Jangan Terjebak, Ini Etika Bermedia Sosial dalam Islam

gomuslim.co.id - Siapapun di antara kita baik laki-laki ataupun perempuan, tua atau muda pasti bermain gadget dan memiliki akun media sosial. Dan hampir semua orang terjebak dengan yang namanya gadget dan media sosial. 

Karena itu, bijak dan berhati-hati dalam bermedia sosial itu penting. Jika salah dalam penggunaannya, maka dikhawatirkan akan terjadi bencana yang amat besar bagi diri kita masing-masing.

Yang terpenting adalah, jangan karena media sosial kita membuang waktu kita. Sesungguhnya waktu dalam Islam sangatlah berharga. Sesungguhnya harta itu akan datang dan pergi meninggalkan kita, sedangkan waktu hanya akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Oleh karenanya banyak di dalam Alquran Allah bersumpah dengan waktu.

Seperti dalam surat Al Ash ayat 1 “Demi masa (waktu).". Kemudian dalam surat Adh- Dhuha ayat 1 "Demi waktu dhuha." Dan Surat Al-Lain ayat 1-2 “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang), dan siang apabila terang benderang."

Intinya Allah banyak bersumpah di dalam Alquran dengan waktu karena dalam Islam waktu adalah hal yang sangat penting. Oleh karenanya Allah Subhanahu wa ta'ala berfrman,

"Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur." (QS. Al-Furqan : 62)

Karenanya, nikmat yang sering terlupakan adalah nikmat waktu. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang." (HR. Bukhari 8/88 no. 6412)

Hal yang sangat menyedihkan adalah tatkala kita mendapati orang yang tidak peduli dengan waktunya. Terlebih lagi dia membuang-buang waktunya pada hal-hal yang tidak bermanfaat seperti bermain media sosial yang berlebihan.

Dan di zaman sekarang ini, perkara membuang-buang waktu yang hampir menimpa semua orang adalah masalah internet dan media sosial, baik itu dengan facebook, instagram, telegram, twitter, whatsapp dan media lainnya.

Pada dasarnya, internet adalah karunia dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Karena betapa banyak manfaat yang bisa kita peroleh dari adanya internet dan media sosial.

Dengan internet kita bisa melakukan berbagai macam kebaikan seperti dakwah, terkadang kita juga bisa mengatur waktu dengan google maps, kita bisa mendapatkan beritaberita tertentu, kita juga akan mudah bersilaturahmi dengan kerabat yang jauh dengan video call dan kemudahan-kemudahan yang lainnya.

Namun di sisi lain internet bisa menjadi bencana yang sangat besar bagi umat Islam secara umum. Bagaimana tidak dikatakan bencana, sedangkan yang pertama kali dilakukan oleh kebanyakan kaum muslimin tatkala bangun dari tidurnya adalah membuka gadgetnya, sehingga melupakan membaca doa bangun tidur.

Yang menyedihkan adalah sebelum kembali untuk tidur, kebanyakan kaum muslimin juga melihat gadgetnya, sehingga mereka lupa untuk membaca ayat kursi, doa sebelum tidur, dan dzikir-dzikir sebelum tidur lainnya.

Padahal di antara dzikir yang paling banyak dalam bukubuku doa dan dzikir adalah dzikir sebelum tidur. Di antara hikmahnya adalah karena tatkala seseorang tidur, seseorang memasrahkan dirinya kepada Allah karena dia tidak tahu apakah dia bisa bangun atau tidak setelah itu.

Akan tetapi karena lalai dengan gadget dan internetnya, sehingga orang banyak melupakan doa dan dzikir sebelum tidur tersebut. Tentunya ini adalah musibah.

Di antara musibah yang ditimbulkan oleh gadget dan media sosialnya adalah seorang suami-istri yang mungkin berada dalam satu ranjang, akan tetapi ternyata masing-masing sibuk dengan gadget dan media sosialnya.

Tidak ada pembicaraan canda tawa yang terjadi di antara mereka. Mereka masing-masing tersenyum dan tertawa hanya kepada gadgetnya. Mereka saling asik sendiri dengan gadgetnya. Dan entah berapa banyak maksiat yang mereka perhatikan dari timeline media sosialnya. Tentunya ini adalah musibah.

Kemudian di antara musibah lain dengan bermain gadget dan media sosial adalah betapa banyak maksiat yang kita lihat melalui media tersebut. Hampir kita semua ketika telah masuk dalam salah media sosial, pasti melihat sesuatu yang haram baik disengaja atau tidak disengaja.

Padahal dahulu orang-orang salih tatkala melihat aurat wanita atau sebaliknya, selalu merasa bahwa itu adalah perkara yang berat. Akhirnya sesuatu yang haram jadi tampak biasa dan rasa malu hilang pada diri seseorang baik kepada manusia atau bahkan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.

Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika ada orang yang bertanya kepada beliau dengan mengatkan:

“Wahai Rasulullah, bagaimana agar aku bisa selamat?" Rasulullah berkata, "Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu membuatmu lapang (tinggal di rumah), dan menangislah karena dosa-dosamu." (HR. Tirmidzi 4/605 no. 2406)

Dengan media sosial, betapa banyak orang ingin menjadi tenar dan terkenal. Padahal mencari ketenaran adalah sesuatu yang haram di dalam Islam. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

"Barangsiapa mengenakan pakaian kebesaran agar terkenal di dunia, maka Allah akan mengenakan baginya pakaian kehinaan pada hari kiamat." (HR. Ahmad 2/92 no. 5664).

Ketahuilah bahwa musibah yang ditimbulkan oleh internet dan media sosial bukan hanya menimpa orang awam, tetapi juga menimpa orang-orang yang salih lagi mulia, yang seharusnya mereka menjadi teladan bagi sebagian orang.

Di antara musibah bagi orang-orang seperti mereka adalahdengan akun media sosial mereka menceritakan seluruh amal ibadahnya dengan terperinci. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam Sahih Muslim,

"Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bertakwa, berkecukupan dan menyendiri." (HR. Muslim 4/2277 no. 2965)

Selain itu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menyembunyikan amal salih, maka lakukanlah." (Silsilah ash-Shahihah 5/398 no. 2313).

Wahai saudaraku, mengapa Anda bangga dengan banyaknya jumlah pengikut di media sosial mereka. apakah dengan banyaknya jumlah itu membuat kedudukan Anda tinggi di sisi Allah? Padahal kebenaran tidaklah diukur dengan jumlah dan ketenaran.

Ini menunjukkan bahwa tidak akan memberi pengaruh di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala atas jumlah pengikut kita di media sosial. Kalaupun ada orang yang memuji kita, biarkan dan jangan sampai kita terperdaya dengan pujian tersebut.

Ketahuilah bahwa saya tidak berbicara tentang orang awam, melainkan tentang para asatizah dan para da'i yang seharusnya menjadi panutan banyak orang dan betulbetul memerhatikan niat-niat mereka, “Amal yang paling aman dari gangguan syaithan adalah amal yang tersembunyi."

Sahabat, kita harus sadari bahwasanya umur kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu wa ta'ala. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah kaki seorang hamba bergeser (dari tempat penantiannya) pada hari kiamat hingga ia ditanya empat perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang badannya untuk apa ia gunakan, tentang harta dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta tentang ilmu untuk apa ia amalkan". (HR. Ad-Darimi 1453 no. 556).

Dalam hadits ini menunjukkan bahwa waktu kita akan dipertanyakan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala. Sedangkan waktu kita banyak terbuang dengan bermain media sosial. Semoga kita mampu berlaku bijak dan berhati-hati dalam bermedia sosial. Wallahualam Bissawab. (hmz)

Sumber:

- DR. Firanda Andirja, Lc, MA dalam buku Fiqih Bermedia Sosial.


Back to Top