#TataSuryadalamAlquran (3)

Isyarat Alquran tentang Awal Mula Penciptaan Alam Semesta

gomuslim.co.id - Alquran ternyata banyak memberikan isyarat ilmu pengetahuan. Tak sedikit ilmuwan yang akhirnya mengakui kebenaran pesan sains dari kitab yang diturunkan 14 abad silam itu. Salah satu diantaranya yang secara redaksional disinggung Alquran adalah adanya proses penciptan alam semesta atau teori Big Bang.

Teori Big Bang yaitu teori terbentuknya alam semesta yang menyatakan bahwa pada awalnya alam semesta merupakan satu kesatuan, kemudian terjadi ledakan besar yang menghasilkan pecahan-pecahan dan meluas. Teori Big Bang adalah teori penciptaan bumi yang paling diakui di era modern.

Kesesuaian yang harmoni antara Alquran dengan Teori Big Bang adalah suatu hal yang tidak dapat dielakkan lagi. Hal ini sudah dijelaskan Allah dalam Alquran 1.400 tahun silam.

Allah SWT berfirman:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. Al-anbiya:30)

Dari ayat tersebut, terlihat jelas kesesuaian antara ayat Alquran dan teori Big Bang. Persamaan keduanya tidak bisa dihindari.

Disebutkan bahwa kata 'ratk' dalam bahasa Arab merujuk sebagai 'suatu yang padu, bercampur, dan bersatu'. Kata itu digunakan untuk menyebut dua zat yang berbeda yang bercampur menjadi satu.

 

Baca juga:

Sebelum Teori Big Bang, Alquran Sudah Jelaskan Awal Penciptaan Alam Semesta

 

Kalimat 'kami pisahkan' merupakan terjemahan dari kata kerja bahasa Arab, yaitu 'fatk' yang berarti terjadi pemisahan dari struktur 'ratk'. Jadi menurut ayat ini, langit dan Bumi pada awalnya bersatu (ratk), kemudian dipisahkan.

Pendapat Para Ahli Tafsir dan Ulama

Dalam QS. Al-Anbiya ayat 30 ini seluruh mufasir sepakat bahwa ayat ini membahas tentang kekuasaan Allah SWT dalam meciptakan alam semesta termasuk penciptaan bumi dan langit.

Tafsir Ibnu Katsir

Allah Ta’ala berfirman mengingatkan tentang kekuasaan-Nya yang sempurna dan kerajaan-Nya yang agung. “Dan apakah orang-orang yang kafir itu tidak mengetahui”, yaitu orang-orang yang mengingkari kekuasaan Allah. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah adalah Rabb Yang Maha Esa dalam penciptaan lagi bebas dalam penataan, maka bagaimana mungkin Dia layak disekutukan bersama yang lain-Nya? Apakah mereka tidak mengetahui bahwa langit dan bumi dahulunya adalah bersatu? Lalu berpecah-belah, maka langit menjadi tujuh dan bumi menjadi tujuh serta antara langit dan bumi dipisahkan oleh udara, hingga hujan turun dari langit dan tanah pun menumbuhkan tanam-tanaman. 

Untuk itu Dia berfirman: “Dan dari air, Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” yaitu, mereka menyaksikan berbagai makhluk, satu kejadian demi kejadian secara nyata. Semua itu adalah bukti tentang adanya Maha Pencipta yang berbuat secara bebas lagi Maha kuasa atas apa yang dikehendaki-Nya.

Tafsir Al-Mishbah

Berbeda-beda pendapat ulama tentang firman-Nya ini. Ada yang memahaminya dalam arti langit dan bumi tadinya merupakan gumpalan yang terpadu. Hujan tidak turun dan bumipun tidak ditumbuhi pepohonan, kemudian Allah membelah langit dan bumi dengan jalan menurunkan hujan dari langit dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di bumi. Ada lagi yang berpendapat bahwa bumi dan langit tadinya merupakan sesuatu yang utuh tidak terpisah, kemudian Allah pisahkan dengan mengangkat langit ke atas dan membiarkan bumi tetap ditempatnya berada dibawah lalu memisahkan keduanya dengan udara.

Ayat ini dipahami oleh sementara ilmuan sebagai salah satu mukjizat Alquran yang mengungkap peristiwa penciptaan planet-planet.  Banyak teori ilmiah yang dikemukakan oleh para pakar dengan bukti-bukti  yang cukup kuat, yang menyatakan bahwa langit dan bumi tadinya merupakan satu gumpalan atau yang diistilahan oleh ayat ini dengan  ratqan. Lalu gumpalan itu berpisah sehingga terjadilah pemisahan antar bumi dan langit.

Tafsir Jalalain

Menurut Tafsir Jalalain, apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu. Kemudian Allah telah menjadikan langit tujuh lapis dan bumi tujuh lapis pula. Kemudian langit itu dibuka sehingga dapat menurunkan hujan yang sebelumnya tidak dapat menurunkan hujan. Kami buka pula bumi itu sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, yang sebelumnya tidak dapat menumbuhkannya.

“Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup”. Maksudnya airlah yang menjadi penyebab bagi seluruh kehidupan baik manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Namun mengapalah orang-orang kafir tiada juga beriman terhadap keesaan Allah.

Pandangan dr. Zakir Naik

Zakir Naik, pendakwah dari tanah Hindustan dalam bukunya, Miracles of Al-Quran and As-Sunnah menjelaskan Alquran dan teori Big Bang menurutnya memiliki keserasian.

Menurutnya, dengan menelaah QS Al-Anbiya’: 30, adanya kesesuaian nan harmoni antara Alquran dan teori Big Bang. Ini sungguh menakjubkan! Bagaimana mungkin sebuah kitab yang muncul di padang pasir Arab 1.400 tahun lalu mengandung kebenaran sains modern”. Jelas Zakir Naik

Paparan Quraish Shihab

Dalam buku Mukjizat Alquran, Quraish Shihab mengemukakan mengenai tafir QS Al-Anbiya’: 30. Menurutnya Alquran mengisyaratkan mengenai asal-usul alam semesta, yakni isyarat bahwa langit dan bumi tadinya merupakan satu gumpalan.

Alquran memang tidak menjelaskan bagaimana terjadinya pemisahan tersebut, tetapi apa yang dikemukakan tentang keterpaduan alam raya dalam pemisahannya itu dibenarkan oleh para ilmuwan.

Ilmuan Klasik dan Modern Mengenai Teori Bing Bang

Teori Big Bang pertama kali ditemukan oleh Abbe Georges Lemaitre, seorang kosmolog asal Belgia pada tahun 1920-an. Menurutnya, alam semesta ini mulanya berasal dari gumpalan superatom yang berbentuk bola api kecil dengan ukuran sangat kecil. Gumpalan itu semakin lama semakin memadat dan memanas, kemudian meledak dan memuntahkan seluruh isi darialam semesta. Big Bang melepaskan sejumlah besar energi di alam semesta yang kemudian membentuk seluruh materi alam semesta dan kemudian berkembang hingga menjadi bentuk yang sekarang ini dan akan terus berkembang.

 

Baca juga:

Begini Isyarat dalam Alquran tentang Bentuk Bumi

 

Di awal tahun 1920-an, astronom Amerika, Vesto Silpher membuat penemuan yang akan segera membuat perubahan keyakinan astronom tentang alam semesta. Slipher melihat bahwasemesta bergerak menjauh dari bumi dengan kecepatan yang sangat besar.

Astronom Amerika yang lain adalah Edwin Hubble yang menemukan bahwa galaksi tidak tetap berada di posisi mereka dan terus bergerak dan berkembang menjauhi bumi. Penemuan ini dianggap sebagai salah satu penemuan terbesar dalam sejarah astronomi.

Pada tahun 1948, Gerge Gamov muncul dengan gagasan lain tentang Big Bang. Ia mengatakan bahwa jika alam semesta terbentukmelalui ledakan raksasa, maka sisa radiasi yang ditinggalkan olehledakan itu haruslah ada di alam. Selain itu, radiasi itu juga harustersebar merata di semua penjuru alam semesta

Hal ini kemudian dibuktikan oleh Arno Penziaz dan Robert Wilson yang menemukan sisa sisa ledakan yang berupa gelobang radiasi. Sisa ledakan ini tidak hanya memancar pada satu sumber, tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa. Atas penemuan ini, Penzias dan Wilson dianugerahi Nobel untuk penemuan mereka.

Sains modern kemudian melengkapi penemuan-penemuan para ilmuan klasik. Salah satunya adalah Ilmuwan sains asal Inggris Stepehen Hawking dalam bukunya, A Brief History of Time, mengemukakan dukungannya atas teori penciptaan alam semesta Big Bang. Hawking berkeyakinan jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal.

Teori Big Bang semakin menguat berkat penemuan para pakar astronom Amerika Serikat yang membuktikan bahwa semua galaksi di jagad raya ini bergerak saling menjauh. Para pakar astronomi menyatakan alam semesta bergerak mengembang/meluas.

Dari ledakan inilah kemudian dikenal istilah teori The Expanding Universe. Menurut teori ini, alam semesta bersifat seperti balon atau gelembung karet yang sedang ditiup ke segala arah. Adapun langit yang kita lihat saat ini sebenarnya semakin tinggi dan semakin mengembang ke segala arah dengan kecepatan yang luar biasa.

NASA pada tahun 1989 memaparkan kebenaran terkait teori big bang. Penelitian ini dilakukan dengan NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer (COBE) ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian tentang radiasi latar kosmis. Hanya perlu 8 menitbagi COBE untuk membuktikan perhitungan Penziaz dan Wilson. COBE menemukan sisa ledakan raksasa yang telah terjadi di awal pembentukan alam semesta, dan penemuan itu dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, yang juga membuktikan kebenaran teori Big Bang.

Lanjut, dari berbagai fakta ilmiah ini, akhirnya teori Big Bang mendapatkan persetujuan dunia ilmiah. Dalam sebuah artikel yang dimuat pada Oktober 2014, Scientific American menuliskan bahwa teori Big Bang adalah satu-satunya teori yang dapat menjelaskan asal mula alam semesta.

Ini membuktikan penelitian sains dari era klasik hingga modern, tak ada sedikitpun yang melenceng dari apa yang diisyaratkan Alquran. Padahal Alquran diturunkan sejak masa-masa sebelumnya atau berabad-abad lalu atau tepatnya pada 27 Oktober 632 Masehi.

 

Baca juga:

Fakta Alam Semesta yang Terkembang Sudah Termaktub dalam Alquran

 

Kesimpulan

Alquran, baik secara eksplisit maupun implisit tidak menjelaskan secara pasti kapan terjadinya proses Big Bang dan seperti apa proses terjadinya Big Bang. Tapi seluruh ahli tasir dan ulama Islam bahwa QS. Al-anbiya:30 ini merupakan isyarat dari Allah SWT mengenai proses terjadinya alam semesta atau teori Big Bang.

Keabsahan teori Big Bang dalam Alquran ini bahkan diterima hampir seluruh ilmuwan sains dari klasik dan modern hingga hari ini. QS. Al-anbiya:30 menjadi menjadi bukti bahwa selama ini, Alquran dan perkembangan sains selalu berjalan seiring dan tidak berlawanan. (mr) 

Wallahu a’lam Bishawab

 

Sumber:

Quraish Shihab, Mukjizat Alquran

Ramadhani, Alquran vs Sains Modern Menurut Dr Zakir Naik'

Nadiah Thayyarah, Buku Pintar Sains Dalam Al-Qur’an

Muhammad Hasan, Benda Astronomi Dalam Al-Quran Dari Perspektif Sains


Back to Top