Menilik Museum Pribadi Berisi 1.000 Artefak Berusia Ratusan Tahun di Makkah

gomuslim.co.id – Sebuah rumah milik seorang pria bernama Hatem Iraqi di Kota Makkah, Arab Saudi, bukan sekadar tempat tinggal. Lokasi ini menampilkan lebih dari 1.000 artefak budaya dan sejarah, beberapa bahkan sudah berusia lebih dari 800 tahun.

"Saya mewarisi artefak dan barang bersejarah ini dari ayah saya yang berasal dari zaman Umayyah, Abbasiyah, dan Ottoman, mengantarkan peristiwa dan cerita terkenal," ujar Hatem Iraqi seperti dilansir dari publikasi Arab News, Selasa (25/8/2020).

Orang Irak, lanjut dia, mengungkapkan bahwa ayahnya telah mendedikasikan perhatian, tenaga, dan waktu untuk melestarikan benda-benda di kediamannya. Lalu atas kehendak ayahnya, Hatem harus menyimpan dan merawat barang-barang berharga itu.

Peninggalan tersebut termasuk kitab suci Alquran, manuskrip, buku, uang, perkakas, perangko, foto, peta, majalah, pedang, perkakas, furnitur, dekorasi, dan pakaian. Mereka menceritakan kisah Jazirah Arab dari masa-masa awal sampai munculnya dan berkembangnya Arab Saudi modern. Ada juga barang antik dan artefak dari negara lain di seluruh dunia.

Ketertarikan untuk mengoleksi artefak semacam itu dianggap sebagai tantangan, kata Hatem, terutama karena benda-benda tersebut memiliki makna budaya dan warisan yang luar biasa. Itu adalah bukti adanya peristiwa penting pada masa lalu di Makkah dan "permata tak ternilai" yang ayahnya lestarikan seumur hidupnya sebagai bagian dari pengabdiannya pada sejarah dan monumen Makkah.

Ayahnya yang bernama Faisal Iraq sendiri dikenal di Makkah karena mengoleksi artefak bersejarah dan antusiasmenya terhadap warisan kota. Ia bahkan telah menghabiskan lebih dari 50 tahun mengumpulkan harta benda dengan sering bepergian.

Hatem berharap di Arab Saudi ada yang setara dengan Museum Louvre di Kota Paris, Prancis. Itu merupakan museum pribadi yang dapat memamerkan harta bersejarah di bawah satu atap. Kemudian menjadikan Prancis sebagai pusat budaya. Ini juga menjadi cara unik untuk menarik daya tarik di tingkat internasional.

"Patut dicatat, pada tahun 2030, lebih dari 30 juta pengunjung dan jamaah haji akan dapat mengunjungi museum ini dan berkenalan dengan kekayaan warisan budaya negara ini di semua tingkatan, termasuk budaya dan kognitif, dan di tingkat mendefinisikan artefak sejarah yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya," papar Hatem yang mengacu pada salah satu tujuan terpenting dalam rencana reformasi Visi 2030 Kerajaan Arab Saudi untuk memiliki 30 juta jamaah haji.

 

Baca juga:

Jarak 2 Meter, Karpet Salat Masjidil Haram Kembali Dipasang

Ia melanjutkan, museum-museum di Makkah harus dirawat, terutama yang bersifat milik pribadi. Orang harus melihat pariwisata sebagai industri di mana orang Arab Saudi dapat menampilkan visi, tujuan, dan aspirasi mereka.

"Makkah adalah wilayah yang ingin dikunjungi setiap Muslim, karena mereka telah mendengar tentang kota ini dan warisan besarnya di buku-buku referensi utama. Jadi mereka akan datang untuk menjalani pengalaman ini dan memahami pengetahuan ini. Peran kami dalam hal ini adalah untuk memberikan dosis kognitif dan mengatasi visi wisata ini melalui pengaturan museum sesuai dengan kriteria internasional, mendukung mereka, dan menganggapnya sebagai potensi ekonomi yang aktif," jelas Hatem.

Ia menambahkan bahwa orang-orang Makkah, sepanjang sejarah, telah membuktikan memiliki hubungan kuat dengan wisatawan dan jamaah haji. Mereka pun bangga melayani para tamu Allah Subhanahu wa ta'ala.

Pada masa lalu, kenang Hatem, orang-orang Makkah biasa membuka pintu rumahnya untuk menjamu para jamaah haji dan wisatawan selama musim-musim haji dan umrah. Mereka juga biasa berbagi makanan dengan para jamaah meskipun mengalami kesulitan.

"Sekarang saatnya bagi jamaah dan wisatawan untuk mengunjungi rumah-rumah ini sekali lagi dan berkenalan dengan harta benda bersejarah yang mencerminkan sejarah panjang Makkah dalam melayani pengunjung rumah Allah," pungkas Hatem. (mga/ArabNews)

 

Baca juga:

Arab Saudi Tangkap Gubernur dan 298 Pejabat Terkait Kasus Korupsi Pariwisata


Back to Top