yang cukup besar sebesar 5,2 persen," pungkasnya. (Antara)

 

Baca juga:

IHW: Hasil Merger Bank Syariah Harus Sinergi dengan Industri Halal

 


Back to Top