Ini Masker Bersertifikat Halal Pertama di Dunia

gomuslim.co.id – Konsultan dan pemberi sertifikasi halal di Singapura, United World Halal Development (UNWHD), memperkenalkan masker pertama di dunia yang memperoleh sertifikasi halal. Masker dengan merek ‘Al Noora’ tersebut merupakan produk dari Fujian Haitai Intelligent Technology Co Ltd, China.

Perusahaan mengklaim, masker ‘Al Noora’ merupakan produk yang etis, ramah manusia dan ramah lingkungan. Produk ini disebut-sebut mengikuti kepatuhan ‘pedoman Standar Halal SMIIC’ karena mengandung bahan-bahan yang dibolehkan dan halal digunakan Muslim.

"Masker Al Noora nyaman, tidak memiliki efek pada kulit dan dapat terurai secara hayati dengan standar kualitas internasional terbaik. Kami menyatakan bahwa masker Al Noora harus memenuhi persyaratan halal," demikian pernyataan tertulis UNWHD, pekan lalu.

UNWHD telah mengidentifikasi masker ini aman sehingga penggunanya mudah bernafas. Produk ini juga tidak mengandung bahan kimia berbahaya. Kualitas masker diidentifikasi berdasarkan verifikasi dan pengujian bahan baku dan bahan produk.

UNWHD mengikuti proses pengujian yang ketat untuk mensertifikasi produknya yang sesuai dengan standar halal. "Masker Al Noora telah melalui proses pemeriksaan untuk mendapatkan sertifikasi halal, yang memenuhi syarat untuk digunakan oleh perorangan," kata UNWHD.

Namun demikian, Sekretaris Jenderal SMIIC, Ihsan Ovut mengatakan bahwa masker Al Noora tidak didasarkan pada standar apa pun dari Standards and Metrology Institute for Islamic Countries (SMIIC), terlepas dari apa yang diklaim perusahaan.

 

Baca juga:

COVID-19 Ubah Sikap Warga Inggris terhadap Muslimah Berniqab

 

Ihsan Ovut menyebut, badan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) tidak memiliki standar yang relevan terkait produk ini.

“SMIIC memiliki standar tentang masalah halal. Tapi saat ini, kami tidak memiliki standar yang menetapkan persyaratan masker untuk menjadi halal,” kata Ihsan Ovut seperti dilansir dari publikasi Salaam Gateway, Selasa (22/9/2020).

Menanggapi hal tersebut, perusahaan mengatakan telah melakukan kesalahan dengan sertifikat kepatuhan halal. "Ada kesalahan ketik dalam sertifikasi oleh tim backend kami dan yang diperbaiki," kata United World Halal Development.

Sertifikat halal yang direvisi tidak mengacu pada standar halal dari badan pengaturan standar mana pun. Tetapi masker non-medis mengandung bahan yang diizinkan. Karena itu halal untuk penggunaan Muslim.

“Merupakan hal yang baik untuk menentukan persyaratan produk yang bersentuhan dengan kulit manusia tidak hanya menurut aturan Islam tetapi juga persyaratan kesehatan dan kebersihan,” ujar Ihsan Ovut.

“Ada standar internasional dan nasional yang diterbitkan untuk persyaratan masker dan interpretasi sesuai dengan aturan Islam bisa dilakukan. Tapi harus diingat bahwa masker itu untuk pemakaian luar dan bisa diperlakukan sebagai produk tekstil bukan makanan,” sambung dia.

Ia menegaskan, sertifikasi harus berdasarkan standar. Sertifikasi halal suatu produk, layanan atau sistem harus didasarkan pada standar yang disiapkan oleh pemangku kepentingan terkait dan dengan konsensus mereka juga.

“Karena dalam standar persyaratan ditentukan menurut pandangan teknis dan agama. Namun kebanyakan terlihat di lembaga Sertifikasi Halal yang kurang memiliki standar, mereka mengikuti skema sertifikasi yang mereka buat sesuai dengan aturan Islam dengan interpretasi atau pemahamannya; ini bukan metode yang andal dan profesional,” tutupnya. (jms/ummid/salaamgateway/dbs)

 

Baca juga:

Lawan Islamofobia, OKI dan Liga Muslim Tandatangani Nota Kesepatakan


Back to Top