#Pusat-Pusat Peradaban Dunia Islam (3)

Baghdad, Kota ‘Seribu Satu Malam’ Saksi Bisu Keemasan Islam Masa Abbasiyah

gomuslim.co.id – Setelah dua kota suci, Makkah dan Madinah, kota ketiga yang menjadi pusat peradaban Islam adalah Baghdad (sekarang Irak). Kota ini didirikan di tepi barat Tigris pada tahun 762-767 oleh kekhalifahan Abbasiyah yang dipimpin oleh Khalifah Al-Manshur.

Bisa jadi, kota ini dibangun di bekas sebuah perkampungan Persia. Dalam jangka waktu satu generasi sejak didirikan, Baghdad telah menjadi pusat pendidikan dan perdagangan.

Beberapa sumber memperkirakan, bahwa Baghdad hanya memiliki lebih dari 1.000.000 penduduk. Meskipun yang lainnya menyatakan bahwa angka sebenarnya boleh jadi hanya sebagian dari jumlah tersebut. Sebagian besar penduduknya berasal dari seluruh Iran, terutama Khurasan.

Seribu Satu Malam

Sebagian besar kisah dalam Seribu Satu Malam berlokasi di Baghdad (yang biasa disebut madinat as-salam atau kedamaian oleh Shahrazad). Di dalam Seribu Satu Malam, dikisahkan tentang pemimpinnya yang paling dihormati, yakni Harun ar-Rasyid. Ada pula cerita Sinbad yang termasyhur.

Selain itu, Seribu Satu Malam juga memuat kisah-kisah yang melambangkan kehebatan budaya Baghdad selama masa keemasannya sebagai pemimpin dunia Arab dan Islam yang diakui.

Dalam sejarahnya, Baghdad dihuni oleh umat manusia sejak 4.000 SM. Dahulu, kota ini menjadi bagian dari Babylonia Kuno. Dan sejak tahun 600-500 SM, secara bergantian dikuasai oleh Persia, Yunani, dan Romawi.

Kota Baghdad berarti taman keadilan. Pentingnya Baghdad menarik perhatian khalifah kedua, yakin Umar bin Khattab. Maka, diutuslah seorang sahabat bernama Sa;ad bin Abi Waqqas untuk menaklukan kota itu.

Singkat cerita, penduduk setempat menerima agama Islam dengan sangat baik, sehingga agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ini dipeluk oleh mayoritas masyarakat Baghdad.

Dinasti Abbasiyah yang menjadikan Baghdad sebagai salah satu kota metropolitan pada era keemasan Islam. Pembangunannya diprakarsai oleh Khalifah Abu Ja’far al-Manshur (754-775 M), yang memindahkan pusat pemerintahan Islam dari Damaskus ke Baghdad.

Khalifah kedua dari Dinasti Abbasiyah itu, pada tahun 762 M, menyulap kota kecil Baghdad menjadi sebuah kota baru yang megah.

Pemilihan Baghdad sebagai pusat pemerintahan Dinasti Abbasiyah didasarkan pada beragam pertimbangan, seperti politik, keamanan, sosial, dan geografis. Sedangkan Damaskus, Kuffah, dan Basrah yang lebih dulu berkembang tidak dijadikan lawan politik Dinasti Abbasiyah, yaitu Dinasti Umayyah yang baru dikalahkan.

Pada abad ke-8 dan 9, Baghdad dianggap sebagai kota terkaya di dunia. Para pedagang Tiongkok, India, dan Afrika Timur bertemu di sana, saling bertukar benda-benda kebudayaan, serta melambungkan Baghdad menjadi Renaissance intelektual.

Rumah sakit dan observatorium dibangun di Baghdad. Para penyair dan seniman dibina di sana. Dan kartya besar Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Baghdad termasuk salah satu kota terbesar dan paling kosmopolitan di dunia, sekaligus menjadi rumah bagi umat muslim, Kristiani, Yahudi, serta penganut paganism dari seluruh Timur Tengah dan Asia Tengah.

Sejak awal berdiri, Baghdad telah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Itulah sebabnya, Philip K. Hitti menyebutnya sebagai kota intelektual. Menurutnya, di antara kota-kota dunia, Baghdad merupakan professor masyarakat Islam.

 

Baca juga:

Makkah, Kota Suci Umat Islam dan Pusat Peradaban Pertama

 

Di Baghdad, Al-Manshur memerintahkan penerjemahan buku-buku ilmiah dan kesusastraan dari bahasa asing, yakni India, Yunani Lama, Byzantium, Persia, dan Syria. Maka dari itu, para peminat ilmu dan kesusastraan segera berbondong-bondong datang ke sana.

Setelah masa al-Manshur, kota Baghdad menjadi lebih masyhur berkat perannya sebagai pusat perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam. Banyak ilmuwan dari berbagai daerah datang ke kota ini guna mendalami ilmu pengetahuan.

Masa Keemasan Islam

Masa keemasan kota Baghdad terjadi pada zaman pemerintahan Khalifah Harun ar-Rasyid (786-809 M) dan anaknya, Al-Makmun (813-833 M). dari kota itulah memancar sinar kebudayaan dan peradaban Islam ke seluruh dunia.

Prestise politik, supremasi ekonomi, dan aktivitas intelektual merupakan tiga keistimewaan Baghdad. Kebesarannya tidak terbatas pada negeri Arab, melainkan meliputi seluruh negeri Islam.

Saat itu, Baghdad menjadi pusat peradaban dan kebudayaan tertinggi di dunia. Ilmu pengetahuan dan sastra juga berkembang sangat pesat. Banyak buku filsafat yang sebelumnya dipandang sudah mati dihidupkan kembali dengan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Khalifah al-Makmun mempunyai perpustakaan yang dipenuhi dengan beribu-ribu buku ilmu pengetahuan. Perpustakaannya bernama Bait al-Hikmah.

Pada masa Abbasiyah, di Baghdad juga didirikan akademi dan sekolah tinggi. Sedangkan, perguruan tinggi yang terkenal adalah An-Nizhamiyah, yang didirikan oleh Nizamul Mulk (5 H) dan Al-Muntashir Billah (abad ke-7 H).

Lahirnya Ulama dan Ilmuwan Hebat

Dari Baghdad, lahirlah karya-karya sastra yang indah. Di antaranya adalah Seribu Satu Malam. Dari kota ini, muncul para ilmuwan, ulama, filsuf, dan sastrawan terkenal, di antaranya adalah Al-Khawarizmi (tokoh astronomi dan matematika, sekaligus penemu ilmu aljabar), Al-Kindi (filsuf Arab pertama, serta Imam Al-Ghazali (ilmuwan dan ulama ternama).

Kemajuan Baghdad di bidang ilmu pengetahuan itu berpengaruh besar terhadap kota-kota Islam lainnya, seperti Kairo, Basarah, Kuffah, Damaskus, Samarkand, Bukhara, dan Khurasan (saat ini disebut Iran). Para pelajar dari kota-kota itu berdatangan ke Baghdad guna menuntut ilmu.

Era keemasan Dinasti Abbasiyah juga mencetak penemuan-penemuan dan inovasi penting yang sangat bermanfaat bagi manusia. Salah satu di antaranya adakag pengembangan teknologi pembuatan kertas.

Sumber:

Rizem Aizid. 2015. Sejarah Peradaban Islam Terlengkap. Yogyakarta: DIVA Press

 

Baca juga:

Madinah, Kota Nabi Muhammad dan Pusat Peradaban Islam Kedua

Komentar

    Tulis Komentar

    Kode Acak

    *Ket : Masukkan kode di atas sesuai tulisan, perhatikan huruf dan angka


Back to Top