#Pusat-Pusat Peradaban Dunia Islam (6)

Kairouan, Kota Suci Keempat dan Simbol Perabadan Islam di Afrika 

gomuslim.co.id – Kairawan atau Kairouan adalah sebuah kota yang terletak di bagian utara Tunisia dan ibukota dari Provinsi Kairouan. Kota ini terletak di selatan Sousse, 50 KM dari pantai timur atau 184 KM dari kota Tunis. Kota ini dibangun oleh orang Arab sekitar tahun 670 M.

Pada periode Dinasti Umayyah, kota Kairouan menjadi pusat pendidikan Islam dan pembelajaran Alquran, sehingga menarik sejumlah besar muslim dari berbagai belahan dunia. Kota ini juga menjadi pusat kebudayaan Islam dan bagian dari situs warisan dunia UNESCO.

Masjid Uqba terletak di Kairouan, dan ini dianggap oleh banyak muslim sebagai kota suci keempat bagi umat Islam setelah Makkah, Madinah, dan Baitul Maqdis. Kairouan juga merupakan simbol peradaban Islam di Afrika. Sebab, ini sebagai kota pertama yang dibangun setelah kedatangan Arab muslim ke Benua Afrika.

Pusat Pendidikan dan Warisan Dunia Islam

Saat ini, kota Kairouan menjadi bagian dari warisan dunia Islam. Bahkan, pada tahun 2009, Kairouan ditetapkan sebagai ibukota budaya dunia Islam. Seiring penaklukan Islam atas wilayah Afrika, Uqba bin Nafik, panglima pasukan Islam, menaklukan Afrika Utara pada tahun 670 M, dan mendirikan kota Kairouan di Tunisia.

Ia membangun kota itu bertujuan menempatkan kaum muslimin guna menyebarkan Islam di Afrika. Oleh karena itu, kota tersebut sebagai batu pijakan bagi sejarah peradaban Islam di barat Arab.

Uqba bin Nafik mengumpulkan semua penduduk Kairouan ketika pertama kali memasuki kota itu. Lantas dia berkata kepada mereka, “Allah SWT telah memenuhi kota ini dengan para ulama dan fuqaha, serta menemukan kemuliaan dengan Islam. Wahai Allah SWT, jauhkanlah kota ini dari penistaan dan fitnah,”

Sejak masa itu dan setelahnya, Kairouan terkenal sebagai kota yang maju, terutama pada era Dinasti Aghlabiyah. Kota ini juga menjadi pusat ilmu pengetahuan dan budaya. Kebanyakan pemikir dan ulama dari kota-kota tertentu, seperti Baghdad, Kufah, Bashrah, bahkan Yunani, datang ke Kairouan demi menimba berbagai disiplin ilmu pengetahuan.

Dinasti Aghlabiyah memilih Kairouan sebagai ibukota, serta berupaya secara maksimal guna membangun kota itu. Kairouan telah menjadi pusat peradaban dan budaya dari masa ke masa.

Di antara ciri khas kota Kairouan adalah pembangunan Baitul Hikmah sebagai universitas Islam pertama, sekaligus pusat berkumpulnya para pemikir dan ulama besar dunia.

Sebenarnya, tidak banyak kegiatan ilmiah dan pemikiran terbentuk di tempat itu. Bahkan, Syekh Sahnun bin Said bin Habib at-Tanukhi, Malik bin Anas, serta mayoritas ulama lain mengenyam pendidikan di Baitul Hikmah.

Sebagaimana Kordoba di Andalusia dan Fas di Maroko yang dikenal sebagai pusat ilmiah muslim, Kairouan juga termasuk pusat ilmiah yang pertama di Afrika. Kairouan memainkan peran kunci di bidang pengajaran dan pendidikan, serta penyebaran ilmu agama.

Peninggalan Sejarah

Arsitektur kota Kairouan mencapai puncaknya ada masa Fatimiyah, saat bangunan-bangunan bersejarah dibangun guna menunjukan dimensi spiritual ilmiah dan pengetahuan. Kairouan berubah menjadi kota agama dan aktivitas keagamaan, yang mencapai puncaknya pada bulan suci Ramadan dan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Semua bangunan di Kairouan didirikan dengan megah dan bernuansa Islami, khususnya Masjid Uqba bin Nafik sebagai peninggalan Islam terbesar di Afrika. Masjid ini juga dikenal sebagai Masjid Agung Kairouan, serta salah satu masjid paling penting di Tunisia.

Masjid itu dibangun oleh Uqba bin Nafik pada tahun 670 M di atas tanah seluas 9.000 M persegi. Karenanya, masjid ini termasuk salah satu tempat ibadah tertua di dunia Islam, serta sebagai model bagi semua masjid di Afrika.

Semula, Masjid Agung Kairouan berukuran sangat kecil, dan atapnya hanya ditopang oleh tiang-tiang yang tegak lurus. Namun, sesuai dengan perkembangan zama, masjid itu diperluas dan mengalami perubahan signifikan. Bentuk luar masjidnya tampat seperti benteng yang memagari semua area.

Masjid Agung Kairouan tergolong salah satu monument Islam yang paling mengesankan dan terbesar di Afrika Utara. Akan tetapi, tak lama setelah pembangunannya, masjid ini hancur selama pendudukan Barbar atas kota Kairouan, lalu dibangun kembali oleh Hasan bin Nukman al-Ghassanid pada tahun 703 M.

Pada thaun 836 M, Ziadet Allah merekonstruksi Masjid Agung Kairouan sekali lagi secara keseluruhan. Menara masjidnya setinggi 31,5 M dengan alasa persegi 10,7 M pada sempat sisinya, serta berdiri kokoh dan masif di sisi utara masjid. Menara itu dianggap sebagai menara tertua dalam dunia Islam, sekaligus sebagai banguanan dunia tertua yang masih berdiri.

Karena usia dan arsitekturnya yang khas, menara Masjid Agung Kairouan menjadi model menara di dunia Islam Barat. Dengan tampilan yang kokoh dan dekorasi yang inda, menara dan Masjid Agung Kairouan tampi sebagai struktur yang harmoni dan menakjubkan.

Peninggalan sejarah lainnya di kota Kairouan adalah Masjid Tiga Pintu yang dibangun pada tahun 866 M. Masjid Tiga Pintu menjadi pusat peradaban agama Islam. Masjid ini juga menjadi pusat berkumpulnya persaudaraan kaum muslim di Negara Tunisis.

Dengan desain tiga pintu besar yang melengkung di bagian atasnya, tampak jelas adanya pengaruh khsa Andalusia. Tiga pintu masjid yang melengkung dihiasi dekorasi kaligrafi ayat sudi Alquran. Sedangkan dua pintu di antaranya diselingi relief ukiran bunga dan mahkota yang indah.

Sayangnya Masjid Tiga Pintu yang berwarna kuning bata ini tidak dapat dikunjungi oleh orang-orang beragama lain, selain Islam. Tetapi mereka tetapi diperbolehkan mengagumi desain unik Masjid Tiga Pintu dari luar Masjid.

Selain Masjid, ada juga Pusat Studi Islam Kairouan yang didirikan pada tahun 1988. Lembaga publik ini diawasi oleh Departemen Pendidikan Tinggi Tunisia. Pusat studi itu berperan menegaskan peradaban Islam dan kontribusinya terhadap kemanusiaan dalam beragam bidang.

Kemudian melakukan penelitian di bidang ilmu-ilmu Islam, memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan promosi studi Islam, memberitahukan hasil penelitian dan mempublikasikan riset.

Tidak hanya itu, pusat studi itu berperan mengumpulkan naskah-naskah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan Islam dan menyediakan indeksasi komputerisasi, menjalin kerjasama dengan pusat penelitian lain, serta merencanakan pertemuan ilmiah dan konferensi dunia.   

Sumber:

Rizem Aizid. 2015. Sejarah Peradaban Islam Terlengkap. Yogyakarta: DIVA Press

 

Baca juga:

Damaskus, Kota Tertua yang Jadi Saksi Kejayaan Islam 

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top