Karena Tamak, Pedagang Ini Justru Merugi

gomuslim.co.id - Dikisahkan ada dua orang yang berprofesi sebagai pedagang keliling. Mereka mempunyai kepribadian yang berbeda. Seorang pedagang memiliki sifat tamak dan pembohong. Sedangkan seorang lagi sebaliknya.

Karena sifat tamaknya, pedagang pertama rela melakukan hal-hal yang tidak baik demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya. Sedangkan pedagang kedua merupakan orang yang sabar, rajin, tekun, jujur, dan baik hati. Pedagang kedua tidaklah berambisi lebih pada harta dunia.

Suatu hari, pedagang tamak melewati seorang nenek dan cucunya. Sang nenek memanggil dan menghampiri pedagang itu, lalu berkata, “Cucuku ingin perkakas makan baru. Maukah kau menukar perkakas itu dengan mangkuk tuaku ini?”

Si pedagang mengamati mangkuk tua si nenek dengan saksama. Ia membatin, “Hmmm… mangkuk ini terbuat dari emas. Harganya pasti mahal sekali. Tapi, sepertinya nenek ini tidak mengetahuinya.”

Muncul niat jelek di hati si pedagang tamak. Ia ingin mendapatkan mangkuk itu dengan harga yang murah dengan memanfaatkan ketidaktahuan si nenek.

Ia berkata kepada si nenek, “Mangkuk ini tidak ada harganya karena terlalu tua. Tapi kalau kau mau, aku akan menukarnya dengan sendok.”

Si nenek mendesah kecewa. “Apakah tidak terlalu murah? Mangkuk ini merupakan warisan dari suamiku,” katanya.

Kalau tidak mau yaudah,” sahut si pedagang tamak, pura-pura cuek. Ia berjalan pergi meninggalkan si nenek. Tapi, dalam hati ia berencana untuk kembali menemui nenek keesokan harinya.

 

Baca Juga: 

Kisah Anak Kecil dan Ulama Sombong

 

Tidak lama kemudian, pedagang kedua (pedagang yang jujur) juga melewati tempat si nenek dan cucunya.

Hai, maukah kau menukar mangkuk tua ini dengan peralatan makan yang kau jual?” tanya nenek kepada si pedagang jujur.

Pedagang tersebut mengambil mangkuk antik dari tangan nenek, lalu mengamatinya dengan teliti. Keningnya tampak berkerut-kerut.

Setelah selesai, ia berkata kepada si nenek, “Mangkuk ini terbuat dari emas. Harganya sangat mahal. Semua barang yang aku bawa ini tidak akan cukup untuk membayarnya.”

Tidak apa-apa,” jawab si nenek sambil tersenyum, senang dengan kejujuran pedagang itu. “Ambillah mangkuk itu, dan berikan aku perkakas makan dengan jumlah yang pantas.”

Baiklah. Aku berikan semua barangku dan uangku,” jawab si pedagang. Setelah berterima kasih, ia pun berpamitan kepada si nenek.

Keesokan harinya, si pedagang tamak kembali mendatangi si nenek. la hendak menawar mangkuk yang kemarin hendak dijual oleh si nenek. Namun, betapa kecewanya ia saat mengetahui bahwa mangkuk berharga itu sudah di jual kepada pedagang lain.

Ia menyesal karena bersikap tamak sehingga akhirnya malah gagal mendapatkan mangkuk emas yang di jual oleh si nenek. Ia pun pulang dengan langkah gontai. Dalam hati, ia berjanji untuk tidak bersikap tamak lagi.


Baca Juga: 

Kisah Nabi Sulaiman Ditegur, Ternyata Ini Penyebabnya 

 

Sementara itu, si pedagang jujur hidup berkelimpahan setelah menjual mangkuk emas yang diterima dari si nenek. Meskipun sudah kaya raya, namun si pedagang jujur tetap bekerja dengan tekun setiap hari, menjajakan dagangannya dengan penuh kejujuran.

Begitulah gambaran bagaimana orang yang tamak, mereka pun akhirnya merugikan diri sendiri. Rasulullah pun pernah mengingatkan umatnya agar tida serakah dan tamak terhadap dunia "Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.” (HR. Tirmidzi)

Dampak buruk dari sifat tamak, bisa membuat seseorang melakukan segala cara yang diharamkan demi mendapatkan harta yang diinginkan. Bahkan kini kita melihat banyak sekali kasus-kasus orang yang melanggar hukum akibat tamak dengan harta. Korupsi, suap, curang, menipu, bermain timbangan dalah perbuatan yang dihasilkan dari sifat ketamakan terhadap dunia.

Semoga kita dihindarkan dari sifat tamak, Amin (wan/iphincow/hasmipeduli) 


Back to Top