Mengenal Sejarah Perkembangan Mazhab Syafi’i

gomuslim.co.id - Allah SWT mengutus Rasulullah SAW ke dunia ini dengan membawa agama, supaya hidup manusia lebih terarah. Para sahabat belajar agama langsung kepada Rasulullah SAW. 

Setiap ada permasalahan di dalam agama, para sahabat bisa bertanya lansung kepada Nabi SAW. Sehingga ada di antara para sahabat yang menjadi rujukan bagi sahabat yang lain, seperti Abu Bakar AsSiddiq, Umar bin Khathab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib. Ibnu Mas’ud, Muaz bin Jabal, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, dan lain-lain.

Setelah Rasulullah SAW wafat, banyak para sahabat yang hijrah ke pelosok negeri untuk mendakwahkan agama Allah, seperti Ibnu Abbas di Mekah, Ibnu Umar di Madinah, Ibnu Mas’ud di Kufah, Muaz bin Jabal di Yaman.

Ketika di hadapkan dengan suatu kasus yang tidak terdapat di dalam Alquran dan Sunnah, maka mereka berijtihad, dan ijtihad mereka itu di jadikan rujukan oleh murib-muribnya.

Ijtihad mereka itulah yang di namakan Mazhab, sehingga kita mendengar ada istilah mazhab Ibnu Umar di Madinah, Mazhab Ibnu Abbas di Makkah dan Mazhab Ibnu Mas’ud di Kufah.

Kemudian murib para sahabat atau di namakan Tabi’in, mereka mengajarkan Mazhab gurunya kepada muribnya lagi yang dinamakan tabi’ut Tabi’in, terus seperti itu, sehingga Mazhab mereka sampai kepada kita.

Lalu, bagaimana perkembangan dakwah Mazhab Syafi’i? berikut penjelasannya:

Perkembangan Mazhab Syafi’i dari Tahun 195 H Sampai 270 H

Perkembangan Mazhab Syafi’i di Baghdad, Iraq (Munculnya Qaul Qadim). Pada tahun 189 H, Imam Syafi’i kembali ke Makkah setelah berguru kepada salah satu murid terbaik Imam Abu Hanifah yaitu Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani ( 189 H) tentang Fikih dan Ushul Fiqh Imam Abu Hanifah (Mazhab Ahlu Ro’i) selama 5 tahun, mulai dari tahun 184 H sampai tahun 189 H.

Beliau meninggalkan kota Baghdad dan kembali ke Makkah setelah wafat gurunya pada tahun 189 H. Ketika berada di Makkah, Imam Syafi’i berperan aktif di bidang pendidikan dan fatwa. Beliau membuka pengajian rutin di salah satu sudut Masjidil Haram. Banyak orang dari penjuru dunia datang untuk mengambil ilmu dari beliau. Hal inilah yang menyebabkan nama beliau begitu terkenal di berbagai penjuru negeri.

Pada tahun 195 H, Imam Syafi’i berangkat ke Baghdad untuk yang kedua kalinya, namun kali ini beliau bukan dalam rangka belajar akan tetapi mengajarkan Mazhabnya yang telah beliau bentuk selama berada di Makkah.

Salah satu penyebab beliau sangat digemari oleh orang-orang baghdad pada saat itu adalah karna beliau menguasai 2 metode dalam menyimpulkan hukum:

  1. Metode Ahli Hadist yang beliau pelajari dari Imam Malik (179 H) ketika beliau berada di Madinah
  2. Metode Ahli Ro’i yang beliau pelajari dari Muhammad bin Hasan Asy-Syabani (189 H) murib Abu Hanifah ketika beliau berada di Baghdad.

Di samping aktif menulis, imam syafi’i juga berperan aktif dalam membantah syubhat-syubhat yang tersebar luas di kalangan ulama-ulama Baghdad. Diantara syubhat tersebut adalah mereka lebih memilih berhujjah dengan Qiyas, Istihsan, istishlah, dan lain-lain di banding berhujjah dengan hadits Nabi SAW, sehingga beliau di beri gelar Nashiru Al-Sunnah (penolong Sunnah).

Diantara syubhat tersebut adalah mereka lebih memilih berhujjah dengan Qiyas, Istihsan, istishlah, dan lain-lain di banding berhujjah dengan hadist Nabi SAW, sehingga beliau di beri gelar Nashiru Al-Sunnah (penolong Sunnah).

Perkembangan Mazhab Syafi’i

Pada akhir tahun 199 H, Imam Syafi’i berangkat ke Mesir untuk menyebarkan Mazhabnya. Selama berada di Mesir, beliau banyak merevisi fatwa-fatwanya yang sudah beliau rumuskan ketika berada di Baghdad dan menulis ulang menjadi sebuah kitab yang berjudul Al Uum.

Selain merevisi kitab fikih, beliau juga merevisi kitab Ushul Fiqh yang di sebut dengan Ar- Risalah Al Jadidah, sehingga kitab yang Mu’tamad dalam Mazhab Syafi’i adalah kitab yang beliau tulis di Mesir.

Muhammad bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Ahmad: apa pendapat anda mengenai kitab Imam Syafi’i yang beliau tulis di Iraq dan yang di Mesir.? Imam Ahmad Berkata: hendaklah kalian berpegang dengan kitab yang beliau tulis di Mesir.

Salah satu penyebab utama Imam Syafi’i banyak merevisi fatwa-fatwanya ketika berada di Mesir adalah karna beliau banyak bertemu dengan ulama-ulama besar seperti Amr bin Abi Salamah Ad-Dimasyqi (214 H) murib Imam Al-Auzai’ (158 H), Yahya bin Hasan (208 H) murib Imam Al-Laits bin Sa’ad (175), Abdullah bin Abdul Hakam (210 H) murib Imam Malik bin Anas (179 H).

Banyak sekali orang yang menimba ilmu dari Imam Syafi’i, dari sekian banyak murib beliau hanya 3 orang yang paling terkenal antusias dalam mendakwahkan pemahaman gurunya.

Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Mazhab Syafi’i

Mulai tahun 195 H sampai tahun 270 H, tidak ada satupun Qadhi atau Hakim dari kalangan Mazhab Syafi’i, rata-rata yang memiliki kedudukan di pemerintahan adalah ulama dari kalangan Mazhab Hanafi, bahkan yang menjadi Qadhi atau Hakim di Mesir yang dalam tanda kutib merupakan basis penyebaran Mazhab Syafi’i, juga ulama dari kalangan Mazhab Hanafi.

Pada fase ini, tidak ada satupun murib Imam Syafi’i yang menulis kitab tentang Ushul Fiqh, kecuali Husain bin Ali Al Karabisi yang banyak menulis kitab tentang Ushul Fiqh sebagaimana disebutkan oleh Abu Ishaq AsySyairozi (476 H).

Sedangkan yang lain berpegang dengan kitab Ar-Risalah yang di tulis oleh Imam Syafi’i dan mengajarkan kepada murib-murib mereka melalui jalur periwayatan.

Imam al Muzani mengatakan: saya telah mengkaji kitab Ar-Risalah karya Imam Syafi’i selama 50 tahun, setiap kali saya mengkaji kitab tersebut, selalu mendapatkan faedah baru yang belum saya ketahui sebelumnya.

Orang-orang yang belajar Mazhab Syafi’i kemudian mengkaji kitab-kitab yang menjadi rujukan dalam Mazhab Syafi’i, bukan berarti mereka ta’asub kepada Imam Syafi’i dan tidak menerima masukan Mazhab lain. Buktinya banyak para ulama yang sebelumnya bermazhab Syafi’i, setelah keilmuannya mencapai derajat Mujtahid Mutlaq, mereka buat Mazhab sendiri. Berikut beberapa ulama yang menjadi Mujtahid Mutlaq setelah mendapat didikan dari Mazhab Syafi’i. Wallahua'lam Bisshawab. (hmz)

Sumber:

- Sejarah Perkembangan Mazhab Syafi’I, Teuku Khairul Fazli, Lc, Rumah Fiqih Indonesia


Back to Top