Ini Sejarah Panjang Investasi Syariah di Indonesia

gomuslim.co.id – Sejarah keuangan syariah di Tanah Air tidak lepas dari lahirnya bank syariah pertama. Ini dipengaruhi oleh adanya bank-bank syariah di Negara-negara Islam. Pada tanggal 1 Mei 1992, Bank Muamalat Indonesia (BMI) mulai beroperasi. Ini sekaligus menjadi tonggak berdirinya bank-bank syariah lainnya.

Namun, kehadiran bank syariah tidak lantas cukup untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan para investor yang sudah melek akan investasi syariah. Maka pada tanggal 3 Juli 1997, mulailah diterbitkan Reksa Dana Syariah pertama oleh PT Danareksa Investment Management.

Reksa dana syariah pertama tersebut memberikan banyak alternatif dalam berinvestasi dan produk perbankan bagi masyarakat Indonesia. Selanjutnya, Bursa Efek Indonesia berkerjasama dengan PT. Danareksa Investment Management meluncurkan Jakarta Islamic Index pada tanggal 3 Juli 2000.

Tujuannya tentu untuk memandu investor yang ingin menginvestasikan dananya secara syariah. Dengan hadirnya indeks tersebut, maka para pemodal telah disediakan saham-saham yang dapat dijadikan sarana berinvestasi sesuai dengan prinsip syariah.

Untuk mendorong penguatan iklim investasi bagi pengusaha muslim, pada tanggal 18 April 2001, untuk pertama kali Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) mengeluarkan fatwa yang berkaitan langsung dengan pasar modal, yaitu Fatwa Nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 tentang Pedoman Pelaksanan Investasi Untuk Reksa Dana Syariah.

Kemudian, instrumen investasi syariah di pasar modal terus bertambah dengan kehadiran Obligasi Syariah PT. Indosat Tbk pada awal September 2002. Instrumen ini merupakan Obligasi Syariah pertama dan akad yang digunakan adalah akad mudharabah.

Sejarah investasi syariah juga dapat ditelusuri dari perkembangan institusional yang terlibat dalam pengaturan Pasar Modal Syariah tersebut. Perkembangan tersebut dimulai dari MoU antara Bapepam dan DSN-MUI pada tanggal 14 Maret 2003. MoU menunjukkan adanya kesepahaman antara Bapepam dan DSN-MUI untuk mengembangkan pasar modal berbasis syariah di Indonesia.

Dari sisi kelembagaan Bapepam-LK, perkembangan Pasar Modal Syariah ditandai dengan pembentukan Tim Pengembangan Pasar Modal Syariah pada tahun 2003. Lalu, pada tahun 2004 pengembangan Pasar Modal Syariah masuk dalam struktur organisasi Bapepam dan LK, dan dilaksanakan oleh unit setingkat eselon IV yang secara khusus mempunyai tugas dan fungsi mengembangkan pasar modal syariah.

 

Baca juga:

Catat, Ini Rukun dan Syarat Mudharabah dalam Keuangan Syariah

 

Sejalan dengan perkembangan industri yang ada, pada tahun 2006 unit eselon IV yang ada sebelumnya ditingkatkan menjadi unit setingkat eselon III.

Pada tanggal 23 Nopember 2006, Bapepam-LK menerbitkan paket Peraturan Bapepam dan LK terkait Pasar Modal Syariah. Paket peraturan tersebut yaitu Peraturan Bapepam dan LK Nomor IX.A13 tentang Penerbitan Efek Syariah dan Nomor IX.A.14 tentang Akad-akad yang digunakan dalam Penerbitan Efek Syariah di Pasar Modal. Selanjutnya, pada tanggal 31 Agustus 2007 Bapepam-LK menerbitkan Peraturan Bapepam dan LK Nomor II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah dan diikuti dengan peluncuran Daftar Efek Syariah pertama kali oleh Bapepam dan LK pada tanggal 12 September 2007.

Perkembangan Pasar Modal Syariah mencapai tonggak sejarah baru dengan disahkannya UU Nomor 19 tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada tanggal 7 Mei 2008. Undang-undang ini diperlukan sebagai landasan hukum untuk penerbitan surat berharga syariah negara atau sukuk negara. Pada tanggal 26 Agustus 2008 untuk pertama kalinya Pemerintah Indonesia menerbitkan SBSN seri IFR0001 dan IFR0002.

Pada tanggal 30 Juni 2009, Bapepam-LK telah melakukan penyempurnaan terhadap Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah dan II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah.

Dilihat dari sejarah perkembangannya, saat ini investasi syariah yang sudah ada di Indonesia semakin beragam dan banyak peminatnya. Mengapa? Karena investasi syariah mengedepankan transparansi, keterbukaan dan keadilan.

Seperti kita tahu, sistem bunga sudah diharamkan oleh MUI. Umat Islam harus menghindari sistem bunga. Maka tidak heran, banyak alternatif-alternatif Lembaga Keuangan Syariah yang menghindari sistem bunga yang sudah haram oleh MUI tahun 2003.

Sejak saat itulah, lahir bank syariah, asuransi syariah, pasar modal syariah, reksadana syariah dan lembaga keuangan syariah lainnya. Bahkan, saat ini investasi syariah sudah ada di obligasi, ada sukuk di Indonesia. Sudah banyak pilihan dan alternatif bagi muslim dan non muslim untuk berinvestasi. (jms/dbs)

 

 

Sumber:

OJK RI, Finansialku, Syariah Saham,

Syafi'i Antonio. 2001. Bank Islam Dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema Insani Press.

 

 

Baca juga:

Kenali Pengertian Akad Mudharabah Muqoyyadah

 

 


Back to Top