:
:
Khazanah
Damaskus, Kota Tertua yang Jadi Saksi Kejayaan Islam 

gomuslim.co.id – Setelah Makkah, Madinah, Baghdad dan Kairo, kota lainnya yang menjadi pusat peradaban Islam adalah Damaskus (Syria). Bagi umat Islam, khususnya yang peduli terhadap sejarah Islam, pasti tidak asing lagi dengan kota yang satu ini. Ya, kota itulah yang dijuluki sebagai kota para nabi dan rasul.

Sejak Khalid bin Walid, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan sahabat lainnya masuk kawasan Syam, berubahlah tanah kelahiran para nabi dan rasul itu sebagai negeri Islam.

Bahkan, tidak lama sepeninggal Nabi Muhammad SAW, yakni pada masa Bani Umayyah, pusat pemerintahan Islam pindah ke Damaskus. Berabad-abad lamanya, Damaskus menjad pusat peradaban dan pemerintahan Bani Umayyah.

Damaskus merupakan salah satu kota yang selalu dihuni tertua di dunia, selain Al-Fayyum, dan Gaziantep. Damaskus dibangun sekitar 3.000 tahun SM. Populasinya saat ini diperkirakan sekitar 3.67 juta jiwa.

 

Secara geografis, Damaskus terletak di sebelah Barat Daya Suriah. Ibu kota Republik Arab Suriah itu berada di oasis suatu dataran separuh gersang. Damaskus juga berbatasan dengan Pegunungan Anti-Lebanon di sebelah Timur.

Di sebelah Tenggara, kota ini berdekatan dengan Beirut, Lebanon. Damaskus juga dilalui Sungai Barada yang telah mengalirkan air selama ribuan tahun.

Penguasa Damaskus dari Masa ke Masa

Berganti zaman, berganti pula penguasa Damaskus. Secara bergantian, kerjaan Assyria, Yunani, Romawi dan Bizantium menguasai wilayah itu. Islam mulai menginjakkan pengaruhnya di kota itu pada era kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab.

Panglima perang seperti Khalid bin Walid, Amr bin AS, Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abu Sufyan berhasil menunaikan tugasnya untuk menaklukan Suriah dan Palestina dari kekuasaan Romawi. Secara resmi, Damaskus berada dalam kekuasaan Islam pada September 635 M. Proses Islamisasi berlangsung damai dan lancar. Penguasa Islam tetap menghormati kebebasan beragama.

Sejak itulah, Suriah menjadi salah satu provinsi pemerintahan Khulafa Rasyidin yang berpusat di Madinah. Gubernur pertama Suriah adalah Mu'awiyah bin Abu Sufyan. Pada era kepemimpinannya, Usman bin Affan kerap berkunjung ke provinsi itu.

Ketika konstelasi politik di dunia Islam berubah, pada tahun 661 M Mu'awiyah bin Abu Sufyan mendirikan Dinasti Umayyah dan mendapuk Damaskus sebagai ibu kota pemerintahannya.

Salah satu agenda Dinasti Umayyah adalah perluasan wilayah penyebaran Islam hingga ke Afrika Utara, Spanyol, Asia Tengah, Persia, serta India. Sehingga wilayah kekuasaan Islam pada abad pertengahan semakin meluas. Sekitar tahun 750 M, Dinasti Umayyah digulingkan Dinasti Abbasiyah dan ibu kota pemerintahan berpindah ke Baghdad.

Ketika kekuasaan Abbasiyah memudar, pada 875 M penguasa Mesir Ahmad ibnu Tulun mengambil alih kota itu. Pada 945 M, Dinasti Hamdanids mengambil alih Damaskus. Sekitar tahun 968 M dan 971 kota itu dikuasai Qaramita. Setelah itu, Dinasti Fatimiyyah di Kairo menguasai Damaskus. Sejak abad ke-11, Dinasti Seljuk menguasai kota itu.

Pada 1260 M bangsa Mongol menaklukan Damaskus. Tiga abad berikutnya, Turki Usmani berkuasa di kota itu. Pada 1946 Suriah memproklamirkan kemerdekaannya. Hingga kini, Damaskus tetap menjadi ibu kotanya.

Masjid Agung Damaskus

Di Damaskus, masjid-masjid dibangun megah. Perpustakaan-perpustakaan sebagai pusat studi riset dan ilmiah pun didirikan di sana. Dari kota itu pula, ulama-ulama Islam lahir sebagai pengiring perjalanan umat dan mengarahkan perjuangan agama. Adapun yang membuat kota ini berbeda dengan kota lainnya adalah keberadaannya di Syam, negeri para nabi dan rasul.

Syam merupakan lama bagi beberapa Negara, yakni Palestina, Jordania, Lebanon, dan Suriah (Syria) yang telah tersirat dan tersurat dalam Alquran dan hadits.

Di Damaskus, terdapat Masjid Agung Damaskus yang megah dan agung. Masjid ini dibangun oleh Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik tahun 88-97 Hijriyah atau 706-715 Masehi, dengan arsiteknya bernama Abu Ubaidah bin Jarrah. Untuk keperluan pembangunannya, Al-Walid mendatangkan 12.000 tukang ahli dari Romawi.

Bangunan masjid ini mempunyai nilai seni yang luar biasa. Pilar-pilar dan dinding-dindingnya diukir dengan ukiran-ukiran yang indah, serta ditaburi dengan aneka batu bernilai tinggi. Masjid yang panjangnya 300 M dan lebarnya 200 M itu dibangun di atas 68 pilar yang kokoh, dengan biaya 11.200.000 dinar atau setara dengan 33.600.000 dolar Amerika.  

Masjid yang berlokasi di kota lama Damaskus ini masjid yang terbesar dan tertua di kota itu. Bahkan, Masjid ini dianggap sebagai tempat suci ke empat dalam Islam. Dibangun di atas runtuhan tempat peribadatan Romawi, tempat menyembah Dewa Jupiter, dengan mengadopsi tipe bangunan Masjid Nabawi di Madinah.

Ciri masjid ini adalah memiliki tiga menara yang merupakan usaha pembuatan menara pertama di daerah Syam (Suriah dan sekitarnya) dan empat pintu yang dihiasi dengan mosaik. Sisa-sisa mosaik itu masih ada sampai sekarang di bagian terpenting di dalam pintu Albarid, pintu barat masjid. Pada masa dahulu masjid ini menyimpan banyak kitab dan manuskrip.

Sumber:                

Rizem Aizid. 2015. Sejarah Peradaban Islam Terlengkap. Yogyakarta: DIVA Press

Republika

 

Baca juga:

Kairo, Pusat Peradaban Islam Pertama di Daratan Afrika

Responsive image
Other Article