Panduan Kegiatan Keagamaan Bantu Umat Jalani Penyesuaian Baru di Rumah Ibadah

gomuslim.co.id – Kementerian Agama (Kemenag) telah menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 15 tahun 2020 tentang Panduan Pelaksanaan Kegiatan Keagamaan dalam Mewujudkan Masyarakat Produktif dan Aman COVID-19 di Masa Pandemi. SE ini bertujuan untuk membantu umat beragama agar dapat beribadah dan tetap aman dari risiko persebaran COVID-19.

“Oleh karenanya, tujuannya adalah bagaimana masyarakat, umat beragama khususnya bisa tetap melakukan kegiatan keagamaannya, tapi pada saat yang sama itu bukan berarti kelonggaran protokol kesehatan,” ujar Juru Bicara Kemenag, Oman Fathurahman.

Oman menjelaskan, saat ini, Pemerintah ingin membangun kesadaran masyarakat bahwa pandemi global COVID-19 yang telah melanda dunia termasuk Indonesia bukanlah suatu hal yang dapat dilalui dalam waktu singkat. Karenanya, masyarakat perlu melakukan penyesuaian dan pembiasaan baru dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari agar tetap aman dari wabah yang tengah melanda.  

“Pandemi ini ‘kan wabah, yang saya selalu menyampaikan, dalam lintasan sejarah ini kan sebagai sesuatu yang terus berulang atau siklus. Kalau kita melihat sejarah, (pandemi) itu tidak ada yang sebentar memang, sebulan, dua bulan, itu bahkan ada yang sampai setahun, bahkan lebih gitu ya,” papar Oman. 

“Sehingga kita tidak mungkin terus-terusan menghindari situasi kehidupan bermasyarakat. Ketika kita sebagai bangsa memiliki kehidupan sosial, aktivitas, tidak mungkin kita hindari karena alasan ada wabah, termasuk kegiatan keagamaan,” sambung dia. 

 

Baca juga:

Kemenag Terbitkan Edaran Panduan Penyelengaraan Kegiatan di Rumah Ibadah

 

Oman menilai, negara perlu hadir untuk memberikan panduan dalam beraktivitas di masa pandemi. “Masyarakat perlu panduan kan untuk hidup membiasakan protokol kesehatan ini dalam kegiatan keagamaannya. Kita menciptakan budaya baru, yang sebelum ini agak kurang terbiasa untuk dilakukan,” imbuhnya. 

Ia mencontohkan, dalam surat edaran menyebutkan dalam pelaksanaan praktik keagamaan penanggungjawab rumah ibadah berkewajiban menerapkan pembatasan jarak kurang lebih 1 meter.  Hal ini perlu dipatuhi, meskipun misalnya umat muslim meyakini afdaliyah (keutamaan) salat berjemaah adalah merapatkan barisan. 

“Kita ingin rumah ibadah itu harus menjadi contoh yang baik, dalam penanganan COVID-19 di dalam penegakan disiplin protokol kesehatan,” tegas dia. 

Maka dari itu, untuk teknis penerapan surat edaran tersebut Kemenag pun juga melakukan dua jalur sosialisasi. Pertama, jalur struktural,  melalui Kantor-kantor Wilayah Kementerian Agama, Kankemenag Kota, hingga para penyuluh agama. “Ini agar sampai kepada masyarakat khususnya ke para pengelola rumah ibadah. Kedua, jalur yang kami tempuh ya melalui upaya mendorong partisipasi masyarakat,” pungkasnya. (mga/Kemenag/foto:suarasurabaya)

 

Baca juga:

Tahun Ajaran Baru, Kemenag Susun Protokol Kesehatan di Pesantren


Back to Top