Tradisi Bertani Dalam Peradaban Islam

gomuslim.co.id – Sahabat gomuslim, ternyata tradisi bercocok tanam atau bertani sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan, bercocok tanam atau pertanian menjadi anjuran Nabi Muhammad SAW karena bernilai jariyah bagi pelakunya.

Indonesia sendiri merupakan negeri agraris yang memiliki kondisi tanah yang sangat subur. Tak heran, banyak sekali lahan-lahan di Indonesia yang dapat menumbuhkan berbagai jenis tanaman yang bisa kita manfaatkan untuk penghidupan.

Dalam suatu hadis riwayat al-Bukhari (2152) dan Ahmad (12038) disebutkan, “Tidak lah seorang muslim yang berkebun dan bertani, lalu ada burung, manusia atau hewan yang memakan darinyaa, kecuali bernilai sedekah bagi muslim tersebut.”

Sedangkan dalam Hadis lain riwayat Ahmad (12512) juga menyebutkan, “Kalaupun kiamat datang, lalu di tangan seorang muslim tergenggam sebatang tunas tanaman, maka hendaklah ia menanamnya selagi sempat, karena demikian itu terhitung pahala baginya.”

Penegasan Alquran dan amanat Nabi melalui hadisnya menunjukkan bahwa pertanian amat penting bagi keberlangsungan hidup umat manusia. Kebutuhan atas makanan adalah hal yang primer yang tak terbantah.

Ukuran kemakmuran suatu bangsa juga dinilai atas pemenuhan terhadap kebutuhan dasar warganya, dan yang paling utama ialah pangan. Tidak mungkin sebuah bangsa yang masih terdapat kelaparan atau kekurangan bahan makanan disebut makmur meskipun telah mencapai kemajuan dalam pembangunan di berbagai bidang.

Inilah yang harusnya dijiwai oleh segenap muslim, bahwa pertanian selain berdimensi duniawi, ada jaminan bahwasanya juga berdampak ukhrawi karena ada kemanfaatan yang bernilai jariyah dan terhitung pahala.

Dikisahkan, para sahabat Nabi merupakan orang-orang yang sangat perduli dengan perihal cocok tanam. Ditengah kesibukan para sahabat-sahabat Nabi seperti Utsman bin Affan, Abu Darda, Abdurrahman bin Auf dan banyak sahabat yang lain, mereka masih menyempatkan waktu berkebun sebagaimana diriwayatkan dalam banyak atsar, salah satunya termaktub dalam al-Taratib al-Idariyyah karya Abdul Hayyi al-Kattani, suatu kali Abu Hurairah ditanya tentang integritas (muru’ah), beliau menjawab, “Takwa kepada Allah dan berkebun.

Sejarah pertanian di zaman Islam awal itu ibarat hamparan padang hijau yang menyejahterakan umat manusia. Capaian kemajuannya direkam dengan baik oleh Jasier Abu Safieh dalam Gleanings from the Islamic Contribution in Agriculture. Dalam pengantar tulisannya, terungkap bahwa pertanian Islam ditemukan akarnya dalam Alquran dan hadis.

Upaya-upaya serius dalam bidang ini telah meninggalkan cetak biru ilmu agrikutur, sistem irigasi, perawatan sungai, kebijakan reforma agraria yang memberi hak milik bagi siapapun yang telah menghidupkan lahan tersebut, telah dikenal dan diimplementasikan sejak dulu di Islam.

Setidaknya, ada beberapa bukti literatur yang menegaskan kemajuan bidang pertanian di tangan muslim, kitab al-filahah karya Ibn ‘Awwam yang diterjemah ke dalam bahasa Spanyol oleh  Joseph Antonio Banqueri (Madrid: Imprenta Real, 1802), kitab ini dinilai berkontribusi besar bagi perkembangan agronomi.

Ada lagi al-Mukhassas karya Ibn Sidah yang membantu kemajuan pertanian dari sisi kebahasaan karena menjadi sumber rujukan bagi ilmu anatomi tanaman. Zohor Idrisi telah memetakan literatur karya ilmuan muslim dalam bidang pertanian dalam The Muslim Agricaltural Revolution.(mga)

Sumber: Alif.id


Back to Top