Peneliti IDEAS: Potensi Surplus Kurban Didominasi Daerah Perkotaan Pulau Jawa

gomuslim.co.id – Berdasarkan perhitungan Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS), daerah dengan potensi surplus kurban terbesar didominasi daerah perkotaan di Pulau Jawa. Sehingga, terdapat potensi kesenjangan yang besar dalam penyaluran daging kurban jika tidak dilakukan rekayasa sosial.

Peneliti IDEAS, Askar Muhammad menjelaskan sejumlah daerah dengan surplus kurban di kota-kota di Pulau Jawa. Di antaranya, Jakarta surplus 24 ribu ton daging kurban, Bandung surplus 6.000 ton, Surabaya serta Bekasi surplus 5.000 ton, dan Depok serta Tangerang surplus 3.000 ton.

"Sedangkan daerah dengan potensi defisit qurban terbesar didominasi daerah perdesaan Jawa, yaitu Kabupaten Cianjur defisit 2.000 ton, Jember defisit 1.600 ton, Garut defisit 1.500 ton, Grobogan serta Brebes defisit 1.300 ton, dan Cirebon serta Probolinggo defisit 1.200 ton," ujar Askar dalam kesempatan diskusi hasil riset IDEAS bertemakan 'Ekonomi Kurban 2020, Memberdayakan Peternakan Rakyat', Rabu (15/7/2020).

Ia menjelaskan, Jabodetabek sebagai wilayah metropolitan termaju dan terbesar di Jawa berpotensi menghasilkan 47 ribu ton daging kurban, namun kebutuhan mustahik di Jabodetabek hanya sekitar 5.000 ton daging kurban. Sehingga terdapat potensi surplus 42 ribu ton daging di Jabodetabek.

Namun tidak jauh dari Jabodetabek, perdesaan di Banten Selatan yaitu Kabupaten Pandeglang dan Lebak hanya berpotensi menghasilkan 260 ton daging kurban, tapi kebutuhan mustahiknya mencapai 1.500 ton daging kurban. Sehingga terdapat potensi defisit 1.250 ton daging.

 

Baca juga:

Idul Adha 2020, MUI Bolehkan Daging Kurban Dibagikan dalam Bentuk Olahan

 

Ia mengungkapkan, dari fakta potensi daerah surplus dan defisit kurban ini, maka program pendistribusian hewan kurban keluar dari daerah asal shahibul kurban (pequrban) yang banyak dilakukan lembaga amil zakat saat ini adalah tepat dan positif. Program tebar hewan kurban dari daerah surplus ke daerah minus yang dipelopori oleh Dompet Dhuafa sejak 1994 ini penting.

"Supaya distribusi kurban yang tepat sasaran dan signifikan untuk pemerataan dan peningkatan kesejahteraan si miskin," tegasnya.

Sementara itu, Peneliti IDEAS, Ahsin Algorizy menambahkan, untuk mengurangi gap area surplus dan defisit kurban perlu adanya rekayasa sosial. Menurutnya, Lembaga Amil Zakat (LAZ) memiliki peran penting mengatasi mismatch dengan memberikan layanan kurban lebih tepat sasaran yang bisa dipertanggungjawabkan ke pekurban.

Ia juga merekomendasikan, LAZ atau Badan Amil Zakat (BAZ) bisa mengembangkan inovasi pola kemitraan yang baik untuk meningkatkan kesejahteraan peternak dengan membangun sistem agribisnis (upstream downstream) yang saling menguntungkan.

Dengan berbagai batasan sumber daya yang dimiliki oleh peternakan rakyat di Indonesia, mereka nantinya akan memiliki potensi ke arah industri peternakan terintegrasi. "Peluang membangun kemitraan dengan stakeholder rantai pasok lebih luas seperti dengan investor dan pengusaha daging," pungkasnya.(mga/Rep)

 

Baca juga:

Jelang Idul Adha 2020, Pemprov DKI Gratiskan Pemeriksaan Kesehatan Hewan


Back to Top