Panduan Investasi Saham dalam Islam

gomuslim.co.id - Saham merupakan salah satu instrumen paling menarik di Pasar Modal karena memungkinkan investor untuk meraih keuntungan investasi yang relatif tinggi. Hal inilah yang membuat masyarakat pemodal berhasrat inginterjun ke dunia saham. Pertanyaannya, apakah investasi saham haram? Nah, hal inilah yang menjegal masyarakat untuk terlibat dalam investasi saham.

Zaman sekarang, metode keuangan syariah sudah terdengar familiar di tengah masyarakat. Berawal dari hadirnya bank-bank berkonsep syariah hingga produk keuangan syariah seperti tabungan syariah dan saham shariah. 

Pesatnya metode syariah ini bermula dari anggapan ada riba dalam bunga tabungan yang diperoleh dari pihak bank. Apalagi saham, banyak orang beranggapan bermain saham atau investasi saham itu sama saja seperti berjudi.

Padahal di pasar modal ada juga produk saham yang disebut saham-saham syariah. Anda tak perlu khawatir lagi, untuk investasi Anda kini bisa memilih saham-saham syariah. 

Saham-saham syariah di Indonesia sudah memiliki Fatwa DSN  (Dewan Syariah Nasional). 

Ada yang menganggap saham itu tidak syariah, ada juga yang menyebut main saham itu judi, apakah benar seperti itu? Nah, daripada terus menerus berprasangka dan berasumsi, maka di sini kami akan memberikan jawaban pasti mengenai apakah investasi saham haram atau halal. Tentu saja, investasi saham syariah berpedoman pada jawaban dan fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) selaku pihak yang mengeluarkan fatwa halal dan haram di Indonesia.

Perlu ketahui bahwa sebenarnya hukum pasar modal atau investasi saham secara khusus telah diteliti oleh Dewan Syariah Nasional MUI. Kemudian, dari hasil penelitian tersebut, DSN MUI membuat kesimpulan berupa fatwa tentang hukum pasar modal di Indonesia. Nah, fatwa tersebut dapat dilihat di Fatwa DSN No. 40.

Kenapa sih investasi saham? Banyak orang beranggapan saham merupakan investasi yang lebih cocok untuk orang "berkantong dalam" atau orang-orang yang banyak uang. itu dulu, kini semua orang bisa investasi saham dengan modal terjangkau. 

Bahkan investasi tak lagi sulit. Investasi saham bisa dilakukan secara online dan pilihannya juga beragam, salah satunya investasi di saham-saham syariah. 

Investasi itu penting, dengan investasi dapat mewujudkan tujuan keuangan di masa depan seperti beli rumah, dana pernikahan, dana pendidikan, dana haji/umrah, hingga dana pensiun. Investasi saham merupakan investasi yang bisa dibilang cocok untuk dipilih untuk mewujudkan tujuan keuangan jangka panjang. 

Dilansir dari Bursa Efek Indonesia, pengerian saham syariah adalah merupakan efek berbentuk saham yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah di Pasar Modal.

Definisi saham dalam konteks saham syariah merujuk kepada definisi saham pada umumnya yang diatur dalam undang-undang maupun peraturan OJK (Otoritas Jasa Keuangan) lainnya.

Ada dua jenis saham syariah yang diakui di pasar modal Indonesia.

1. Saham yang dinyatakan memenuhi kriteria seleksi saham syariah berdasarkan peraturan OJK Nomor 35/POJK.04/2017 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah.

2. Saham yang dicatatkan sebagai saham syariah oleh emiten atau perusahan publik syariah berdasarkan peraturan OJK no. 17/POJK.04/2015. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah memastikan tidak ada unsur perjudian dalam bermain saham. Yang ada hanyalah tindakan jual-beli seperti yang ada di pasar. Namun jika di pasar yang diperjualbelikan adalah barang kebutuhan pokok, di pasar saham yang diperjualkan adalah kepemilikan dalam perusahaan-perusahaan tertentu.

Menyoal tentang saham syariah, bagi para muslim, saham syariah ini sesuai dan mampu mengakomodasi keinginan untuk memiliki saham yang sesuai dengan nilai-nilai agama yang dianutnya. 

Perbedaan Saham Syariah dan Non-Syariah

1. Emiten saham syariah tidak bertentangan dengan Ajaran Islam

Untuk pilihan saham-saham konvensional, Anda dapat membeli emiten apa pun yang menarik perhatian Anda dan tentu saja yang berprospek bagus.

Saham-saham konvensional itu perusahaan dan bisnisnya bebas bergerak di bidang apa saja. Sedangkan saham-saham syariah, perusahaannya dan bisnis yang dijalankan tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam. 

Jadi pahami bahwa tidak semua saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dapat dikategorikan sebagai saham syariah.

Adapun saham syariah terbagi menjadi dua kategori yaitu saham yang berbasis syariah dan saham yang sesuai dengan prinsip syariah.

Saham yang berbasis syariah adalah saham dimana perusahaan yang mengelola sudah menyatakan diri sebagai perusahaan  syariah sejak awal perusahaan berdiri dan melakukan kegiatan usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah serta memiliki Dewan Pengawas Syariah.

Lalu, saham yang sesuai prinsip syariah adalah saham dari suatu perusahaan yang tidak tercatat sebagai perusahaan syariah tetapi saham yang dimilikinya memenuhi kriteria untuk menjadi saham syariah sesuai dengan Peraturan OJK.

Nah, untuk tipe saham seperti ini jenisnya harus melalui proses screening terlebih dahulu. Anda tak perlu khawatir, jika dinyatakan lolos, maka saham emiten tersebut akan masuk ke dalam Daftar Efek Syariah.

2. Sistem Bagi Hasil

Sama seperti bank-bank syariah yang tidak menerapkan unsur riba, di saham syariah pun Anda tidak akan mendapatkan keuntungan berupa bunga atau riba.

Sistem yang berlaku di saham syariah adalah bagi hasil. Dalam sistem ini, pemegang saham tidak hanya memiliki kemungkinan untuk mendapatkan sebagian untung dari perusahaan, tetapi juga mempunyai risiko yang sama besar jika perusahaan ataupun perseroan mengalami kerugian.

3. Musyawarah Untung dan Rugi

Dalam saham syariah, masalah bagi hasil untung dan risiko rugi ini sudah mesti disepakati ketika Anda hendak mendaftarkan saham. Calon pemegang saham dan perusahaan harus bermusyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama tanpa paksaan.

Inilah yang kemudian disebut dengan iktikad saham. Dengan adanya iktikad saham, pemegang saham bisa terlepas dari yang namanya ghahar (informasi yang menyesatkan) maupun masyir (risiko yang berlebihan).

Ketika bersepakat, perusahaan ataupun perseroan memiliki ketentuan untuk memaparkan dengan sejelas-sejelasnya informasi apa saja mengenai perusahaannya. Seluk-beluk perusahaan harus diketahui calon pemegang saham agar tidak ada kesalahpahaman di kemudian hari.

Tentu saja penjelasan tersebut diberitahukan kepada calon pemegang oleh perusahaan sekuritas yang menjual saham tersebut. Calon pemegang saham juga berhak mempertanyakan segala hal yang dianggap perlu dan ingin diketahui dari emiten yang ia inginkan. Dengan demikian, informasi yang menyesatkan dapat dihindari.

Berikut beberapa langkah yang perlu Anda pertimbangkan dan lakukan saat ingin berinvestasi saham-saham syariah.

1. Kenali Daftar Saham-Saham Syariah 

Khusus untuk saham syariah, Anda harus mengenali daftar perusahaan apa saja yang bisa Anda tanamkan saham di dalamnya. Untuk mengetahui hal ini, ada dapat mengeceknya melalui daftar indeks saham syariah.

Ada tiga jenis Indeks saham syariah di Bursa Efek Indonesia yaitu Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), Jakarta Islamic Index (JII), dan Jakarta Islamic Index 70 (JII70 Index).

Di dalam daftar tersebut akan ditampilkan emiten-emiten saham syariah yang bisa Anda miliki. Jangan khawatir ada banyak pilihan saham-saham syariah sebab berdasarkan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) saja kini ada lebih dari 400 saham syariah. 

2. Pastikan Saham Bebas dari Praktik yang Tidak Sesuai Islam

Setelah mengetahui daftar emiten yang bisa Anda beli untuk berinvestasi saham syariah, langkah berikutnya adalah mengecek ketepatan emiten tersebut. Pastikan lagi bahwa saham yang telah tercatat bebas dari praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Menurut OJK, ada beberapa syarat yang membuat sebuah emiten dapat dikategorikan sebagai saham syariah. Syarat-syarat tersebut seperti yang disebutkan di bawah ini.

  1. Jenis usaha, produk barang atau jasa, serta akad dan pengelolaan emiten tidak boleh berseberangan dengan prinsip syariah.
  2. Emiten wajib menandatangani dan memenuhi ketentuan akad sesuai dengan prinsip syariah.
  3. Emiten wajib memiliki Syariah Compliance Officer (SCO) untuk menjelaskan prinsip syariah yang dianutnya. SCO adalah pejabat atau petugas di lembaga atau perusahaan yang telah disertifikasi Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia sebagai tanda bahwa ia memahami konsep syariah di pasar modal.

3. Jangan Asal Pilih Saham, Cek Fundamental dan Lakukan Analisa Teknikal

Saat Anda investasi saham, tentu hindari asal pilih saham. Lakukan strategi sederhana yaitu melihat fundamental saham yang Anda akan beli dan melakukan analisa teknikal. 

Pastikan saham tersebut memiliki kinerja yang baik seperti tergolong saham dengan kapitalisasi pasar yang besar dan memiliki prospek bisnis yang cemerlang.

Untuk melakukan hal ini, Anda bisa menambah pengetahuan tentang saham dengan mengikuti sekola pasar modal gratis yang sering diadakan oleh Bursa Efek Indonesia, hingga jangan malas untuk meambah ilmu dengan membaca berita-berita finansial dan buku-buku investasi. (hmz/Syariahsaham/dbs/edusaham)


Back to Top