Kisah Mualaf Karima: Ibuku Merobek Alquran Saat Tahu Aku Masuk Islam

gomuslim.co.id – Seorang mualaf asal Amerika Serikat (AS), Karima (23) membagikan kisah hidupnya hingga memeluk Islam.  

Ia bercerita bahwa dirinya hidup di lingkungan keluarga yang tidak religius. Bahkan, ibunya selalu merendahkan agama yang terorganisir, sedangkan ayahnya adalah seorang ateis tulen.

“Kami tidak pernah pergi ke gereja atau tempat ibadah mana pun saat tumbuh dewasa, tetapi ibu saya selalu mengatakan kepada saya bahwa dia akan menghormati keputusan kami untuk memutuskan sendiri,” ujar Karima seperti dilansir dari publikasi About Islam, Rabu (12/8/2020).

Suatu hari, saat berusia 16 tahun, Karima merasa menemukan ada setitik kepercayaan pada Tuhan. Padahal sebelumnya dia juga merasa sangat agnostik. Namun hari itu, Karima benar-benar percaya pada Sang Pencipta. Dia terus memikirkannya dalam semalam. Pikiran itu terus melekat pada dirinya sejak saat itu.

Perkenalan pada Islam dimulai di sekolah menengah ketika dia mendapat tugas kelompok di kelas sejarah.

“Saya masih di sekolah menengah pada saat itu. Di kelas sejarah dunia, kami memiliki tugas kelompok, di mana kami ditugaskan untuk meneliti festival agama tertentu. Kelompok saya bertugas saat Idul Adha,” kisahnya.

Karima cenderung mengambil kelonggaran dalam proyek kelompok apa pun. Dia akhirnya menjadi pengumpul informasi utama untuk tugas kelompoknya.

Tentu saja, kesempatan untuk belajar banyak dari agama Islam itu tidak disia-siakannya. Sampai akhirnya, Karima mulai jatuh cinta pada Islam.

Sebelumnya, dia hanya mendengar hal-hal mengerikan tentang Islam dan belum pernah bertemu Muslim sebelumnya. Saat belajar kelompok itulah dia merasa terkejut.

“Saya berpikir, ‘saya ingin pindah agama sekarang!. Tetapi saya memberi diri saya waktu untuk memikirkannya dan meneliti agama lain, namun tidak ada yang mendekati. Segala sesuatu (termasuk agama) tampak seperti buatan manusia jika dibandingkan,” kata dia.

Sampai suatu waktu pada 14 th Februari 2014, saat berjalan pulang dari sekolah, Karima mengeluarkan transliterasi syahadat dan tulisan tangan. Dia mengucapkan syahadat di depan Gereja Mormon.

 

Baca juga:

Dibimbing Syaikh As-Sudais, Pria Amerika Ini Mantap Ucapkan Syahadat

 

“Saya merasa senang dan gugup saat melakukan syahadat karena saya tahu saya akan diuji oleh Allah sebagai hasilnya. Saya mulai belajar salat dan cepat jatuh cinta dengan hijab,” ujar dia.

Tantangan Keluarga

Setelah menjadi muslim karena keinginan sendiri, Karima mulai merasakan adanya cobaan. Salah satunya dari penolakan orangtua.

“Saya memiliki Alquran dan informasi di ujung jari saya. Masalahnya adalah orang tua saya,” ucap dia.

Meski ibunya pernah mengatakan akan mendukung Karima memilih jalan sendiri, tapi kenyataannya lain saat mengetahui dia menjadi muslim. Ibunya bahkan merobek Alquran miliknya, dan sang ayah malah mengumpatnya dengan hal-hal yang buruk.

“Saya tidak bisa ibadah di depan mereka untuk waktu yang lama, tapi saya tidak pernah melepaskan keyakinan saya pada Islam,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, sang ibu masih tidak setuju, tapi hatinya semakin lembut. Berbeda dengan sang ayah yang masih sangat menentangnya. “Tapi jujur, jika Allah menghendaki, dia bisa menjadi Muslim yang lebih kuat dari saya suatu hari nanti!,” ujar dia.

Islam adalah Sifat Karima

Selama mempelajari Islam, Karima merasa menjadi pribadi yang utuh. Dia merasa tujuannya terpenuhi melalui Islam dan hatinyaa selalu dipenuhi dengan kebahagiaan terhadap Allah dan utusan-Nya (Nabi Muhammad SAW).

“Islam cocok dengan fitrah manusia. Bagi saya, Alquran tidak berubah karena dihafal oleh begitu banyak orang, itu  salah satu keajaiban Tuhan. Salat sendiri merupakan momen pemersatu bagi banyak umat Islam,” tuturnya.

Bagi Karima, menjadi seorang Muslim adalah sifatnya; itu ada di jiwanya yang paling dalam dan menyentuh atom terkecil dari tubuhnya. Dia merasa lebih damai dan tidak stres tentang hal-hal yang tidak dapat dia kendalikan.

“Saya merasa seolah-olah saya menyerahkan hidup saya ke tangan Tuhan sebelum hal lain. Dan bagi saya, itu sangat membebaskan untuk menjawab pencipta saya dan tidak membiarkan seorang pria mendikte keberadaan saya,” ungkapnya.

“Saya merasa seperti saya bebas menjadi diri saya sekarang. Dan saya berterima kasih kepada Allah setiap hari karena itu adalah hadiah dalam hidup saya,” sambung dia.

Menurut Karima, ada banyak cerita orang lain yang mungkin serupa dengannya. Karena itu, ia menyarankan pada siapapun yang mengalami cobaan, untuk tetap sabar dan kembali demi mendapat kedamaian sejati.

“Saya hanya memutus siklus tekanan terhadap masyarakat dan agama buatan manusia. Ketika anda benar-benar menyerah kepada Tuhan dan Tuhan saja, tidak akan kehilangan apa pun jika terhubung dengan Dia yang menciptakan anda seperti yang Dia kehendaki,” tutupnya. (jms/aboutislam)

 

Baca juga:

Pria Ini Mantap Jadi Mualaf Setelah Dengar Kajian Ustaz Khalid Basalamah


Back to Top