MUI: Mengganti Kurban dengan Uang Mengurangi Nilai Ibadah

gomuslim.co.id – Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI) Muhammad, Zaitun Rasmin menegaskan bahwa pengalihan ibadah kurban menjadi ‘sedekah biasa’ berbentuk uang tidak disarankan. Peralihan dari ibadah kurban yang merupakan sunah muakkad menjadi ‘sedekah biasa’ juga akan menurunkan nilai ibadah tersebut.

“Dan tentu akan sulit jika hanya dialihkan sebagai sedekah biasa, berbentuk uang. Karena memang umat cenderung ingin untuk berkurban, dan jika dialihkan dengan sedekah uang, belum tentu antusiasmenya setinggi berkurban,” ujar Ustadz Zaitun dalam rapat pleno virtual Dewan Pertimbangan MUI, Rabu (15/7/2020) kemarin.

Ia menjelaskan, MUI melalui komisi fatwa juga telah mengeluarkan pedoman Nomor 36 Tahun 2020 tentang Salat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban Saat Wabah COVID-19. Salah satu hal yang ada dalam pedoman tersebut yakni ibadah kurban tidak bisa digantikan dengan uang.

 

Baca juga:

MUI Jawa Tengah Izinkan Salat Idul Adha di Masjid, Ini Syaratnya

 

"Ibadah kurban tidak dapat diganti dengan uang atau barang lain yang senilai, meski ada hajat dan kemaslahatan yang dituju. Apabila hal itu dilakukan, maka dihukumi sebagai sodakoh," bunyi fatwa tersebut.

Selain itu ia memaparkan bahwa pada prinsipnya, penyembelihan kurban boleh dilaksanakan, tapi dengan protokol kesehatan yang ketat. Mengingat hukum ibadah kurban adalah sunnah muakkad, ditambah adanya nilai sosial dan humanis yang terkandung didalamnya.

“Karena ini ibadah sunnah muakad yang sayang jika dilewatkan, dan dipandang sebagai salah satu solusi bagi umat yang memerlukan bantuan gizi di tengah pandemi,” tegasnya.

Menurutnya, yang penting jaga protokol kesehatan selama proses penyembelihan, menghindari kerumunan, terus pakai masker, dan menjaga kebersihan. Ia juga menyarankan agar pembagian hewan kurban dikirim langsung ke tempat atau orang yang dituju demi menghindari adanya kerumunan.

Sementara itu, Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat, Asrorun Niam Sholeh menjelaskan, fatwa MUI Nomor 36 Tahun 2020 tentang Salat Idul Adha dan Penyembelihan Hewan Kurban Saat Wabah COVID-19, mengatur proses penyembelihan hewan qurban selama masa pandemi COVID-19. Penyembelihan dan distribusi daging harus menjaga jarak dan meminimalisasi terjadinya kerumunan.

Ia pun menganjurkan penyembelihan kurban bekerja sama dengan rumah potong hewan, sesuai Fatwa MUI Nomor 12 Tahun 2009 tentang Standar Sertifikasi Penyembelihan Halal.

"Apabila ketentuan seperti itu tidak dapat dilakukan, maka penyembelihan dilakukan di area khusus dengan memastikan pelaksanaan protokol kesehatan, aspek kebersihan, dan sanitasi serta kebersihan lingkungan," pungkas Asrorun. (mga/Rep)

 

Baca juga:

MUI Jateng Bahas Tata Cara Ibadah di Masjid Era New Normal


Back to Top