Ini Penjelasan Aa Gym tentang Hukum Prank dalam Islam

gomuslim.co.id – Fenomena prank kini menjadi hal yang semakin liar di zaman serba internet. Konten prank atau tindakan jahil yang berupa jebakan sudah banyak diminati oleh para YouTuber.

Bukan tanpa alasan, prank menjadi salah satu konten favorit yang akhirnya diimitasi oleh penontonnya. Prank merupakan kegiatan menjahili seseorang yang bisa dibilang kurang masuk diakal karena mengandung olok-olok, menipu, atau membohongi seseorang.

Prank termasuk dalam komedi gelap. Ini artinya, candaan tersebut mengandung hal-hal yang dianggap negatif. Candaan ini sering mengundang kontroversi.

Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) turut mengomentari fenomena prank ini. Aa Gym menjelaskan bahwa prank adalah perbuatan yang buruk dan dapat menimbulkan dosa. Ia mengungkapkan, prank termasuk dusta atau kebohongan, dan dilarang dalam ajaran Islam.

Dirinya pun memberikan contoh kasus prank pemberian sembako berisi sampah. Ini dinilai sebagai suatu hal yang sangat buruk karena telah berdusta.

"Ini adalah perbuatan dusta. Dalam Islam hukumnya seperti ini haram. Segala sesuatu kebohongan, apalagi membuat orang lain merasa tersakiti, terpermalukan," kata Aa Gym, dikutip dari akun YouTube Aa Gym Daily Vlog, Rabu (26/8/2020).

Dalam Islam, segala sesuatu yang merugikan orang lain adalah keburukan. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Bukhari, yang artinya, "Seorang Muslim (yang baik) adalah yang kaum Muslimin selamat dari keburukan lisan dan tangannya." (HR Bukhari)

Aa Gym menekankan untuk tidak melakukan perbuatan haram tersebut karena sudah nyata bahwa prank adalah perbuatan yang sangat tercela.

Kisah lainnya seperti penerapan prank dari anak kepada orangtua. Hal ini lebih berlipat ganda tercelanya, karena selain berdusta, pelakunya juga telah membuat orangtuanya cemas, khawatir atau takut dan secara tak langsung menyakiti orangtuanya. Hal ini telah masuk dalam kedurhakaan kepada orangtua.

 

Baca juga:

Aa Gym Bagikan Tiga Tips Kuasai Kelembutan Hati

 

Aksi menipu atau menjahili dengan tujuan bercanda pernah terjadi di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang saat itu pernah ada seorang sahabat yang tertidur di sebuah perjalanan. Ia diangkat oleh sahabat lainnya dan dipindahkan ke atas bukit, ketika dibangunkan orang tersebut kaget hingga membuat para sahabat lainnya tertawa terbahak-bahak.

Meski tahu bahwa aksi jail tersebut tak ada niatan buruk, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang melihatnya pun bersabda, "Tidak halal bagi seorang Muslim menakut-nakuti Muslim yang lain." (HR Abu Dawud)

"Dalam urusan kemanusiaan, itu tujuannya kepada siapa pun. Kita tidak boleh merugikan, menyakiti. Prank yang mengandung unsur dusta ini terlarang. Tidak boleh. Prank lain yang menakut-nakuti, atau yang menyakiti, dengan mempermalukan, membuat tersakiti hati atau fisik atau pikirannya, ini terlarang. Prank yang melibatkan simbol-simbol agama juga tidak boleh," jelas Aa Gym.

Prank dengan kategori tersebut sangat dilarang dalam Islam, karena sangat merugikan korbannya dan berpotensi pada prank yang dilakukan secara berlebihan, hingga menimbulkan tawa yang terbahak-bahak. Perlu diingat, dalam Islam tidak boleh tertawa berlebihan dalam hal apa pun, karena tertawa berlebihan akan mematikan hati.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, "Dan janganlah terlalu banyak tertawa, sesungguhnya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati." (HR Tirmidzi).

Aa Gym mengingatkan, jika melakukan prank, kita akan masuk pada golongan orang zalim karena telah melibatkan lima unsur tercela tersebut. Selain itu, berpengaruh buruk pada diri sendiri di mana akan hilang rasa kepercayaan dari orang lain.

"Padahal dalam Islam, bagaimana kehormatan dan kredibilitas kita terjaga justru dengan kejujuran, tidak pernah menyakiti orang lain, dan betul-betul berusaha keras membahagiakan orang lain sebagai amalan yang utama," tambahnya. (jms/okezone)

 

Baca juga:

Aa Gym: Bukan Hanya Olahraga, Hindari Perdebatan Jika Ingin Hidup Sehat

 

 


Back to Top