Bank Syariah Pertama di Australia Beroperasi Tahun Depan

gomuslim.co.id  - Masyarakat Muslim serta para bankir senior di Australia tengah berupaya untuk memperkenalkan bank syariah di Australia dengan harapan bisa mulai beroperasi tahun depan. Sistem bank syariah tidak mengenal bunga bank, melainkan dengan pengaturan bagi hasil untuk menghasilkan pendapatan.

Dilansir dari publikasi ABC News, Jumat (14/8/2020), para inisiator bank syariah mengungkapkan tujuan mendirikan bank syariah ini untuk memberikan "alternatif etis" terhadap perbankan konvensional.

Jika nantinya beroperasi, bank syariah bakal menambah ragam layanan keuangan yang lebih peka terhadap nilai-nilai agama dan budaya, selain membuka peluang Australia terhadap sektor keuangan global yang bernilai triliunan dolar ini.

 

Baca juga:

Bank Nizwa Oman Sabet Penghargaan Lembaga Keuangan Islam Terbaik di Dunia

 

Para inisiator ini menyatakan nasabah non-Muslim yang ingin mencari alternatif selain "empat besar" bank di Australia bisa mempertimbangkan layanan mereka.

Selama ini warga Muslim di Australia sudah dapat mengakses produk-produk keuangan syariah, namun pasarnya masih terus berkembang.

Muzzammil Dhedhy dari Hejaz Financial Services mengatakan pembentukan bank syariah akan menjadi pencapaian yang signifikan.

"Muslim Australia memiliki pilihan terbatas dalam layanan keuangan syariah yang juga memberikan hasil yang tepat," katanya.

Muzzammil mengatakan para nasabah bukan hanya mencari produk keuangan syariah semata tapi juga yang berkualitas.

"Nasabah Muslim sebenarnya sudah dapat mengakses rekening tabungan tanpa bunga di bank konvensional. Jadi tergantung apakah bank syariah bisa memberikan bagi hasil yang diinginkan selama ini," jelasnya.

Dipimpin bankir senior

Sektor perbankan syariah telah lama diminati sejumlah bankir senior di Australia.

Pendiri sekaligus Dirut ME Bank, Anthony Wamsteker menjabat sebagai ketua IBA Group, sementara posisi direktur dijabat Sultan Choudhury, penerima bintang jasa Officer of the British Empire dalam sektor keuangan Islam.

Posisi Dirut IBA diduduki oleh Dean Gillespie, mantan bankir di Commonwealth Bank, Bankwest dan bank lainnya ritel di berbagai negara.

Menurut Gillespie, kesempatan untuk membangun model baru perbankan di Australia mendorong dirinya untuk terlibat.

"Kesempatan membangun sesuatu dari nol yang akan sangat membantu suatu segmen masyarakat sangat menarik bagi saya," ujarnya.

Dengan calon nasabah yang kini sudah lebih dari 1.000 orang, Dean mengatakan minat selera masyarakat Australia terhadap perbankan syariah sangat nyata.

"Ada pula peluang sebagai layanan baru dalam ekosistem Australia. Nasabah telah begitu lama hanya dilayani oleh bank-bank besar," katanya.

 

Baca juga:

Wapres RI: Penggabungan Bank Syariah BUMN Perkuat Perbankan Nasional

 

Sepuluh tahun lalu, sebuah makalah diskusi tentang keuangan Islam sempat memicu perdebatan politik di Australia.

Ketua Dewan Perpajakan saat itu, Dick Warburton menilai diskusi tersebut lebih bernuansa emosi daripada fakta.

"Jelas ada penolakan dalam masyarakat terhadap apa pun yang berbau Islami saat ini. Tapi kita harus melihatnya secara langsung, bukan pada perasaan emosional," kata Dick saat itu.

Dean sendiri berharap mayoritas warga Australia tak lagi memperdebatkan hal ini.

"Kami berupaya menjadi perbankan etis yang memberikan manfaat. Sebagian orang mungkin menentangnya tapi saya tidak akan membahas hal itu," katanya.

Grup IBA menargetkan untuk mendapatkan izin penuh sebagai lembaga perbankan pada 2021. (Mr/detik/ABCnews)


Back to Top