Mengenal Ahyudin, Pendiri Lembaga Filantropi Aksi Cepat Tanggap

gomuslim.co.id – Berawal dari banyaknya bencana alam yang sering terjadi dan menimpa tanah air, membuat masyarakat Indonesia membutuhkan banyak pertolongan dari para relawan untuk bisa bangkit.

Di Indonesia sendiri telah banyak bermunculan lembaga atau organisasiyang bergerak dibidang kemanusiaan untuk membantu setiap rakyat yang tertimpa musibah atau menjadi jembatan bagi para dermawan untuk menyalurkan bantuan kepada para korban bencana.

Seperti berdirinya salah satu filantropi di Indonesia yang kini, berkat pergerakkannya, menjadi salah satu lembaga terdepan dalam merespon bencana, yakni Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Dibalik suksesnya track record ACT pasti ada sosok dibelakangannya. Ialah Ahyudin yang merupakan pendiri ACT di Indonesia. Tidak banyak yang mengenal sosok pendiri Aksi Cepat Tanggap (ACT) ini.

Namun, dengan semangat kemanusiaan yang luar biasa, Ahyudin bersama rekan-rekannya pun berhasil mengantarkan ACT sebagai lembaga terdepan dalam merespon bencana di tanah air.

Pria yang lahir pada 11 Oktober 1966 ini pun mendirikan serta meresmikan ACT pada 21 April 2005 silam secara hukum sebagai yayasan yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan atau kini sudah memasuki usia ke 15 tahun perjalanan ACT.

Atas usaha dan niat tulusnya mendirikan sebuah lembaga filantropi untuk membantu masyarakat yang tertimpa musibah, ACT pun mulai mengembangkan aktivitasnya untuk memperluas karya, mulai dari kegiatan tanggap darurat, mengembangkan kegiatannya ke program pemulihan paska bencana, pemberdayaan dan pengembangan masyarakat, serta program berbasis spiritual seperti qurban, zakat dan wakaf.

Namun diketahui, organisasi ini, pertama kali melakukan aksinya sejak tahun 1994 di Liwa, Lampung Barat dalam merespons bencana gempa bumi. Selanjutnya, tonggak kemandirian lembaga pun menggerakkan Ahyudin untuk meresmikan organisasi tersebut menjadi Yayasan Aksi Cepat Tanggap.

Selain itu, ACT yang ia dirikan pun selalu hadir dalam bencana, baik fase darurat (emergency) maupun fase pemulihan (recovery) dengan menggulirkan berbagai program. Program-program yang didedikasikan antara lain Program Emergency Rescue, Program Emergency Relief, Program Emergency Medic dan Program Recovery Fisik, Recovery Ekonomi dan Recovery Sosial. Aksi kemanusiaan yang dilakukan berorientasi amal (charity) dengan memberdayakan sumberdaya lokal (local sources).

Selain itu, dalam menjalankan ACT, Ahyudin berhasil menarik para donatur publik dari masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap permasalah kemanusiaan dan juga partisipasi perusahaan melalui program kemitraan dan Corporate Social Responsibility (CSR).

Selanjutnya, sejak tahun 2012, ACT mentransformasi dirinya menjadi sebuah lembaga kemanusiaan global, dengan jangkauan aktivitas yang lebih luas. Pada skala lokal, ACT mengembangkan jejaring ke semua provinsi baik dalam bentuk jaringan relawan dalam wadah MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) maupun dalam bentuk jaringan kantor cabang ACT.

Tak sampai disitu, Ahyudin bersama timnya pun terus memperluas jangkauan aktivitas program ACT yang kini sudah sampai ke 30 provinsi dan 100 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Pada skala global, ACT mengembangkan jejaring dalam bentuk representatif person sampai menyiapan kantor ACT di luar negeri. Jangkauan aktivitas program global sudah sampai ke 64 Negara di kawasan Asia Tenggara, Asia Selatan, Indocina, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa Timur.(mga/dbs)


Back to Top