Peduli WNI Terdampak Lockdown, Muslimat NU Malaysia Salurkan Bantuan Pangan

gomuslim.co.id – Peduli Warga Negara Indonesia (WNI) di Malaysia yang terdampak kebijakan lockdown dan darurat karantina akibat wabah pandemi COVID-19, Muslimat NU Malaysia berinisiatif menyalurkan sumbangan untuk WNI tersebut.

Penyaluran bantuan bekerjasama dengan beberapa banom di PCINU Malaysia bahkan Pertubuhan NU Malaysia setempat, meliputi Pertubuhan Nahdlatul Ulama Kuala Lumpur dan Selangor (PNUKS), GP Ansor, Fatayat NU, dan Peradaban.

"Alhamdulillah, dari NU semuanya kompak. Muslimat, PNUKS, PCINU, GP Ansor, Fatayat NU, dan Peradaban semuanya bekerjasama untuk membantu warga kita yang sedang kesusahan selama masa karantina ini," ujar Ketua PCI Muslimat NU Malaysia, Mimin Mintarsih.

Mimin mengungkapkan, selain daripada seluruh keluarga besar NU, bantuan tersebut bahkan datang dari sejumlah warga negara Malaysia. Bantuan yang diberikan pun berupa paket sembako.

“Bantuan yang disalurkan terdiri dari paket beras. Tercatat ada 400 paket besar dari PNUKS, 500 dari Ansor, 1960 dari Peradaban, dan 1400 dari PCINU, Muslimat NU dan Fatayat NU. Sedangkan total bantuan dana senilai RM 55.380,” ungkapnya.

Seluruh bantuan tersebut, kata Mimin, disalurkan kepada WNI yang berada di wilayah Kuala Lumpur dan Selangor yang sedang mengalami kesulitan karena Perintah Kawalan Pergerakan (PKP) atau karantina wilayah sehingga mereka tidak bisa bekerja.

 

Baca juga:

Peduli Ustadz, Guru Honorer dan Dhuafa, Pergunu Jakarta Salurkan 200 Paket Sembako

 

Selain itu Mimin juga mengungakapkan, para WNI yang menerima bantuan tersebut pun nampak senang. Mimin pun akan memastikan bahwa kontribusi Muslimat NU Malaysia akan berdampak kepada WNI disana. "Mereka sangat senang karena di tengah wabah COVID-19 seperti ini, masih ada yang mau membantu. Setidaknya mereka tahu dan merasakan kehadiran kita di sini," pungkas Mimin.

Sementara itu, Pengurus Hubungan Internasional PCINU Malaysia, Mahfud Budiono mengatakan bahwa dengan adanya karantina wilayah telah mengakibatkan para WNI tidak mempunyai penghasilan. Bahkan, sebagian dari mereka tidak memiliki stok pangan sama sekali.

Sedangkan kata Mahfud, mayoritas pada WNI di Malaysia yang bekerja di sektor informal menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari kebijakan pemerintah setempat dalam penanganan COVID-19.

Ia menjelaskan, kebijakan PKP atau pengontrolan pergerakan diberlakukan sejak 18 Maret 2020. Kebijakan PKP itu bertujuan untuk pencegahan penyebaran COVID-19 yang semula berlaku hingga 31 Maret 2020, kemudian diperpanjang hingga 14 April 2020, dan kemudian kembali diperpanjang.

"Kebijakan tersebut membuat pekerjaan WNI di Malaysia diberhentikan. Pintu-pintu penghasilan para WNI pun seketika tertutup. Secara tidak langsung WNI tersebut tidak mempunyai penghasilan yang akibatnya banyak para WNI yang kebutuhan pangannya menipis atau habis sama sekali," ungkap Mahfud.(mga/NUOnline) 

 

Baca juga:

Bantu Warga Hadapi COVID-19, LAZISNU Kediri Sediakan Layanan Rehabilitas Sosial dan Mental


Back to Top