Catat, Begini Anjuran Investasi dalam Islam

gomuslim.co.id – Islam mempunyai pandangan yang jelas mengenai harta dan kegiatan ekonomi. Sejatinya, pemilik mutlak segala sesuatu di muka bumi ini, termasuk harta benda, adalah Allah SWT. Kepemilikan manusia hanya bersifat relatif, sebatas melaksanakan amanah, mengelola dan memanfaatkan sesuai dengan ketentuan-Nya.

Salah satu aktivitas ekonomi yang kini mulai diganderungi sebagian kalangan umat Islam adalah investasi. Namun, apakah Islam membolehkan investasi? Jika boleh, bagaimana pandangan Islam tentang kegiatan investasi? Berikut gomuslim merangkumnya dari berbagai sumber:  

Ekonomi dan keuangan syariah kini menjadi satu sistem yang mulai dikembangkan di Indonesia. Keuangan syariah menjadi alternatif pilihan baru bagi masyarakat, khususnya Muslim untuk memilih produk yang jauh dari riba, gharar dan maisir. Secara perlahan, produk keuangan syariah pun semakin beragam mulai dari produk perbankan syariah sampai investasi syariah. Namun, sebelum ke arah lebih jauh, kita perlu memahami tentang konsep dasar ekonomi dan keuangan syariah yang dalam hal ini terkait investasi.    

Dasar Fikih Muamalah

Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa kegiatan investasi merupakan bagian dari bermuamalah māliyah atau ekonomi. Ada beberapa asas fikih muamalah sebagaimana dikemukakan Ahmad Azhar Basyir (Basyir 2000).

Pertama, pada dasarnya segala bentuk muamalah adalah mubah (boleh) kecuali ada dalil yang mengharamkannya (yang ditentukan lain oleh Al-Qur’an dan sunnah Rasul). Kedua, muamalah dilakukan atas dasar sukarela tanpa mengandung unsur paksaan (Praja 2004).

Ketiga, muamalah dilakukan atas dasar pertimbangan mendatangkan manfaat dan menghindari mudharat dalam hidup masyarakat (Sahroni 2016). Dan keempat, muamalah dilakukan dengan memelihara nilai keadilan, menghindari unsur-unsur penganiayaan, unsur-unsur ḍarar (membahayakan), dan unsur-unsur pengambilan kesempatan dalam kesempitan.

Islam Dukung Investasi

Islam adalah agama yang pro-investasi, karena di dalam ajaran Islam sumber daya (harta) yang ada tidak hanya disimpan tetapi harus diproduktifkan, sehingga bisa memberikan manfaat kepada umat (Hidayat 2011). Karena itu, dasar pijakan dari aktivitas ekonomi termasuk investasi adalah Alquran dan hadits Nabi saw.

Firman Allah SWT.:

Supaya harta itu tidak beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian”. (QS. al-Hasyr [59]: 7)

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada setiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 268)

Ayat diatas secara implisit memberikan informasi akan pentingnya berinvestasi, dimana ayat itu menyampaikan betapa beruntungnya orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah.

Orang yang kaya secara financial (keuangan) kemudian menginfakkan hartanya untuk pemberdayaan masyarakat yang kurang mampu melalui usaha produktif, maka sesungguhnya dia sudah menolong ribuan, bahkan ratusan ribu orang miskin untuk berproduktif ke arah yang lebih baik lagi (Yuliana 2010).

Umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kehidupan ekonomi melalui investasi jangka panjang. Investasi ini akan diwariskan kepada keturunannya untuk mencukupi kehidupan sampai ia layak berusaha sendiri atau mandiri. Kegiatan investasi juga mengandung pahala dan bernilai ibadah jika diniatkan dan dilaksanakan sesuai dengan prinsip syariah.

Seperti kita ketahui, manusia tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya esok atau yang akan diperolehnya. Namun demikian mereka diwajibkan berdoa, berikhtiar dan bertawakal. Salah satu ikhtiar manusia dalam mendayagunakan hartanya dengan cara berinvestasi sesuai prinsip syariah.

Dengan demikian, kita dapat memahami bahwa Islam memandang investasi sebagai hal yang sangat penting sebagai langkah atisipatif terhadap kejadian di masa depan. Seruan bagi orang-orang yang beriman untuk mempersiapkan diri (antisipasi) di hari esok mengindikasikan bahwa segala sesuatunya harus disiapkan dengan penuh perhitungan dan kecermatan. Dalam perspektif ekonomi, hari esok dalam ayat-ayat di atas bisa dimaknai sebagai masa depan (future).

Contoh Investadi dari Nabi SAW

Nabi Muhammad SAW sendiri ketika muda pernah juga mengelola perdagangan milik seseorang (investor) dengan mendapatkan upah dalam bentuk unta. Karir profesional Nabi SAW. dimulai sejak Muhammad muda dipercaya menerima modal dari para investor yaitu para janda kaya dan anak-anak yatim yang tidak sanggup mengelola sendiri harta mereka.

Mereka menyambut baik seseorang untuk menjalankan bisnis dengan uang atau modal yang mereka miliki berdasarkan kerjasama muḍarabah (bagi hasil). Nabi Muhammad saw. dalam menjalankan bisnisnya senantiasa memperkaya dirinya dengan kejujuran, keteguhan memegang janji, dan sifatsifat mulia lainnya, sampai dijuluki sebagai orang yang terpercaya (al-amīn).

 

Baca juga:

Kamu Harus Tahu, Ini Lima Jenis Investasi yang Dilarang dalam Islam

 

Para pemilik modal di Mekkah semakin banyak yang membuka peluang kemitraan dengan nabi SAW. Salah seorang pemilik modal tersebut adalah Khadijah yang menawarkan kemitraan berdasarkan muḍarabah (bagi hasil).

Dalam hal ini, Khadijah bertindak sebagai ṣaḥib al-māl (pemilik modal) dan nabi Muhammad saw. sebagai muḍarib (pengelola). Bahkan sebelum menikah, beliau diangkat menjadi manajer perdagangan Khadijah ke pusat perdagangan Habashah di Yaman dan 4 kali memimpin ekspedisi perdagangan ke Syria dan Jorash di Yordania.

Dengan demikian, nabi Muhammad saw. memasuki dunia bisnis dan perdagangan dengan cara menjalankan modal orang lain (investor), baik dengan upah (fee based) maupun dengan sistem bagi hasil (profit sharing).

Profesi ini kurang lebih bertahan selama 25 tahun, angka ini sedikit lebih lama dari masa kerasulan Muhammad saw. yang berlangsung selama kurang lebih 23 tahun. Salah satu hadis beliau yang masyhur mengenai investasi dan perserikatan adalah:

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah SAW. bersabda: Allah berfirman: Aku menjadi orang ketiga dari dua orang yang bersekutu selama salah seorang dari mereka tidak berkhianat kepada temannya. Jika ada yang berkhianat, aku keluar dari (persekutuan) mereka (HR. Abu Dawud dan dinilai shahih oleh al-Hakim).

Berdasarkan paparan di atas, praktik investasi sudah ada sejak nabi Muhammad SAW., bahkan beliau secara langsung terjun dalam praktik binis dan investasi. Beliau memberikan contoh bagaimana mengelola investasi hingga mengasilkan keuntungan yang banyak.

Hal ini tidak terlepas dari pengalaman beliau yang lama sebagai pedagang dan pengelola bisnis (muḍarib). Nabi SAW. mempraktikkan bisnis dengansangat profesional, tekun, ulet dan jujur serta tidak pernah ingkar janji kepada pemilik modalnya (investor).

Dengan demikian, investasi dalam ajaran Islam tidak dilarang, bahkan dianjurkan supaya memberikan dampak dan manfaat yang luas dengan terciptanya lapangan pekerjaan dan lapangan usaha baru.

Islam sangat menganjurkan investasi tapi bukan semua bidang usaha diperbolehkan dalam berinvestasi. Aturan-aturan di atas menetapkan batasan-batasan yang halal atau boleh dilakukan dan haram atau tidak boleh dilakukan. Tujuannya adalah untuk mengendalikan manusia dari kegiatan yang membahayakan masyarakat.

Wallahu’alam Bishawab

Sumber:

Dasar Hukum Investasi dalam Islam

Djazuli. A. 2006. Konsideran Fatwa DSN-MUI

Elif Pardiansyah. UIJ. Investasi dalam Perspektif Ekonomi Islam. Economica: Jurnal Ekonomi Islam – Volume 8, Nomor 2 (2017)

Syafi'i Antonio. 2001. Bank Islam Dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press.

 

Baca juga:

Ini Sejarah Panjang Investasi Syariah di Indonesia

 

 


Back to Top