Suara Muslim Berpengaruh Pada Pemilihan Presiden AS Periode Berikutnya

gomuslim.co.id - Salah seorang warga Amerika Serikat (AS), Fatima Salman (43 tahun) yang merupakan Muslim Amerika dari Detroit, Michigan mengatakan dirinya pasti memilih Joe Biden dibanding Donald Trump. Calon dari Partai Demokrat ini dinilainya lebih baik keberpihakannya kepada umat Islam Amerika.

Dilansir dari publikasi Aljazeera, Kamis (15/10/2020), suara Salman dan Muslim AS lainnya bisa menjadi faktor penting dalam menentukan pemenang pemilihan presiden Amerika Serikat 3 November mendatang. Data menyebutkan ada sekitar 3,45 juta Muslim di AS, meskipun hanya sekitar satu persen dari total populasi negara itu.

“Saya memiliki tiga anak dan saya khawatir tentang masa depan mereka jika Trump terpilih kembali. Ini masalah eksistensi kita sendiri dan masa depan negara ini secara keseluruhan," ujar Salman,

Namun, konsentrasi mereka terdapat di negara bagian penting dalam pertarungan pemilu. Di negara-negara bagian seperti Michigan, Florida, Wisconsin, dan Pennsylvania suara umat Islam sangat berpengaruh.

 

Baca juga:

Pasca Intimidasi Kulit Hitam, Muslim AS Gelar Diskusi Kesetaraan RAS

 

"Taruhannya sangat tinggi di Michigan, negara bagian dengan 270 ribu pemilih Muslim terdaftar. Hillary Clinton, pada 2016, kalah dari Trump dengan kurang dari satu poin persentase - sedikit di atas 10 ribu suara," kata Direktur Pelaksana Emgage Mohamed Gula. 

Emgage adalah sebuah kelompok advokasi Muslim AS. “Ketika berbicara tentang nilai suara Muslim, kami dapat dengan mudah mengubah pemilihan,” kata Gula.

Kecenderungan Muslim memilih calon yang memperhatikan perawatan kesehatan, pendidikan, dan reformasi peradilan pidana.  “Tentunya, kami akan mendengar masalah kebijakan luar negeri dipusatkan. Tetapi banyak masalah yang kami dengar hari ini, mengenai apa yang benar-benar berdampak pada komunitas Muslim adalah beberapa masalah yang sama yang juga terkena dampak pada rata-rata orang Amerika," ujarnya.

Donald Trump memang lebih condong dicitrakan sebagai sosok yang tidak memihak kepada umat Islam. Hal ini ditunjukkan dengan mengeluarkan aturan yang melarang warga dari beberapa negara mayoritas Muslim memasuki AS tidak lama setelah menjabat pada 2017.

Trump juga menyudutkan Muslim dalam serangkaian komentar dan tweet yang meremehkan yang mengecam Islam radikal dan membuat daftar negara-negara Muslim berbahaya. (hmz/aljazirah/dbs/rep)

 

Baca juga:

Muslim di AS Berkembang Lebih Cepat dari Warga Yahudi


Back to Top