Bagian Dua, Perbedaan dan Persamaan Salat Mazhab Syafi’i dan Hanbali

gomuslim.co.id - Secara bahasa, salat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti, ibadah. Sedangkan, menurut istilah, salat bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Akan tetapi, dalam mempelajari ilmu fiqih ini, kita juga harus mengetahui mana ulama yang merupakan representasi dari suatu mazhab dan mana yang bukan. Jangan sampai salah memilih ulama dalam menukil pendapat suatu masalah fiqih.

Dalam artikel sebelumnya, telah dibahas tentang perbedaan dan persamaan mazhab Syafi’i dan Hanbali terkait salat, serta bagaimana kedua mazhab tersebut melakukan niat dalam salat.

Poin yang Wajib Disebutkan saat Niat

Dalam poin ini kita akan menjelaskan tentang niat yang wajib disebutkan.

Mazhab Syafi’i

Diwajibkan ketika niat dalam hati (wajib berbarengan takbiratul ihram) harus menyebutkan 3 poin. Yaitu niat menyengaja salat (Qashdu al-Fi’li), niat fardhu (al-Fardhiyah) dan niat nama shalatnya (at-Ta’yiin). Hal ini berlaku bagi orang yang shalatnya sendirian.

Namun jika kita salat secara berjamaah dan misalnya status kita menjadi makmum maka wajib ditambahkan berniat sebagai makmum (alI’timaam). Artinya point ke 4 harus menyebutkan niat sebagai makmum (makmuman) karena hukumnya wajib.

Adapun untuk imam tidak diwajibkan berniat sebagai imam (imaaman). Akan tetapi tetap disunnahkan berniat sebagai imam (imaaman) agar mendapatkan pahala berjamaah.

Adapun yang lainnya seperti menyebutkan jumlah rakaat, menghadap kiblat, ada’an dan lillahi ta’ala serta lainnya hukumnya adalah sunnah. Tidak perlu disebutkan karena akan memberatkan dan menyusahkan ketika niat dalam hati berbarengan dengan takbiratul ihram (Allahu Akbar).

Berikut tata cara niat yang wajib dalam hati ketika mengucapkan takbiratul ihram (Allahu Akbar). Boleh berbahasa arab atau pilih yang berbahasa Indonesia.

Kami sarankan bagi yang tidak paham bahasa Arab lebih baik niat dalam hatinya menggunakan niat yang berbahasa Indonesia saja. Artinya ketika lisan kita mengucapkan Allahu Akbar maka jangan lupa niat salatnya harus terbesitkan dalam hati selama lafadz Allahu Akbar itu kita ucapkan.

Mazhab Hanbali

Begitu juga dalam mazhab Hanbali, diwajibkan ketika niat dalam hati (wajib berbarengan takbiratul ihram namun boleh juga sebelum takbiratul ihram) harus menyebutkan 3 poin juga seperti mazhab Syafi’i.

Ketiga poin tersebut adalah niat menyengaja salat (Qashdu al-Fi’li), niat fardhu (al-Fardhiyah) dan niat nama salatnya (at-Ta’yiin). Hal ini berlaku bagi orang yang salatnya sendirian.

Namun jika kita salat secara berjamaah menurut madzhab Hanbali yang menjadi Imam diwajibkan berniat sebagai imam (imaaman). Dan yang menjadi makmum juga diwajibkan berniat sebagai makmum (al-I’timaam).

Artinya poin keempat harus menyebutkan niat sebagai imam (imaaman) jika memang menjadi imam dan harus menyebutkan niat sebagai makmum (makmuman) jika memang menjadi makmum. Sebab keduanya masing-masing hukumnya wajib menurut mazhab hanbali.

Adapun yang lainnya seperti menyebutkan jumlah rakaat, menghadap kiblat, ada’an dan lillahi ta’ala serta lainnya hukumnya adalah sunnah. Tidak perlu disebutkan karena hukumnya tidak wajib disebutkan dalam niat.

Redaksi Bacaan Tasbih Ruku’

Mazhab Syafi’i

Menurut fiqih mazhab Syafi’i disunnahkan ketika ruku’ membaca tasbih dengan redaksi bacaan “Subhaana rabbiyal ‘adziimi wabihamdih” tiga kali. Bacaan tasbih “Subhaana rabbiyal “Subhaana rabbiyal ‘adziimi wabihamdih” sebenarnya bukan satu satunya bacaan yang harus dibaca. Sebab masih ada riwayat lainnya yang boleh dibaca juga ketika ruku’. Namun para ulama madzhab Syafi’i lebih memilih redaksi tasbih “Subhaana rabbiyal ‘adziimi wabihamdih”

Imam an-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) dalam kitabnya al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab menyebutkan sebagai berikut:

“Para ulama syafi’iyah telah mengatakan bahwa disunnahkan untuk membaca “Subhaana rabbiyal ‘adziimi wabihamdih”.

Landasan dalil untuk bacaan tasbih diatas adalah hadits hasan  yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, ad-Daruqutni, Ahmad, at-Tabrani dan alHakim sebagai berikut: “Dari sahabat Hudzaifah radhiyallahu anhu sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wasallam jika ruku membaca “Subhaana rabbiyal ‘adziimi wabihamdih” tiga kali. (HR. Abu Dawud, adDaruqutni, Ahmad, at-Tabrani dan al-Hakim)

Jelas, mazhab Syafi’i sebenarnya tetap menganjurkan menggunakan riwayat lainnya seperti riwayat imam al-Bukhari dan imam Muslim diatas serta riwayat lainnya. 1

Adapun kenapa lebih memilih redaksi “Subhaana rabbiyal ‘adziimi wabihamdih’ itu karena ada perintah langsung dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam untuk membaca tasbih yang mirip seperti yang ada di dalam ayat al-Quran.

Mazhab Hanbali

Begitu juga dalam mazhab Hanbali diwajibkan20 ketika ruku’ membaca redaksi tasbih “Subhaana rabbiyal ‘adziimi wabihamdih” tiga kali. Redaksi bacaan tasbih yang versi ini sama halnya yang dianjurkan dalam madzhab Syafi’iy.

Jika membaca “Subhaana rabbiyal ‘adziimi wabihamdih” maka tidak apa apa. Telah diriwayatkan oleh Ahmad bin Nasr bahwa Imam Ahmad ditanya tentang tasbih ruku’ dan sujud. Wahai imam Ahmad, mana yang lebih engkau sukai antara “Subhaana rabbiyal ‘adziimi” atau “Subhanallah

rabbiyal ‘adziimi wabihamdih”? beliau menjawab: dua duanya ada haditnya. Saya tidak bisa menolak salah satu dari keduanya.

Mendahulukan Kedua Lutut Saat Sujud

Mazhab Syafi’i

Menurut fiqih mazhab Syafi’iy disunnahkan ketika hendak sujud mendahulukan kedua lutut kaki terlebih dahulu baru kemudian kedua tangan. Bukan kedua tangan dulu baru kedua lutut. Imam an-Nawawi rahimahullah (w. 676 H) seorang ulama besar ahli hadits yang dikenal sebagai ulama yang bermazhab Syafi’iy dan ahlinya fiqih mazhab Syafi’i menyebutkan sebagai berikut:

“Mazhab kami adalah disunnahkan mendahulukan kedua lutut saat hendak sujud, kemudian kedua tangan, dahi dan hidung secara berurutan. Imam atTimidzi dan al-Khattabi mengatakan bahwa pendapat ini adalah pendapat mayoritas para ulama”.

Mazhab Hanbali

Menurut fiqih mazhab Hanbali juga disunnahkan untuk mendahulukan kedua lutut kaki terlebih dahulu baru kemudian kedua tangan saat hendak sujud. Bukan kedua tangan dulu baru kedua lutut. Imam Ibnu Qudamah rahimahullah (w. 620 H) seorang ulama besar ahli hadits yang dikenal sebagai ulama yang bermadzhab Hanbali era salaf dan beliau juga ahli fiqih madzhab Hanbali. Beliau menyebutkan sebagai berikut:

“Yang pertama kali menempel di lantai adalah kedua lutut kaki dulu, baru kemudian kedua tangan, dahi dan hidung. Pendapat ini hukumnya sunnah dalam mazhab hanbali yang masyhur”.

Dalilnya adalah hadits dari sahabat Wa’il bin Hujr radhiyallahu anhu beliau berkata: Saya melihat Nabi shallallahu alaihi wasallam jika hendak sujud beliau meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya. (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa’i). Wallahualam Bissawab. (hmz)

Sumber:

10 Persamaan & Perbedaan Antara Syafi’i & Hanbali Mengenai Tata Cara Shalat, Muhammad Ajib, Lc., MA, Rumah Fiqih Indonesia

 

Baca juga:

Bagian Pertama, Perbedaan dan Persamaan Salat Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanbali


Back to Top