Peran Umat Islam dalam Kemerdekaan Bangsa Indonesia

gomuslim.co.id – Bangsa Indonesia sudah memasuki usia ke-75 tahun merdeka sejak The Founding Father, Ir Soerkarno membacakan teks proklamasi pada tahun 1945 silam sebagai tanda berakhirnya penjajahan di tanah air.

Perjuangan untuk memperolah kemerdekaan Indonesia tidaklah muncul begitu saja. Namun melalui proses perjuangan panjang yang telah mendahuluinya.

Perjuangan umat Islam melawan penjajahan kolonial Portugis, Belanda, dan Inggris dimulai dari kerajaan-kerajaan. Kemudian diteruskan oleh perjuangan rakyat semesta yang dipimpin sebagian besar oleh para ulama.

Jadi, perjuangan ini dirintis sejak dari perlawanan kerajaan-kerajaan Islam. Kemudian diteruskan dengan munculnya pergerakan sosial di daerah-daerah, yaitu perlawanan rakyat terhadap kolonial/penjajahan dan para agen-agennya, sampai dengan munculnya kesadaran bernegara yang merdeka.

Dalam perjuangan di kawasan nusantara, khususnya Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, maka peranan ajaran Islam dan sekaligus umat Islamnya punya arti yang sangat penting dan tidak dapat dihapus dalam panggung sejarah Indonesia.

Ajaran Islam untuk Melawan Penjajahan

Ajaran Islam yang dipeluk oleh sebagaian besar rakyat Indonesia telah memberikan kontribusi besar, serta dorongan semangat, dan sikap mental dalam perjuangan kemerdekaan. Tertanamnya “ruhul Islam” yang di dalamnya memuat antara lain:

Pertama, jihad fi sabilillah, telah memperkuat semangat rakyat untuk berjuang melawan penjajah ( sartono kartodirdjo, 1982). Dengan semangat jihad, umat akan melawan penjajah yang dlolim, termasuk perang suci, bila wafat syahid, sorga imbalannya.

Kedua, ijin berperang dari Allah SWT sebagaimana dalam Alquran surat Al-Hajj: 39. “Telah diijinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, sesungguhnya mereka itu dijajah/ditindas, maka allah akan membela mereka (yang diperangi dan ditindas)”.

Ketiga, symbolbegrijpen (simbol kalimat yang dapat menggerakkan rakyat), yaitu “takbir” Allahu Akbar, selalu berkumandang dalam era perjuangan umat Islam di Indonesia.

Keempat, hubul wathon minal iman”, cinta tanah air sebagian dari iman, menjadikan semangat partiotik bagi umat Islam dalam melawan penjajahan.

Pada kesimpulannya, dr. Douwwes Dekker (Setyabudi Danudirdja) menyatakan bahwa 'Apabila tidak ada semangat Islam di Indonesia, sudah lama kebangsaan yang sebenarnya lenyap dari Indonesia” (dalam Aboebakar Atjeh: 1957, hlm.729).

Dengan demikian, ajaran Islam yang sudah merakyat di Indonesia ini punya peranan yang sangat penting, berjasa, dan tidak dapat diabaikan dalam perjuangan di Indonesia.

Peranan Umat Islam

Umat Islam Indonesia punya peranan yang menentukan dalam dinamika perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan. Perjuangan ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian. 

Pertama, perjuangan kerajaan-kerajaan Islam melawan kolonial

Dimulai sejak awal masuknya bangsa barat dengan pendekatan kekuatan yang represif (bersenjata), maka dilawan oleh karajaan-kerajaan Islam di kawasan nusantara ini.

Perjuangan ini antara lain, Malaka melawan serangan Portugis (1511) diteruskan oleh Ternate di Maluku (Portugis berhasil dihalau sampai Timor Timur). Kemudian Makasar melawan serangan Belanda (VOC), Banten melawan serangan Belanda (VOC), dan Mataram Islam juga melawan pusat kekuasaan Belanda di Batavia (1628-1629) dan masih banyak lagi. 

Mereka gigih, dan Belanda pun kalangkabut. Namun setelah ada politik “Devide et Impera” (pecah belah), satu persatu kerajaan ini dapat dikuasai.

Meskipun demikian, semangat rakyat tidak pudar melawan penjajahan kolonial. Maka selanjutnya perjuangan melawan penjajahan diteruskan oleh rakyat dipimpin ulama.

Kedua, perjuangan rakyat dipimpin oleh para ulama

Setelah kaum kolonial berhasil menguasai kerajaan-kerajaan di Indonesia, namun umat Islam bersama para ulamanya tidak berhenti melawan penjajahan. Munculah era gerakan sosial merata di seluruh pelosok tanah air. 

Ulama sebagai elite agama Islam memimpin umat melawan penindasan kedzaliman penjajah. Sejak dari Aceh muncul perlawanan rakyat dipimpin oleh Teungku Cik di Tiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien. 

Di Sumatera Barat muncul Perang Paderi dipimpin oleh Imam Bonjol. Perlawanan KH Hasan dari Luwu, Gerakan r. Gunawan dari Muara Tembesi Jambi, gerakan 3 haji di Dena Lombok, gerakan H Aling Kuning di Sambiliung Kalimantan Timur, gerakan muning di Banjarmasin; gerakan Rifa’iyah di Pekalongan; gerakan KH Wasit dari Cilegon; perlawanan KH. Jenal Ngarib dari Kudus; perlawanan KH Ahmad Darwis dari Kedu, perlawanan Kyai Dermojoyo dari Nganjuk; dan masih banyak lagi.

Dari perlawanan itu, sesungguhnya pihak Belanda sudah goyah kekuasaaanya. Sebagai bukti tiga perlawanan, rakyat Aceh, Sumatera Barat, dan Java Oorlog (Diponegoro) telah mengorbankan 8.000 tentara Belanda mati dan 20.000.000 gulden kas kolonial habis. Oleh karena itu, mereka kemudian mencari jalan lain, yaitu mengubah politik kolonialnya dengan pendekatan “welfere politiek” (politik kemakmuran) untuk menarik simpati rakyat jajahan. 

Namun, pada kenyataannya politik itu dijalankan dengan perang kebudayaan dan idiologi. Terutama untuk memecah dan melemahkan potensi umat Islam Indonesia yang dianggapnya musuh utama pemerintah kolonial.

Ketiga, pergerakan nasional di Indonesia

Sebelum memesuki era pergerakan nasional, pihak kolonial mencoba politik kemakmuran dan balas budi. Munculah politik 'etische' oleh Van Deventer; politik assosiasi oleh Ch. Snouck Hurgronje; dan politik De Islamisasi (Dutch Islamic Polecy) oleh Christiaan Snouck Hurgronje. 

Kelihatannya politik itu humanis untuk kesejahteraan rakyat. Namun karena landasannya tetap kolonialisme, maka jadinya tetap eksploitatif dan menindas rakyat. Khusus politik De Islamisasai sangat merugikan umat Islam. 

Itu karena memecah umat Islam jadi dua dikotomi abangan dan putihan. Membenturkan ulama dengan pemuka adat. Memperbanyak sekolah untuk mendidik anak-anak umat Islam agar terpisah dari kepercayaan pada agama Islamnya. Menindas segenap gerakan politik yang berdasar Islam.

Membangun masjid dan memberangkatkan haji gratis untuk meredam gerakan Islam. (Snouck Hurgronje, Islam in De Nederlansch Indie).

Akibat dari politik kolonial di atas, maka perjuangan melawan kolonial menjadi terpecah. Menurut thesis Endang Syaifuddin Anshari, perjuangan di Indonesia terpecah jadi dua kelompok besar yaitu Nasionalis Islami dan Nasionalis Sekuler. Kondisi inilah sampai sekarang masih tampak dalam dinamika perpolitikan kita.

Sebagai salah satu yang penting pelopor awal pergerakan nasional di Indonesia ialah umat Islam, yaitu pada tanggal 16 oktober 1905, lahir Sarekat Dagang Islam (SDI) (baca wawancara Tamardjaja dengan H. Samanhudi, 1955, di majalah Syiyasyah 1974), yang kemudian tahun 1912 menjadi Sarekat Islam (SI), sebagai gerakan ekonomi dan politik.

Keempat, peran umat Islam dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan

Dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), umat Islam punya peranan penting. Pertama, secara fisik umat Islam dengan Laskar Hisbullah-Sabilillah, kemudian diteruskan Asykar Perang Sabil (APS) dan laskar Islam lainnya di daerah, gigih berjuang membantu TKR (TNI) untuk mempertahankan NKRI dengan perang gerilanya melawan sekutu-NICA (Netherland Indie Civil Administration, Belanda) yang akan kembali berkuasa di Indonesia.

Secara fisik pula Laskar Hisbullah-Sabilillah yang kemudian diteruskan oleh markas ulama APS bersama pasukan TNI dari Siliwangi melawan pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) 18 september 1948 (dipimpin oleh Muso dan Amir Syarifuddin), yang akan menghancurkan NKRI dan akan membentuk pemerintahan komunis Indonesia, menjadi bagian atau satelit dari commitern komunis internasional yang berpusat di Moskow, Rusia.

Pemberontakan PKI 1948 ini berjalan secara biadab, membantai para ulama dan santri, membantai kaum nasionalis, membantai pamong praja. Dapat digambarkan ada suatu gedung untuk pembantaian yang darahnya menggenang sampai satu kilan. 

Dengan adanya kerjasama antara kelaskaran umat Islam, kelaskaran kaum nasionalis, dengan TNI berhasil menghancurkan kekejaman dan kebiadaban pemberontakan PKI 1948.

Setelah kemerdekaan dan adanya maklumat wakil presiden X/1946, bangsa Indonesia dipersilakan mendirikan partai politik. Dalam hal ini pada awalnya aspirasi politik umat Islam ditampung dalam satu wadah, meneruskan namanya yaitu Majelis Syurau Muslimin Indonesia (Masyumi), dalam ikrar Persatuan Umat Islam ”Panca Cita”.

Nah, demikian setengah perjalanan peranan Islam dan umat muslim dalam kemerdekaan republik Indonesia. Semoga kita selalu mensyukuri berkah kemerdekaan bangsa kita. Aamiin. (mga)

Sumber: Adaby Darban


Back to Top