Badan Wakaf Indonesia Resmikan Retina Center Bersama Dhompet Dhuafa

gomuslim.co.id - Bekerja sama dengan Dompet Dhuafa Pada tahun 2017, Badan Wakaf Indonesia (BWI) membangun Rumah Sakit Mata Achmad Wardi yang merupakan Rumah Sakit Mata pertama yang dibangun dan dikembangkan berbasis Wakaf.

Dalam meningkatkan pelayanan kesehatan mata masyarakatrumah Sakit (RS) Mata Achmad Wardi Dompet Dhuafa Center meresmikan pelayanan Retina dan Glaukoma Center yang bertempat di RS. Mata Achmad Wardi, Serang, Banten, (Kamis, 22/10/2020).

Tahun 2020 Badan Wakaf Indonesia melakukan penghimpunan dana wakaf dengan nilai donasi yang terhimpun adalah Rp 50,849,000,000,-(Lima puluh milyar delapan ratus empat puluh sembilan juta rupiah). Dana tersebut dibelikan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebagai Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) dengan diskonto dan Imbal hasilnya digunakan untuk membiayai Pembangunan Retina Center Rumah Sakit Mata Achmad Wardi.

 

Baca juga:

Kemenag Buka Kelas Intensif Literasi Zakat dan Wakaf Bagi Nazhir dan PPAIW

 

Untuk mengakselerasi Pembangunan Retina Center, Rumah Sakit Mata Achmad Wardi juga mendapat dukungan Pembiayaan dari BNI Syariah dengan nilai Pembiayaan Rp. 8,8 Miliar dengan sumber pembayaran dari kupon CWLS. Kombinasi investasi dana wakaf di CWLS dan Pembiayaan Perbankan Syariah menjadi terobosan untuk mengembangkan aset wakaf produktif sehingga diharapkan dapat direplikasi untuk pembangunan rumah sakit mata berbasis wakaf di daerah lain.

Pengoperasian Rumah Sakit Mata Achmad Wardi beserta fasilitas Katarak, Retina dan Glukoma Center  menjadi tonggak sejarah Ekosistem Wakaf yang Paripurna, dimana menggabungkan pengelolaan harta benda wakaf bergerak dan tidak bergerak, penghimpunan wakaf uang bertagline “WAKAF ANDA UTUH DAN DAPAT DIMILIKI KEMBALI, dimana hasil penghimpunan diinvestasikan pada sukuk Wakaf, diskonto serta kuponnya digunakan untuk penambahan fasilitas layanan Retina Centre di Rumah Sakit Mata Achmad Wardi melalui skema pembiayaan Syariah dari LKS PWU.

 

Baca juga:

Wapres Dorong BWI Lakukan Diversifikasi Harta Wakaf

 

Peresmian Retina dan Glaukome Center Rumah Sakit Mata Achmad Wardi dilakukan secara daring oleh Wakil Presiden Repoublik Indonesia, Bapak Dr. K.H. Ma’ruf Amin. Acara peresmian dilakukan secara virtual (on-line) maupun kehadiran secara langsung (offline) di Rumah Sakit Mata Achmad Wardi dengan tetap memperhatikan protocol COVID-19. 

Hadir secara langsung Ketua Badan Pelaksana Badan Wakaf Indonesia Prof. Dr. H. Mohammad NUH, DEA, Gubernur Banten Dr. Drs. H. Wahidin Halim, M.Si dan Walikota Serang H.Syafrudin, S.Sos, M.Si, Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Nasyith Majidi, Penasehat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Prof Dr. dr. Nila Moeloek, SpM (K). Sementara hadir secara online yaitu Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati, S.E, M.Sc.,Ph.D, Menteri Agama RI Fachrul Razi, S.I.P.,S.H.,M.H, Ketua Badan Pelaksana BPKH Dr. Anggito Abimanyu, M.Sc.

Pada acara tersebut juga dilakukan Penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama Antara Badan Wakaf Indonesia dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provisni Jawa Barat dalam hal Pendirian Rumah Sakit Mata Berbasis Wakaf di Provinsi Jawa Barat. Kerjasama sama ini merupakan sinegi pertama kalinya dalam hal pengelolaan Wakaf dan Zakat untuk aset wakaf produktif. 

Dalam acara tersebut juga dilakukan penandatanganan MoU dengan UNDP Indonesia untuk Pembangunan Yang Berkelanjutan. Badan Wakaf Indonesia juga menerima Komitmen penghimpunan wakaf uang dari Yayasan Wakaf Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makasar. Rumah Sakit Mata Achmad Wardi juga menerima bantuan senilai Rp 1 M, untuk Operasi Vitrektomi dan Glukoma Bagi Dhuafa yang diserahkan Ketua Yayasan Dompet Duafa Republika, Nasyith Majidi.

Kinerja Rumah Sakit Mata Achmad Wardi dinilai sangat baik. Dalam kurun waktu 2 tahun beroperasi, pada akhir tahun 2019 telah berhasil membukukan laba bersih senilai Rp. 3,3 Milyar. Kesuksesan dalam mengoperasikan Rumah Sakit Mata Achmad Wardi menginspirasi untuk mendirikan fasilitas kesehatan mata berbasis wakaf di seluruh Indonesia. 

Berdasarkan data gangguan indera penglihatan di Indonesia yang bersumber dari Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) tahun 2014-2016, menunjukkan prevalensi kebutaan terjadi pada penduduk yang berusia 50 tahun ke atas adalah sebesar 3,0% atau berjumlah sekitar 7,8 juta penduduk Indonesia. Angka Prevalensi ini jauh di atas standar kebutaan menurut WHO sebesar 0,5%. Atas dasar inilah maka pembangunan fasilitas kesehatan mata berbasis wakaf sangat dibutuhkan agar Indonesia terhindar dari tsunami katarak dan kebutaan mata. (Mr/BWI).


Back to Top