Panduan dan Tata Cara Sujud Syukur dalam Syariat

gomuslim.co.id – Kita mungkin sering melihat Megabintang sepakbola, Mohamed Salah sering melakukan aksi sujud syukur setelah mencetak gol ke gawang lawan. Selebrasi tersebut seperti menunjukkan bahwa Mo Salah adalah seorang muslim yang taat.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebagai muslim, mungkin juga sering melakukan sujud syukur. Kita melakukanya sebagai salah satu amalan yang diajarkan agama. Namun, bagaimana sebenarnya sujud syukur dalam syariat?

Kata sujud merupakan bentuk serapan dari bahasa arab. Kata tersebut sudah baku dalam KBBI, yang berarti berlutut serta meletakkan dahi ke lantai (misalnya pada waktu salat) sambil membaca tasbih dan pernyataan hormat dengan berlutut serta menundukkan kepala sampai ke tanah.

Secara syar'i, yang dimaksud dengan sujud menurut jumhur ulama adalah meletakkan 7 anggota badan ke tanah, yaitu wajah, kedua telapak tangan, kedua lutut dan ujung kedua tapak kaki.

Sedangkan kata syukur secara bahasa berarti; mengakui kebaikan yang diberikan kepadamu, menyebarkannya dan memuji pelakunya.

Dalam Bahasa Indonesia, syukur artinya rasa terima kasih kepada Allah dan untunglah (pernyataan lega, senang, dan sebagainya).

Secara istilah syar’i, yang dimaksud dengan syukur adalah pengelolaan seorang hamba atas kenikmatan-kenikmatan yang Allah anugerahkan kepadanya dalam ketaatan kepada-Nya.

Hakikat syukur adalah menampakkan pengaruh nikmat baik lewat lisan, hati maupun anggota badan. Lisan menyebutkan, mengakui dan memuji Allah, hati mengakui dan membenarkan, sedangkan anggota badan merealisasikan dengan mengerjakan hal-hal yang diridhai Allah.

Sedangkan yang dimaksud dengan sujud syukur secara istilah adalah sujud yang dilakukan karena mendapatkan nikmat yang besar atau terhindar dari bencana.

Imam Syafi’i menyebutkan:

Kita berkata bahwa sujud syukur itu tak apa-apa dilakukan, bahkan kita mengatakan hukumnya mustahab (disukai). Hal itu karena telah diriwayatkan dari Nabi bahwa beliau melakukan sujud syukur, Abu Bakar, Umar juga melakukannya.

Mazhab Hanbali dalam hal ini berpendapat sama dengan mazhab Syafii. Ibnu Qudamah al-Hanbali menuliskan: Disunnahkan melakukan sujud syukur, ketika mendapatkan nikmat dan terhindar dari mara bahaya.

Dasar dalil yang mereka gunakan adalah hadits Nabi SAW berikut ini:

Dari Abi Bakrah RA bahwa Nabi SAW bila mendapatkan hal-hal yang membuatnya bergembira atau diberi kabar gembira, beliau bersujud syukur kepada Allah. (HR. Abu Daud dan Tirmizy).

Syarat Sujud Syukur

Dalam menetapkan syarat yang harus dipenuhi dalam melakukan sujud syukur, ada perbedaan pendapat di antara para ulama. Sebagian mensyaratkan harus suci dari hadats kecil dan besar, persis seperti syarat salat. Namun sebagian yang lain tidak mensyarakatnya.

Imam an-Nawawi as-Syafi’i (w. 676 H) menyebutkan bahwa syarat sah sujud syukur itu sama seperti syarat sah salat:

Sujud syukur itu butuh seperti apa yang disyaratkan dalam salat, tata cara sujud syukur itu sama dengan sujud tilawah diluar salat.

1. Memenuhi Syarat Sah Salat

Mazhab Asy-Syafi'iyah dan mazhab Al-Hanabilah mensyaratkan untuk sujud syukur sama dengan syarat salat, yaitu:

a. Suci Dari Najis

b. Suci Dari Hadats

c. Menghadap ke Arah Kiblat

d. Menutup Aurat

2. Tidak Harus Memenuhi Syarat Sah Salat

Sebagian ulama dari kalangan mazhab Al-Malikiyah yang menerima pensyariatan sujud syukur mengatakan bahwa inti dari sujud syukur adalah spontanitas begitu mendengar sesuatu yang membahagiakan, segera dilaksanakan sujud.

Tetapi kalau sudah terlewat lama, karena harus berwudhu atau mandi janabah terlebih dahulu, maka tidak ada sujud syukur lagi. Sehingga mereka tidak mensyaratkan sujud syukur dengan suci dari hadats atau najis.

Ibnu Taimiyah juga termasuk yang tidak mensyaratkan sujud syukur dengan suci dari hadats.

Tata Cara Sujud Syukur

Mazhab Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah melarang sujud syukur bila dilakukan pada saat melaksanakan salat. Karena penyebabnya di luar salat. Dan bila sujud syukur itu dilakukan, salatnya menjadi batal, kecuali karena seseorang lupa atau tidak tahu.

Adapun teknis sujud syukur sama dengan sujud tilawah di luar salat, yaitu:

a. Berdiri

Sujud syukur lebih bagus jika dimulai dengan berdiri.

b. Menghadap kiblat

Karena sujud syukur itu seperti salat, maka disyariatkan menghadap kiblat. Meski dalam mazhab Hanbali, sujud syukur itu disamakan dengan sujud tilawah diluar salat.

c. Takbir

Imam Syafi’i (w. 204 H) menyebutkan bahwa sujud syukur itu takbir pertama untuk takbiratul ihram, lalu takbir untuk turun sujud dan bangun dari sujud:

Disunnahkan mengangkat tangan ketika takbir pertama, karena itu takbiratul ihram, lalu takbir kedua untuk turun sujud tanpa mengangkat tangan.

d. Sujud sekali

Sujud di dalam salat itu dilakukan 2 kali, termasuk ketika sujud sahwi. Hal itu berbeda dengan sujud syukur, bahwa sujud syukur hanya dilakukan sekali saja. Hal ini perlu ditegaskan agar tak terjadi kekeliruan diantara keduanya.

e. Bacaan ketika sujud

Dalam mazhab Hanbali, bacaan sujud syukur adalah bacaan sujud salat seperti biasanya. Syamsuddin al-Maqdisi menyebutkan:

Bacaan yang dibaca adalah sebagaimana yang dibaca waktu sujud salat seperti biasanya.

Meskipun jika kita membaca tasbih seperti ketika sujud tilawah juga tak masalah, seperti bacaan berikut ini:

Pertama: Dari ‘Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah SAW biasa membaca dalam sujud tilawah di malam hari beberapa kali bacaan:

Sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.” [Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan An Nasa’i).

Hadits ini dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Al-Hakim, An-Nawawi, Adz-Dzahabi, Ahmad Muhammad Syakir, Al-Albani dan Salim bin ‘Ied Al Hilali. Sedangkan tambahan “Fatabaarakallahu ahsanul kholiqiin” dishahihkan oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi dan An-Nawawi.

Kedua, Dari Hudzaifah, beliau menceritakan tata cara salat Nabi SAW dan ketika sujud beliau membaca:

Subhaana robbiyal a’laa” [Maha Suci Allah Yang Maha Tinggi] (HR. Muslim)

Ketiga: Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a ketika ruku’ dan sujud:

Subhaanakallahumma robbanaa wa bi hamdika, allahummagh firliy.” [Maha Suci Engkau Ya Allah, Rabb kami, dengan segala pujian kepada-Mu, ampunilah dosa-dosaku] (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat: Dari ‘Ali bin Abi Tholib, Nabi SAW ketika sujud membaca:

Allahumma laka sajadtu, wa bika aamantu walaka aslamtu, sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.” [Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri.

Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Muslim)

Kelima: Dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata bahwa ada seseorang yang pernah mendatangi Nabi SAW, lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku melihat diriku sendiri di malam hari sedangkan aku tertidur (dalam mimpi). Aku seakan-akan salat di belakang sebuah pohon. Tatkala itu aku bersujud, kemudian pohon tersebut juga ikut bersujud. Tatkala itu aku mendengar pohon tersebut mengucapkan:

Allahummaktub lii bihaa ‘indaka ajron, wa dho’ ‘anniy bihaa wizron, waj’alhaa lii ‘indaka dzukhron, wa taqqobbalhaa minni kamaa taqobbaltahaa min ‘abdika dawuda”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hadits ini dikatakan hasan oleh At-Tirmidzi. Menurut Al-Hakim, hadits di atas adalah hadits yang shahih. Adz-Dzahabi juga sependapat dengannya.

f. Salam

Ada 2 riwayat dalam Mazhab Syafi’i; pertama menyebutkan bahwa sujud syukur itu tanpa salam, ini riwayat dari al-Buwaithi kepada Imam Syafii. Sedangkan riwayat dari al-Muzani bahwa sujud syukur itu seperti salat pada umumnya, yaitu salam dua kali.

g. Tidak Baca Tahiyat Akhir

Diawali dengan berdiri menghadap ke kiblat, kemudian bertakbir lalu turun untuk melakukan sujud sambil membaca tasbih.

Sujudnya cukup sekali saja dan diakhiri dengan bangun dari sujud, tanpa mengucapkan salam. Namun bila salam dilakukan di bagian akhir sujud, tidak mengapa.

Sumber:

Maharati Marfuah, Lc. 2018. Bagaimana Seharusnya Sujud Syukur?. Jakarta:Rumah Fiqih Publishing.

Foto: Muslim Moderat


Back to Top