#Pusat-Pusat Peradaban Dunia Islam (7)

Isfahan, Pusat Peradaban Islam di Tanah Persia

gomuslim.co.id – Pusat-pusat peradaban Islam tersebar di berbagai wilayah. Salah satunya di Kota Isfahan (Persia). Kota Isfahan adalah kota tua yang didirikan oleh Yazdajird I (Buhtanashar), Raja Persia. Isfahan dikuasai oleh Islam pada tahun 19 H atau 640 M pada masa Umar bin Khattab.

Isfahan termasuk salah satu kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam. Beberapa dinasti Islam sempat menjadikan kota itu sebagai pusat pemerintahan, seperti Timurid, Buwaih, Seljuk, dan Safawi. Di masa kejayaan Islam, Isfahan menjadi kota yang maju dalam ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan perdagangan.

Isfahan juga merupakan tanah kelahiran Salman Al-Farisi, salah seorang sahabat Rasulullah SAW.

Dr Abdurrahman Rafat Al-Basya dalam Sirah Shahabat, mengutip penuturan Salam Al-Farisi. “Aku sebelumnya adalah seorang pemuda Persia dari keluarga besar penduduk Asfahan, tepatnya dari desa Jayyan. Sedangkan ayahku seorang pemimpin dari daerah tersebut. Kami berasal dari keluarga yang cukup. Bahkan, rumah kami yang terbaik di kampung itu,” tutur Salman.

Saat ini, Isfahan masuk wilayah Iran. Isfahan merupakan kota terbesar ketiga di Iran setelah Teheran dan Masyhad. Jumlah penduduknya mencapai lebih dari dua juta jiwa. Kota ini terletak sekitar 340 km selatan Teheran.

Isfahan disebut juga dengan nama 'Nisf-e Jahan' yang artinya separuh dari dunia. Maksudnya, siapa saja yang berkunjung ke Isfahan berarti bisa merasakan setengah keindahan dunia.

Secara geografis kota ini terletak di dataran Zayandeh-Rud yang subur, di kaki pegunungan Zagros. Kota ini menikmati iklim yang nyaman dan musim yang teratur. Hingga sejauh 90 km utara Isfahan tidak ada rintangan apapun. Angin utara bertiup dari arah ini.

Bagian selatan dan barat Isfahan bergunung-gunung dan di sebelah utara dan timurnya berbatasan dengan dataran yang subur. Dengan demikian iklim Isfahan berbeda-beda dan sesekali banyak turun hujan, dengan curah hujan rata-rata antara 100–150 mm.

Kejayaan Islam di Isfahan

Isfahan pernah menjadi salah satu kota terbesar di dunia. Kota ini berkembang antara tahun 1050 hingga 1722, khususnya di bawah dinasti Safawiyah pada abad ke-16 ketika kota ini dijadikan ibu kota Persia.

Pada waktu Abbas I, Sultan Safawiyah, Isfahan dijadikan sebagai ibu kota kerajaannya. Kota ini menjadi kota yang luas dan indah. Isfahan terletak di atas Sungai Zandah, dan di atasnya membentang tiga buah jembatan yang megah dan indah.

Pada tahun 625 H, terjadi pertempuran besar di Isfahan, ketika tentara Mongol datang menyerbu negeri-negeri Islam dan menjadikan Isfahan sebagai salah satu bagian dari wilayah kekuasaan Mongol. Saat Timur Lenk menyerbu negeri-negeri Islam pada tahun 750 H atau 1388 M, Isfahan pun jatuh di bawah kekuasaan Timur Lenk.

Setelah itu, Isfahan dikuasai oleh Kerajaan Turki Utsmani pada tahun 955 H atau 1548 M. pada tahun 1134 H atau 1721 M, terjadi pertempuran antara Husain Syah, Raja Safawiyah, dengan Mahmud al-Afghani, yang mengakhiri Kerajaan Safawiyah. Lantas, pada tahun 1141 H atau 1729 M, Isfahan berada di bawah kekuasaan Nadir Syah.

Di Isfahan, berdiri bangunan-bangunan indah seperti istana, sekolah-sekolah, masjid-masjid, menara, pasar dan rumah-rumah dengan arsitektur yang indah. Keunikan Isfahan sebagai asset budaya Timur Tengah tak lepas dari perjalanan sejarah yang teramat panjang.

Jejak Peninggalan Budaya Islam

Sejak berabad lalu, Isfahan terus mengalami perubahan budaya, dengan mewariskan banyak bangunan tua berarsitektur budaya Islam. Di antaranya adalah Masjid Jum’at dan Gedung Chahar Bagh.

Masjid Jum’at dianggap sebagai masjid paling tua di Isfahan. Masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 138 H, kira-kira pada zaman Dinasti Saljuk saat dikalahkan sebuah dinasti keturunan Jenghis Khan.

Masjid itu terletak berdekatan dengan tanah lapang yang dikenal dengan nama Lapangan Hijau, Darsdasth. Sebagaimana Masjid Jum’at, Gedung Chahar Bagh juga termasuk salah satu bangunan yang berusia sangat tua.

Gedung Chahar Bagh merupakan peninggalan Raja Shah Sultan Husein pada zaman Dinasti Safawiyah, sekitar tahun 1706 M. Bangunan ini dikenal sebagai ‘kawah candradimuka’ bagi orang-orang yang belajar ilmu agama pada zaman dulu.

Tak jauh dari Gedung Chahar Bagh, terdapat sebuah lapangan yang dinamakan Naqsh-e Jehaan  atau Maidan Naqse, yang bermakna peta dunia. Konon, dinamakan seperti ini lantaran tempat itu dianggap sebagai titik puast penunjuk jalan menuju sejarah budaya Islam dunia. Lapangan yang juga dikenal dengan nama Maidan Emam ini berdimensi 500 x 165 M persegi.

Sebagai kota wisata ternama di Iran, Isfahan terus berbenah diri untuk menyambut para wisatawan mancanegara. Salah satu caranya ialah dengan membangun sejumlah hotel dan penginapan di beberapa sudut kota.

Tetapi, dari sekian tempat akomodasi di Isfahan, Hotel King Abbas yang paling menarik perhatian wisatawan. Betapa tidak, bangunan hotel ini begitu megah dan mewah. Hotel berbintang lima itu terdiri atas 230 kamar.

Adapun yang menjadi daya tarik hotel tersebut adalah gaya arsitekturnya yang mengagumkan. Hotel dibangun dengan merujuk kepada arsitektur zaman Safavid, yakni menitikberatkan pada konsep kekokohan atap dan penyangga bangunan.

Hotel itu semakin indah berkat tampilan sejumlah gambar dan simbol-simbol natural yang didominasi oleh warna zamrud. Hotel tersebut kian menawan dengan terhamparnya taman luas yang disebut Taman Persia. 

Sumber:

Rizem Aizid. 2015. Sejarah Peradaban Islam Terlengkap. Yogyakarta: DIVA Press

 

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top