Penjelasan Gus Baha Tentang Isra’ Mi’raj

gomuslim.co.id – Setiap tahun, umat Islam memperingati Isra’ Mi’raj. Perjalanan agung Nabi Muhammad SAW menuju langit ketujuh untuk menerima perintah dari Allah SWT. Peristiwa ini terjadi pada suatu malam, pada tanggal 27 Rajab.

Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsa di Jerusalem. Sementara, Miraj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari bumi menuju Sidratul Muntaha, langit ke tujuh yang merupakan tempat tertinggi.

KH Ahmad Bahauddin Nur Salim atau yang akrab disapa Gus Baha menjelaskan bahwa mayoritas ulama berpendapat, peristiwa Isra’ Mi’raj itu terjadi sebagai pelipur lara dari Allah SWT kepada Rasulullah SAW, setelah beliau mengalami dua kesedihan.

Nabi ditinggal seorang paman bernama Abu Thalib yang menjadi tameng atas serangan-serangan kaum kafir Quraisy. Abu Thalib adalah bangsawan Arab dari klan terhormat bernama Quraisy.

Di tahun yang sama, Nabi Muhammad juga ditinggal istri tercinta, Khadijah. Seorang penopang finansial dakwah Nabi.

"Periode Makkah adalah masa tersulit bagi Nabi Muhammad. Ia mempunyai status sebagai minoritas dan kehidupan sehari-harinya dikucilkan. Satu-satunya orang yang bisa menggaransi hidup Nabi Muhammad adalah pamannya, Abu Thalib. Secara kasta sosial, kekuatan Nabi ditopang oleh istrinya, Khadijah," jelas Gus Baha.

Dengan ditinggal matinya kedua orang yang menyokong Rasulullah baik secara moral (Abu Thalib) maupun material (Khadijah), tahun ini dikenal dengan ‘âmul huzn atau tahun duka. Secara psikologis manusia normal, atas dua musibah yang beruntun tersebut menjadikan kejiwaan Nabi terguncang.

Kegoncangan psikologi Nabi bersumber dari masyarakat Arab kala itu yang sudah terlanjur terdikte oleh propaganda ulama Yahudi dan Nasrani. Orang kafir Makkah adalah orang-orang bodoh yang mudah dikelabuhi tokoh Yahudi dan Nasrani saat itu. Pemuka Yahudi ini dijadikan sumber konsultasi masyarakat Arab dan mereka menjadi yakin atas doktrin mitos yang diembuskan.

Mitosnya adalah tidak mungkin jika ada Nabi yang lahir di luar garis keturunan Bani Israil. Nabi-nabi itu tidak jauh-jauh dari Palestina. Nabi Ibrahim, Isa, Yahya, Zakariya, Musa, semuanya dari komunitas Masjidil Aqsha.

Sehingga karena virus hoaks tersebut, ketika Nabi Muhammad memproklamasikan diri mendapatkan wahyu dari Tuhan, orang Arab menanggapinya dengan kalimat yang dikutip Alquran sebagai berikut:

Artinya: (Kami turunkan Alquran itu) agar kalian (tidak) mengatakan, "Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca.” (QS Al-An’am: 156)

Atas keraguan orang Arab, mereka mencoba menelisik lebih dalam kepada Nabi Muhammad, “Hai Muhammad, nabi-nabi itu semua dari Palestina. Kalau kamu memang benar-benar Nabi, apakah kamu tahu ke arah mana masjid itu menghadap, berapa jumlah tiangnya?

Dengan pertanyaan itu, pada hakikatnya Nabi Muhammad SAW sedang diasah intelektualitasnya oleh Tuhan melalui proses isrâ’. Ini yang menjadikan Nabi Muhammad bisa menjawab bahwa jumlah pintu Masjid al-Aqsha itu sekian, wajah dan perilaku Nabi Musa begini, wajah Nabi Ibrahim itu begini sekaligus memberikan pemahaman kepada kita bahwa para nabi selain diuji secara fisik seperti diludahi, shalat dilempari batu, kotoran dan lain sebagainya, mereka juga diuji secara intelektual.

Ujian intelektual Nabi Muhammad dimulai dari periode Makkah sampai Madinah. Para Rahib Yahudi sering menanyakan hal-hal yang menurut mereka hanya akan mampu dijawab oleh orang yang benar-benar utusan Tuhan. Apabila tidak utusan Tuhan, pasti tidak akan mampu menjawab. Seperti suatu saat Nabi Muhammad ditanya, “Makanan apa yang dikonsumsi pertama kali oleh penduduk surga?”,

“Mengapa pula jika ada orang mempunyai anak, anaknya bisa mirip kepada bapak atau ibunya?”, serta aneka macam pertanyaan lain. Pertanyaan yang dilandasi keraguan oleh masyakarat Arab pada masa itu sebenarnya hanya bermotif politis.

Mereka hanya mempunyai satu tujuan yaitu mendelegitimasi kenabian Baginda Rasul, namun faktanya menunjukkan bahwa Nabi Muhammad tetap tidak jauh-jauh dari komunitas nabi yang berada di Palestina. Israil dalam bahasa Alquran menunjukkan anak keturunan Ya’qub.

Di antara salah satu keturunan Nabi Ya’qub ada yang namanya Yahuda. Dari keturunan itu, menjadi cikal bakal Bani Israil. Begitu pula Nabi Muhammad. Ia tidak jauh dari Bani Israil. Nabi Muhammad kalau dirunut, merupakan keturunan Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim memiliki dua anak. Yang satu, Ismail. Ia ditinggal Ibrahim saat masih bayi di samping Kakbah.

Kisah ini dijelaskan dalam ayat yang artinya: Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Dari Nabi Ismail yang menjadi putra Ibrahim, lahirlah generasi-generasi berikutnya di antara seseorang bernama Adnan.

Adnan mempunyai keturunan-keturunan hingga Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagaimana diceritakan dalam kitab Al-Barzanji yang artinya : Tanpa diragukan, Adnan mempunyai nasab secara genetik kepada Nabi yang pernah disembelih bernama Ismail.

”Sekali lagi, Nabi Muhammad menjadi keturunan Ismail sebenarnya diketahui oleh pemuka Yahudi dan Nasrani. Namun mereka ingin menggagalkan kepercayaan (trust) bahwa Muhammad itu Nabi. Hal ini juga mendorong mereka berbuat licik yaitu dengan cara memanggil Nabi Muhammad yang keturunan klan bangsawan, namun dipanggil dengan panggilan “Muhammad bin Abi Kabsyah” yang berarti anak penggembala kambing. Orang Arab tahu kalau Nabi Muhammad itu keturuan bangsawan besar Arab dari klan Quraisy," papar Gus Baha.

Panggilan sebagai putra Abdullah bin Abdul Muthallib otomatis menaikkan strata sosial beliau di mata masyarakat. Ini dihindari oleh orang-orang kafir Quraisy.

Di satu sisi, secara fakta, saat Muhammad kecil memang pernah diasuh oleh penggembala kambing yang kemudian tercatat sejarah bahwa Nabi Muhammad kecil pernah menggembala kambing yang terbawa secara naluri alamiah basyariyahnya dari rutinitas perawatnya saat Nabi masih kecil.

Penggembalanya bukan ayahnya sendiri Abdullah. Abdullah meninggal saat Nabi Muhammad masih di kandungan ibunya, Sayyidah Aminah. Permainan kata itu memang jelas diceritakan dalam Alquran.

Artinya : Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS At-Taubah: 32)

Oleh karena propaganda pengolahan kata ini, disebutkan dalam kitab Târîkhus Suyûthî yang artinya : Dengan permainan kata-kata orang Yahudi, beberapa orang sahabat menjadi murtad.

"Saat Rasulullah mendapatkan wahyu Alquran, kemudian ada nâsikh-mansûkh ("amandemen" ayat) misalnya, propaganda yang dilancarkan adalah “Lihatlah, masak nabi plin-plan (berubah-ubah) begitu. Dulu katanya kiblat shalat ke arah Baitul Maqdis. Kiblat tersebut sudah tepat karena sesuai kiblatnya Nabi Musa. Mengapa sekarang menjadi bergeser ke arah Kakbah? Hal ini pasti karena Muhammad sedang kangen sama keluarganya yang ada di Makkah sana, sehingga ia hadapkan kiblat ke sana. Kangen yang merupakan urusan personal Muhammad, tapi anehnya ia menghubungkan dengan masalah kiblat," jelas Gus Baha.

“Begitulah kira-kira cercaan orang kafir Makkah. Kalau kita melihat sejarah, protes tersebut muncul setelah 16 bulan Baginda Nabi di Madinah. Saat itu, shalat masih menghadap ke arah Baitul Maqdis di Palestina, kemudian Allah menurunkan wahyu:

Artinya: Maka sungguh aku palingkan mukamu ke arah kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. (QS Al-Baqarah: 144).

Sejak saat itu, papar Gus Baha, Alquran turun sesuai dengan nalar sejarah. Ilmiah dan tidak mitos. Menjadikan Alquran tidak bisa dibantah sebagaimana pula yang disebutkan di ayat berikut:

Artinya: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; (QS Ali Imran: 96-97)

Dengan ayat ini, Nabi Muhammad berani menantang orang-orang Yahudi. Apa salahnya saya punya dua kiblat? Kiblat saya di Baitul Maqdis, karena memang Nabi Musa, Nabi Isa di sana.

Sekarang saya menghadap kiblat yang lain, yaitu kiblatnya Ibrahim. Dia lebih senior. Secara sejarah, Makkah lebih tua peradabannya. Adapun Nabi Musa, Isa mempunyai periode setelah Ibrahim. Setelah penjelasan ilmiah ini, sahabat-sahabat menjadi bangga mempunyai kiblat shalat yang dua sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits.

Kisah di atas menunjukkan, kiblat orang Islam ke arah Makkah bukan berdasar mitos atau kultus, tapi bisa dibuktikan secara ilmiah. Seumpama Nabi Muhammad berkata “Karena nabinya sekarang saya, maka kiblatnya terserah saya”, Itu sah-sah saja.

Namun, ternyata tidak demikian. Nabi lebih bisa menyodorkan bukti secara ilmiah sehingga bisa diterima akal sehat. Jika kita ingin melihat buktinya sendiri, di Masjidil Haram sekarang dapat kita saksikan ada maqam Ibrâhim, yaitu tempat di mana Nabi Ibrahim melakukan ibadah. Ada lagi hijir Ismail. Hijir itu berarti hujrah, artinya kamar. Hijir Ismail berarti kamarnya Ismail, letaknya ada di samping Kakbah.

Kembali ke masalah Isra’. Nabi Muhammad dalam menjalani Isra’, selain menjalani proses ritual, juga mengasah intelektualitas. Ia bertemu dan diskusi dengan Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan nabi-nabi yang lain, sehingga apa yang dilakukan Nabi Muhammad, relnya sama dengan nabi-nabi pendahulunya.

Tradisi pertemuan secara langsung ini dikenal dengan tradisi sanad. Atau di pesantren dikenal dengan sanad muttashil. Apabila sanad tidak bersambung, nanti akan terjadi penyimpangan yang merusak. Masing-masing orang berhak memahami agama sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Oleh karena itu, setiap nabi harus punya platform atau karakter yang sama dengan nabi-nabi yang lain dengan cara bertemu secara langsung. Dalam pendidikan intelektual Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam saat Isra’, selain bertemu para nabi terdahulu, juga dikenalkan karakter-karakter nabi tersebut.

Di dalam Alquran diceritakan kisah-kisah Nabi yang diutus sebelum Nabi Muhammad. Dengan menceritakan itu, akan menjadikan kebijakan dan pola pikir Nabi Muhammad selaras dengan yang dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu (mushaddiqan limâ baina yadaih). Contohnya Nabi Muhammad diberi cerita oleh Allah tentang kisah Nabi Ibrahim yang ayahnya penyembah patung.

Bagi Nabi Ibrahim, ini merupakan problem. Ayahnya sendiri tidak patuh kepada Allah. Dengan kisah tersebut, Nabi Muhammad menjadi faham, yang menghadapi problem keluarga tidak hanya beliau sendiri, tapi Nabi Ibrahim juga menghadapi problem keluarga yang sama bahkan lebih berat Ibrahim.

Nabi Muhammad lebih ringan karena yang tidak taat keluarga Nabi Muhammad hanya berhenti kepada level paman saja, Abu Jahal, Abu Lahab dan lain sebagainya, tidak seperti Ibrahim yang sampai ayahnya kafir, tidak mau beriman kepada Allah.

Nabi Nuh anaknya tidak patuh, Nabi Luth istrinya menjadi penghianat, Nabi Musa yang temperamental. Semuanya diceritakan Alquran untuk mengajari Nabi Muhammad. (TribunJatim)


Back to Top