Tolak Bayaran Meski Sepeser, Ini Sosok Arsitek Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

gomuslim.co.id - Bagi umat Islam yang sudah menapakkan kaki ke Kota Makkah Arab Saudi, pasti akan merasa kagum kagum dengan megahnya bangunan Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Kemegahan kedua kota itu ternyata tidak terlepas dari peran seorang ahli arsitek asal Mesir. Di balik kemegahannya itu, ada tangan-tangan ajaib yang mampu membuat masjid-masjid suci itu menakjubkan.

Adapun sosok di balik kemegahan Masjid yang Agung itu, adalah Dr Mohammad Kamal Ismail, seorang arsitek muda yang lahir di Provinis Dakahlia di Kota Mit Ghamr.

Ia disebutkan sebagai orang termuda dalam sejarah Mesir yang memperoleh sertifikat sekolah menengah, yang lanjut terdaftar di Royal School of Engineering untuk pertama kalinya, dan kembali menjadi yang termuda selepas lulus dari sekolah itu.

 

Baca juga:

Netizen Ramai Bicarakan Lantai Masjidil Haram yang Dingin Walau Udara Panas

 

Ia kemudian dikirim ke Eropa untuk mendapatkan tiga gelar doktor dalam Arsitektur Islam. Tak hanya itu, ia juga mendapatkan syal “Nil” dan pangkat “Besi” dari sang raja, demikian dilansir dari laman Isma Times, Jumat (10/7/2020).

Kamal Ismail baru menikah saat menginjak usia 44 tahun. Ia dikaruniai seorang putra namun sayang, ia kehilangan seluruhnya saat istrinya melahirkan. Selepas itu, ia tetap melajang dan mengabdikan seluruh hidupnya kepada Allah SWT hingga hembusan nafas terakhirnya pada 2 Agustus 2008.

Dalam sejarahnya, Insinyur asal Mesir itu diminta Raja Fahd bin Abdulaziz Al Saud untuk merencanakan dan melaksanakan perluasan dua masjid suci. Kamal, laki-laki kelahiran 13 September 1908 itu memang jauh dari sorotan, tapi buah karyanya tak bisa diragukan.

Mohammad Kamal Ismail merupakan insinyur pertama dari Mesir yang menggantikan insinyur asing di Mesir. Usai lulus sekolah menengah, Ismail muda masuk sekolah teknik Kerajaan dan mengejar gelar doktornya dalam bidang arsitektur di Eropa.

Kecerdasannnya sudah tampak sejak kecil. Dia menyabet gelar lulusan termuda di setiap jenjang pendidikan, termasuk sebagai kandidat termuda yang dikirim ke Eropa untuk program doktoral dari Mesir.

Saat diminta Raja Fahd memperluas bangunan Masjdil Haram dan Masjid Nabawi, Ismail tidak sedikitpun mengharapkan upah. Bahkan ketika Raja Fahd dan Perusahaan bin Laden menawarkan cek kosong untuk diisi sendiri Ismail, dia menolak dengan sopan.

“Jika saya mengambil uang atas (perluasan) dua masjid suci, bagaimana saya akan menyembunyikan wajah ini dari Tuhan kita,” ujar Ismail.

Dalam hal pekerjaan, Ismail merupakan sosok yang sangat teliti dan penuh pertimbangan terutama dalam merancang perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

pria cerdas ini mengidekan untuk menggunakan marmer khusus yang akan menutupi lantai Masjidil Haram yang biasa dipakai untuk tawaf. Marmer jenis Thasos dapat menyerap kelembaban di malam hari dan mempertahankan suhu yang sejuk di siang hari sekalipun panas menyengat. Marmer ini hanya tersedia di gunung kecil di Yunani.

Demi mewujudkan arsitektur sesuai rancangannya, ia melakukan perjalanan ke Yunani, dan menandatangani kontrak untuk membeli jumlah yang cukup untuk seluruh lapisan dasar dari Masjidil Haram, yakni sekitar hampir dari setengah gunung.

Saat kembali ke Makkah, ia mendapati marmer tersebut telah datang dan segera menempatkan marmer-marmer itu di lantai masjid suci tersebut hingga rampung.

Selang 15 tahun berlalu, pemerintah Saudi kembali menghubunginya dan meminta jenis marmer serupa untuk melapisi dasar masjid suci di Madinah (Masjid Nabawi). Mendengar permintaan tersebut, Kamal menjadi cukup bingung karena hanya ada satu tempat yang memproduksi marmer ini, yakni Yunani.

Terlebih transaksi yang pernah ia lakukan sudah sangat lama terjadi. Kamal kemudian bergegas pergi ke perusahaan yang dulu ia sambangi di Yunani dan izin untuk bertemu dengan pemimpin perusahaan itu.

Saat menanyakan sisa marmer yang masih tersimpan, pemilik perusahaan itupun mengatakan bahwa semuanya telah terjual setelah Kamal membelinya 15 tahun silam.

Bersedih, Kamal kemudian meninggalkan gedung itu seraya mengatakan pada sekretaris di sana untuk memberitahunya jika mengetahui keberadaan seseorang yang membeli sisa stok marmer terakhir saat itu.

Responsnya mengatakan bahwa hal tersebut cukup sulit, lantaran ia harus membuka kembali catatan lama beberapa tahun silam untuk mengetahui keberadaan pembeli itu. Kamal pun berserah diri, berharap Allah akan mengizinkan sesuatu hal baik akan terjadi.

 

Baca juga:

Mualaf Ini Bangun Perekonomian Umat dengan Bisnis Kopi Coger Cabang 18

 

Tak disangka, hari berikutnya, sekretaris memberitahu Kamal melalui panggilan telepon bahwa ia menemukan alamat pembeli. Ia pun kembali menuju kantor marmer tersebut dan melihat alamatnya, seketika ia merasa kaget lantaran alamat pembeli yang tertulis ialah sebuah perusahaan Arab Saudi.

Ia pun langsung bergegas untuk kembali ke Arab Saudi pada hari yang sama, dan sesampainya, ia segera menuju ke perusahaan yang membeli marmer tersebut. Bertemu dengan seseorang dari bagian admin, ia menanyakan tentang keberadaan marmer yang pernah dibeli oleh perusahaan tersebut dari Yunani.

Langsung saja, orang tersebut menghubungi ruang stok perusahaan. Takjubnya, marmer putih asal Yunani tersebut tersedia dalam jumlah yang lengkap, dan tak pernah digunakan sama sekali.

Suasana berubah menjadi penuh haru. Seraya menitikkan air mata, Kamal menceritakan kisah panjangnya tersebut kepada pemilik perusahaan itu. Kamal tak segan memberikan cek kosong dan memintanya untuk menuliskan jumlah yang orang itu inginkan.

Namun, setelah mengetahui bahwa marmer tersebut akan dipergunakan untuk pembangunan situs suci, pemilik perusahaan itu pun menolak dengan sopan.

Saat mengawasi jalannya pekerjaan pun, Ismail merupakan sosok yang jarang sekali memuji. Tapi Raja Fahd dan Raja Abdullah mempercayai Ismail.

Proyek perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi banyak sekali insinyur, seniman, dan pengrajin yang terlibat. Dalam surat kabar Islamiche Zeitung, disebutkan ada 600 insinyur yang terlibat dalam pekerjaan tersebut.

Mahmoud Bodo Rasch salah satu insinyur muda yang turut andil dalam proyek perluasan dua masjid suci. Selama pengerjaan perluasan masjid, Bodo Rasch mengaku sangat kagum dengan Kamal Ismail yang merupakan kepala Rasch dalam proyek perluasan tersebut. Bodo Serch menyatakan banyak belajar tentang ornamen Islam dari Dr Kamal Ismail.

Bodo Rasch dipercaya mendesain dan konstruksi 27 kubah lipat. Masing-masing kubah tersebut memiliki berat 80 ton, dibangun di atas sasis baja yang dilengkapi dengan empat motor masing-masing 3 kW dan dapat membuka atau menutup kubah sekitar 400 meter persegi dalam 70 detik.

Lapisan luar kubah terbuat dari keramik tradisional, tetapi pada cetakan serat karbon. Kubah bagian dalam terbuat dari kayu lapis yang ditutupi dengan ukiran kayu tradisional dari Maroko. Batu semi mulia dan daun emas dimasukkan ke dalam ornamen ini.

Inilah Kamal, Arsitek Masjidil Haram dan masjid nabawi yang memilih tidak menerima sepeserpun uang hasil jasanya, karena menurutnya inilah cara Allah Ta'ala untuk melibatkan dirinya dalam proses perjalanan pembangunan bangunan suci bagi umat Islam tersebut. (Mr/ismatimes/ihram/okezone)


Back to Top