:
:
Khazanah
Istanbul, Kota Dua Benua Bukti Kejayaan Islam Masa Ottoman

gomuslim.co.id – Kota Istanbul sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Sudah jelas, kota besar di daratan Turki itu menjadi salah satu destinasi wisata favorit para wisatawan mancanegara.

Keindahan alam dan kekayaan peninggalan sejarah di kota itu tentu menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan, sejak tahun 2010, Istanbul ditetapkan sebagai kota kebudayaan Eropa bersama dua kota lainnya yaitu Essen di Jerman dan Pecs di Hungaria.

Istanbul merupakan kota tempat bertemunya Timur dan Barat. Kota tersebut terletak di dua benua, Asia dan Eropa, sehingga disebut kota dua benua.

Istanbul menyimpan kebudayaan yang sangat beragam, yang terdiri dari kebudayaan Barat yang bercampur dengan kebudayaan tradisional dari Timur. Bangunan-bangunan dan benda-benda seni yang terdapat di Istanbul merupakan pencampuran dari kebudayaan asli Turki, Byzantium, dan Romawi.

Terlepas dari itu, bagaimanapun Istanbul menjadi bukti kejayaan Islam di masa Kesultanan Turki Utsmani (sering pula disebut Kekaisaran Ottoman). Ya, Istanbul adalah ibu kota dari Kesultanan Utsmaniyah.

Sejarah Singkat Istanbul

Semula, kota ini merupakan ibu kota Kerajaan Romawi Timur dengan nama Konstantinopel. Sebelumnya, Konstantinopel bernama Byzantium, lalu diganti dengan Konstantinopel oleh Kaisar Constantin, Kaisar Romawi Timur.

Pada tahun 395 M, Kerajaan Romawi pecah menjadi dua yakni Romawi Timur dan Romawi Barat. Romawi Barat beribu kota di Roma (Italia), sedangkan Romawi Timur beribu kota di Konstantinopel.

Konstantinopel jatuh ke tangan umat Islam pada masa Dinasti Turki Utsmani di bawah pimpinan Sultan Muhammmad II yang bergelar Muhammad al-Fatih (Mehmed II) pada tahun 1453, yang dijadikan sebagai ibu kota Kesultanan Turki Utsmani.

Jauh sebelum Sultan Muhammad II bisa menguasai Konstantinopel, para penguasa Islam sejak zaman Khulafaur Rasyidin, lalu khalifah Bani Umayyah, dan Bani Abbasiyah berusaha menaklukan Konstantinopel. Namun, baru pada masa Kesultanan Turki Utsmani, usaha ini berhasil.

Masa Kejayaan Islam

Setelah penaklukan Konstantinopel, Mehmed II segera melakukan pengaturan untuk merevitalisasi kota tersebut, yang sejak saat itu juga dikenal sebagai Istanbul. Ia mendorong kembalinya mereka yang telah melarikan diri dari kota selama pengepungan, memukimkan kembali kaum Muslim, Yahudi, dan Kristen dari bagian lain Anatolia.

Sang Sultan mengundang orang dari seluruh Eropa ke ibukotanya, membentuk suatu masyarakat kosmopolitan yang bertahan hingga sebagian besar periode Utsmaniyah. Mehmed II memperbaiki infrastruktur kota yang rusak, mulai membangun Grand Bazaar dan Istana Topkapı yang menjadi kediaman resmi sang Sultan.

Dengan pemindahan ibukota dari Edirne (dulunya Adrianopel) ke Konstantinopel, negara barunya dinyatakan sebagai penerus dan kelanjutan dari Kekaisaran Romawi.

Dinasti Utsmaniyah dengan cepat mentransformasi kota tersebut dari sebuah kubu pertahanan Kekristenan menjadi suatu simbol budaya Islam. Berbagai yayasan keagamaan didirikan untuk mendanai konstruksi masjid-masjid kekaisaran yang penuh ornamen, yang sering kali disatukan dengan sekolah, rumah sakit, dan pemandian umum.

Konstantinopel yang bermakna kota Constantin diubah namanya menjadi Istanbul yang berarti kota Islam. Sebagaimana pada masa Kerajaan Romawi Timur, Kesultanan Turki Utsmani dengan ibu kota Istanbul juga menjadi sebuah Negara adidaya pada masa kekuasaannya.

Wilayah kekuasaannya meliputi sebagian besar wilayah Eropa Timur, Asia Kecil, dan Afrika Utara. Bahkan, daerah-daerah Islam yang lebih jauh pun mengakui kekuasaan Istanbul.

Arsitektur

Dalam bidang arsitektur, di Istanbul, masjid-masjid yang dibangun membuktikan kemajuannya. Setelah menaklukkan Konstantinopel, Sultan Muhammad II yang saat itu berusia 21 tahun meminta supaya pasukannya tidak membantai warga kota dan tidak merusak bangunan yang ada.

Ia juga mengubah Katedral St. Sophia (Aya Sofia) menjadi masjid. Lantas, pada hari Jumat pertama setelah itu, yakni 2 Juni 1453, ia dan pasukannya menggelar salat Jumat di tempat tersebut.

Pada awal abad ke-17, Sultan Muhammad II mendirikan Masjid Biru di seberang Aya Sofia. Tidak seperti Aya Sofia yang mempunyai 4 menara, Masjid Biru memiliki 6 menara dan 36 kubah kecil di sekitar kubah induk. Dan sejak itulah, Aya Sofia menjadi museum. Namun tahun lalu, Presiden Turki, Erdogan kembali mengubah fungsi Aya Sofia menjadi masjid.

Lukisan-lukisan keramik peninggalan Katolik di dinding dan langit-langit Aya Sofia masih bisa disaksikan hingga sekarang. Untuk memberi nuansa Islam, Ottoman memasang 7 kaligrafi besar di ruang utama, yang masing-masing bertuliskan nama Muhammad, 4 khalifah pertama (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali), serta dua cucu Nabi Muhammad (Hasan dan Husein).

Pengaruh jatuhnya Konstantinopel sangat besar bagi Kesultanan Turki Utsmani. Kota tua itu adalah pusat Kerajaan Byzantium yang menyimpan banyak ilmu pengetahuan dan menjadi pusat agama Kristen. Semuanya ini diwarisi oleh Kesultanan Turki Utsmani.

Ditinjau dari segi letak, kota itu sangat strategis karena menghubungkan dua benua secara langsung, yakni Eropa dan Asia.

Istanbul merupakan pusat peradaban pada kekuasaan Kesultanan Turki Utsmani yang terpenting. Bukan hanya lantaran keindahan kotanya, melainkan juga di kota bekas pusat kekuasaan Romawi Timur itu terdapat pusat-pusat kajian keilmuan yang mendorong puncak kejayaan peradaban Islam.

Sumber:

Rizem Aizid. 2015. Sejarah Peradaban Islam Terlengkap. Yogyakarta: DIVA Press

 

Baca juga:

Isfahan, Pusat Peradaban Islam di Tanah Persia

Responsive image
Other Article