Rencana Arab Saudi Jelang Pembukaan Umrah

gomuslim.co.id - Kerajaan Arab Saudi bersiap membuka kembali layanan umrah di Tanah Suci. Penyelenggaraan umrah di masa pandemi COVID-19 rencananya akan menggunakan standar seperti pelaksanaan ibadah haji pada Agustus lalu.

Menteri Haji dan Umrah Saudi, Dr. Mohammed Saleh Benten mengatakan pihaknya selalu ada untuk membantu para jemaah. Dia juga membantah rumor terkait adanya biaya untuk memesan slot waktu.

Benten mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan jemaah, setiap langkah dilakukan secara komputerisasi menggunakan AI. Kementerian Haji dan Umrah telah meluncurkan aplikasi umrah baru, I’tamarna, Ahad (28/9/2020).

Aplikasi tersebut akan membantu memenuhi standar kesehatan di tengah pandemi COVID-19, sehingga memudahkan jemaah dalam memesan slot umrah asalkan diizinkan oleh pihak berwenang.

Pengguna yang mengunduh aplikasi juga wajib memastikan bahwa mereka terdaftar di aplikasi Tawakkalna, Kementerian Kesehatan untuk memeriksa status kesehatan pengguna dan kelayakan untuk melakukan ibadah umrah.

Dalam sebuah wawancara dengan program Al-Rased TV Nasional Saudi, Benten mengumumkan bahwa fase pertama akan memungkinkan 6.000 jemaah setiap hari dan akan dibagi menjadi 12 kelompok selama 24 jam.

“Sambil mempertahankan langkah-langkah jarak sosial dengan bantuan pihak berwenang untuk memastikan jemaah menerima perawatan seperti jemaah haji. Itu akan lebih akurat, lebih tepat dengan lebih banyak tindakan pencegahan di tempat," ujar Benten seperti dilansir dari publikasi Arab News, Senin (28/9/2020).

Kementerian juga menetapkan kelompok usia antara 18-65 tahun bagi yang mampu. Mereka yang tidak bisa berjalan, akan disiapkan kursi roda untuk membantu ketika melakukan tawaf dan sa’i. Namun, aliran jemaah ketika tawaf akan konsisten dengan kecepatan dan aliran yang sama.

 

Baca juga:

Kemenkes Saudi Akan Putuskan Negara Mana yang Dapat Izin Umrah

 

“Kami memiliki rencana implementasi yang akurat untuk memfasilitasi arus jemaah dari tanggal 17 Safar (4 Oktober) untuk melakukan ibadah umrah,” kata Benten.

Jemaah akan memiliki jangka waktu tertentu untuk melakukan ibadah. Jemaah dari luar Makkah, yang memesan hotel dan tempat tinggal, akan diminta untuk bertemu di check point 15 menit sebelum jadwal keberangkatan ke Masjidil Haram.

Mereka akan bertemu dengan pemandu dan spesialis kesehatan untuk melakukan ibadah di periode waktu yang sangat spesifik dalam slot waktu yang mereka pesan. 

Anak-anak akan diizinkan untuk menemani orang tua mereka selama mereka ditambahkan ke aplikasi Tawakkalna di bawah tanggungan pengguna. Pengguna juga dapat menambah tanggungan untuk menemani mereka menunaikan umrah.

Mobil tidak akan diizinkan parkir di dalam zona pusat di sekitar Masjidil Haram kecuali bagi mereka yang tinggal di area tersebut. Jemaah yang datang dengan mobil tanpa pemesanan hotel dapat menemani kelompok yang ditentukan ke slot waktu pilihan dengan menemui mereka di pos pemeriksaan dan diangkut dengan bus.

Peziarah yang datang dari luar negeri akan diizinkan memasuki Kerajaan pada tahap ketiga dari rencana tersebut. Kementerian Kesehatan menentukan kewarganegaraan mana yang akan diizinkan di Kerajaan.

“Jemaah yang datang dari luar negeri akan mendapat perlakuan yang sama dengan warga Arab Saudi. Mereka dapat memesan slot waktu dengan baik dan akan diurus mulai dari kedatangan hingga keberangkatan,” paparnya.

Khairallah Al-Zahrani, seorang guru sekolah, mengatakan keputusan melanjutkan umrah secara bertahap adalah keputusan bijak. Ini memenuhi tuntutan jemaah dengan menerapkan langkah-langkah kesehatan untuk umrah yang aman.

Dia mengatakan bahwa pencabutan larangan umrah secara bertahap mencerminkan keselamatan pengunjung ke situs suci yang menjadi prioritas utama Kerajaan.

“Ini mencerminkan ketajaman Arab Saudi dalam mengendalikan virus corona sampai vaksin diproduksi,” kata Al-Zahrani. (jms/arabnews)

 

Baca juga:

Tahap Pertama, Jemaah Hanya Diberi Waktu 3 Jam untuk Umrah


Back to Top