Temukan Teori Big Bang Dalam Alquran, Seorang Ateis Ini Mantap Masuk Islam

gomuslim.co.id - Banyak kisah menarik dari perjalanan mualaf menemukan Islam. Salah satunya, seperti kisah Danielle Lo Duca, seniman lulusan Pratt Institute.  

Lo Duca tidak pernah bercita-cita menjadi Muslim. Ia juga tidak ingin menjadi Kristen. Ia menilai, semua konsep agama formal tidak menyenangkan. Meski dibesarkan sebagai pemeluk Katolik, Danielle menganggap dirinya agnostik.

"Jika Anda menawarkan jutaan dolar untuk mengajak saya bergabung dengan salah satu agama, saya akan menolak," kata Danielle Lo Duca dilansir Republika, Jumat (15/5/2020). 

Ia merupakan generasi ketiga Amerika Serikat. Ia tumbuh besar di lingkungan pinggiran Kota New York yang homogen. Sebagai perempuan modern yang rasional, ia lebih percaya pada akal pikiran untuk menuntunnya menjalani hidup, ketimbang "kitab suci".

Lo Duca ingat, ia tertawa keras-keras saat membaca buku Hey Is That You God karangan Pasqual S Schievella. Lewat buku setebal 200 halaman itu, Professor Columbia University tersebut mencemooh konsep Tuhan melalui dialog satire.

 

Baca juga:

16 Tahun Hidup Tanpa Agama, Pria Ini Putuskan Jadi Mualaf Setelah Mengenal Islam

 

Semua tampak begitu logis bagi Lo Duca. Menurut dia, para pemikir jelas berada di atas penganut agama-agama yang hidup tanpa daya kritis.

Kendati demikian, daya kritis Lo Duca tak tumpul begitu saja. Mosi tidak percaya agama itu tak membuatnya urung melakukan pembuktian. Ia merasa tidak cukup sekadar berpikir lebih baik tanpa agama.

Layaknya para ilmuwan Barat yang empiris dan rasional, Lo Duca ingin membuktikan secara sistematis bahwa agama tidak lebih dari tipuan. Ia sengaja ingin melakukan itu.

Menariknya, kata LoDuca, dalam pembicaraannya dengan para pemeluk agama, khususnya selain Islam, ia sering melihat bahwa mereka tampak sekali ingin percaya. Seolah, tidak peduli berapa banyak kontradiksi atau kesalahan yang ditunjukkan kitab suci mereka (Injil - Kristen). Mereka kesampingkan itu, tanpa sedikitpun daya kritis.

Sampai suatu hari, sebuah terjemahan Alquran dia peroleh secara gratis. Ia tengah melintasi sekelompok orang yang membagi-bagikan Alquran hari itu. Tanpa memalingkan muka dari ponsel, ia bertanya ketus, "Apakah itu gratis?"

Salah satu dari panitia mengiyakan. Ia meraih salah satu, kemudian melanjutkan perjalanan. Ia sama sekali tidak tertarik untuk bertanya.

Ia hanya tertarik untuk mengambil buku gratis yang barangkali bisa membuatnya makin menertawakan agama.

Tapi, sejak membaca "kitab suci itu", ia menjadi lebih pendiam. Alquran berbeda dari buku-buku agama lain yang juga telah dia kumpulkan.

Seorang teman pernah menyebut Tuhannya Muslim itu pemarah dan pendendam. Ia langsung menghampiri orang itu tanpa sadar. Ia buka lembaran-lembaran Alquran, kemudian menunjukkan kalimat, "Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Alquran  hanyalah "buku tua nan usang", tapi entah bagaimana ia berpikir kitab itu sepenuhnya relevan. Ada sesuatu dengan irama dan cara komunikasinya yang intim. Ada semacam keindahan yang belum pernah dia kenal sebelumnya.

Ia menolak keimanan yang membabi buta, tapi mendorong manusia menggunakan kecerdasan. Lo Duca sadar, Alquran sepenuhnya ditujukan bagi kebaikan manusia.

Setelah beberapa waktu, niat itu semakin mengendap. Ia mulai membaca buku-buku tentang Islam. Lo Duca menemukan bahwa Nabi Muhammad pernah ditegur dalam Alquran. Fakta itu tampak aneh jika Muhammad dianggap penulis Alquran, sebagaimana anggapan para orientalis.

"Orang ini tidak menunjukkan tanda- tanda seorang pembohong," kata LoDuca. Ia berdoa pada suatu malam. Memohon ampun lantaran pernah menghina sosok mulia itu.

 

Baca juga:

Diskusi Panjang dengan Muslim Antarkan Pria Amerika Ini Jadi Mualaf

 

Suatu malam, LoDuca kian terperangah tatkala membaca surah al-Anbiya' ayat 30. Konsentrasinya terpecah. Itu teori Big Bang ! pikir LoDuca. Ayat itu masih melanjutkan lagi, segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Bukankah itu baru saja ditemukan para ilmuwan?

LoDuca melompat turun dan mulai membaca lebih teliti. Ia memeriksa buku-buku hingga semalaman duduk di Perpustakaan Pratt Institute. Masih dengan mata terbelalak dan tumpukan buku terbuka, LoDuca tersadar. Kebenaran sudah ada di depan mata.

"Kebenaran sudah ada di depan mata, sampai kapan saya mencari? tanya dia dalam hati. Saya baru saja memiliki kesadaran yang saya bayangkan sebelumnya tidak mungkin. Saya kini telah menemukan jawaban atas apa yang saya pikir sebagai pertanyaan yang tak kunjung henti," kata dia.

Akhirnya pada 2002, Danielle Lo Duca resmi masuk Islam. Sejak bersyahadat, dia merasakan lebih banyak kedamaian dari apa yang diharapkan. Berkaca dari masa lalunya, Danielle merasa Allah telah membimbingnya agar dapat mengenal agama ini. "Syukurlah, saya berhasil mempertahankan rasa ingin tahu yang sehat. Saya selalu menemukan pertanyaan yang mendorong saya untuk terus mencari," kata dia.

Kini Danielle aktif menulis dan menawarkan perspektif Muslim Amerika yang menggugah pikiran, berbeda dengan narasi-narasi negatif yang menstigmakan Islam dan Muslim. (Mr/republika)


Back to Top