Mengenal Cak Nun, Sosok Budayawan dan Intelektual Islam

gomuslim.co.id - Muhammad Ainun Najib atau yang lebih akrab Emha Ainun Najib alias Cak Nun merupakan seorang budayawan dan intelektual ternama di Indonesia. Lewat karya-karyanya, Cak Nun mencoba menyampaikan kegundahan hatinya terkait masalah-masalah sosial, politik, pendidikan dan keagamaan yang ada di sekitarnya melalui sastra dan seni.

Cak Nun lahir di Djombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953. Ia merupakan anak keempat dari 15 bersaudara. Lahir dari pasangan Muhammad Abdul Latief dan Chalimah. Ayahnya adalah petani dan tokoh agama (kyai) yang sangat dihormati masyarakat Desa Menturo, Sumobito, Jombang. 

Beliau seorang pemimpin masyarakat yang menjadi tempat bertanya dan mengadu tentang masalah yang masyarakat hadapi. Begitu juga ibunya menjadi panutan warga yang memberikan rasa aman dan banyak membantu masyarakat. 

Dalam ingatan Cak Nun, ketika ia kecil sering diajak ibunya mengunjungi para tetangga, menanyakan keadaan mereka. Apakah mereka bisa makan dan menyekolahkan anak. 

Pengalaman ini membentuk kesadaran dan sikap sosialnya yang didasarkan nilai-nilai Islam. Bahwa menolong sesama manusia dari kemiskinan dan membuat mereka mampu berfungsi sebagai manusia seutuhnya, merupakan kunci dalam Islam. 

Kakak tertuanya, yaitu Ahmad Fuad Effendy, adalah anggota Dewan Pembina King Abdullah bin Abdul Aziz International Center For Arabic Language (KAICAL) Saudi Arabia.

Paman Cak Nun, adik ayahnya, yaitu almarhum K.H. Hasyim Latief, seorang pendiri Pertanu (Persatuan Tani dan Nelayan NU), ketua PWNU Jawa Timur, wakil Ketua PBNU, wakil Rais Syuriah PBNU, dan Mustasyar PBNU yang mendirikan Yayasan Pendidikan Maarif (YPM) di Sepanjang, Sidoarjo. 

Dari garis ayah, Cak Nun bersaudara dengan aktivis masyarakat miskin kota Wardah Hafidz dan Ali Fikri yang masih sepupu ayah Cak Nun. Dari garis ayahnya ini, kakek buyut Cak Nun, yaitu Imam Zahid, adalah murid Syaikhona Kholil Bangkalan bersama dengan K.H. Hasyim Asyari, K.H. Ahmad Dahlan, dan K.H. Romly Tamim.

Riwayat Pendidikan Cak Nun

Cak Nun memulai pendidikan di Sekolah Dasar pada tempat tinggalnya. Beliau lulus dari SD pada masa pemberontakan PKI berlangsung, 1965. Masa SD menjadi gambaran “Kebengalan-Kebenaran” Cak Nun.

Masa itu beliau pernah melawan guru yang sewenang-wenang menghukum siswa yang terlambat. Sedangkan jika guru yang terlambat tidak mendapat hukuman sebagaimana siswa.

Kebengalan dan kebandelan dalam kebenaran Cak Nun berlanjut di Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo. Memasuki tahun ketiga menimba ilmu di Gontor, ia memimpin “Demonstrasi” kebijakan Pesantren.

Hasilnya bisa ditebak, beliau dikeluarkan dari Pesantren dan melanjutkan sekolah di Yogyakarta. Akan tetapi, belakangan ia mengakui bahwa Gontor banyak membentuk karakter kepribadiannya.

Setelah keluar dari Gontor, beliau melanjutkan studinya di SMP 4 Muhammadiyah kota Gudeg, Yogyakarta. Beliau lulus dari SMP pada tahun 1968. Dan melanjutkan di SMA 1 Muhammadiyah Yogyakarta dan lulus tahun 1971.

 

Baca juga:

Gus Baha, Manusia Kitab Abad Ini dan Santri Kesayangan Mbah Moen

 

Menyelesaikan jenjang SMA, Cak Nun melanjutkan sekolah di Universitas Gadjah Mada tepatnya Fakultas Ekonomi bersama sahabatnya yaitu Busyro Muqaddas, Mantan Ketua KPK.

Di UGM beliau hanya bertahan 4 bulan karena sering Nginep di Malioboro dan bolos Kuliah. Kebiasaan nginep di Jalan Malioboro ini sangat mempengaruhi sikap dan kemantapan pemikiran seorang Cak Nun.

Karya-karya

Cak Nun berkarya sejak akhir tahun 1969, pada usia 16 tahun. Mulai tahun 1975, karya-karyanya dibukukan. Buku-bukunya terentang dalam berbagai jenis: esai, puisi, naskah drama, cerpen, musik puisi, quote, transkrip Maiyahan, dan wawancara. Buku yang diterbitkan tahun 1980-an dan 1990-an, 20 sampai 30 tahun setelahnya masih diterbitkan ulang karena dipandang masih kontekstual dengan situasi dan kondisi kehidupan di Indonesia.Karya-karya Cak Nun tersebut adalah:

Puisi

  • “M” Frustasi dan Sajak-sajak Cinta (1975). Diterbitkan sederhana oleh Pabrik Tulisan.
  • Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978). Diterbitkan oleh Tifa Sastra UI.
  • Tak Mati-Mati (1978). Dibacakan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.
  • Nyanyian Gelandangan (1982). Dibacakan bersama Teater Dinasti di Taman Budaya Surakarta.
  • 99 Untuk Tuhanku (1983). Dibacakan di Bentara Budaya Yogyakarta. Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Pustaka-Perpustakaan Salman ITB. Diterbitkan kembali oleh Bentang tahun 1993 dan 2015.
  • Iman Perubahan (1986).
  • Suluk Pesisiran (1988). Diterbitkan oleh Mizan.
  • Syair Lautan Jilbab (1989). Diterbitkan oleh Sipress.
  • Seribu Masjid Satu Jumlahnya: Tahajjud Cinta Seorang Hamba (1990). Diterbitkan oleh Mizan, pertama kali tahun 1990 dan diterbitkan kembali tahun 2016.
  • Cahaya Maha Cahaya (1991). DIterbitkan pertama kali oleh Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan Pembinaan Sastra (LP3S) tahun 1988. Edisi tahun 1991 diterbitkan oleh Pustaka Firdaus.
  • Sesobek Buku Harian Indonesia (1993). Diterbitkan oleh Bentang, pertama kali tahun 1993 dan diterbitkan kembali tahun 2017.
  • Abacadabra Kita Ngumpet... (1994). Diterbitkan oleh Bentang bersama Komunitas Pak Kanjeng.
  • Syair-syair Asmaul Husna (1994). Diterbitkan oleh Salahuddin Press dan Pustaka Pelajar.
  • Doa Mohon Kutukan (1995). Diterbitkan oleh Risalah Gusti.
  • Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu (2000). Diterbitkan oleh Zaituna.
  • Trilogi Doa Mencabut Kutukan, Tarian Rembulan, Kenduri Cinta (2001). Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama.
  • Karikatur Cinta (2005). Diterbitkan oleh Progress.

Esai/Buku

  • Indonesia Bagian Dari Desa Saya (1980). Diterbitkan pertama kali oleh penerbit Jatayu. Diterbitkan kembali tahun 1983 dan 1992 oleh Sipress, dan tahun 2013 oleh Kompas.
  • Sastra yang Membebaskan: Sikap Terhadap Struktur dan Anutan Seni Moderen Indonesia (1984). Diterbitkan oleh PLP2M (Pusat Latihan, Penelitian, dan Pengembangan Masyarakat).
  • Dari Pojok Sejarah: Renungan Perjalanan (1985). Diterbitkan oleh Mizan. Dicetak kembali tahun 2020.
  • Slilit Sang Kiai (1991). Diterbitkan oleh Pustaka Utama Grafiti. Diterbitkan kembali tahun 2013 oleh Mizan.
  • Secangkir Kopi Jon Pakir (1992). Diterbitkan oleh Mizan.
  • Bola-Bola Kultural (1993). Diterbitkan oleh Mizan. Dicetak kembali tahun 2016 dan 2019.
  • Markesot Bertutur (1993). DIterbitkan oleh Mizan. Dicetak kembali tahun 2012, 2015, dan 2019.
  • Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1994). Diterbitkan pertama kali oleh Risalah Gusti. Diterbitkan kembali tahun 2015 dan 2018 oleh Bentang Pustaka.
  • Gerakan Punakawan Atawa Arus Bawah (1994). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Dicetak kembali tahun 2015.
  • Kiai Sudrun Gugat (1994). Diterbitkan oleh Pustaka Utama Grafiti.
  • Markesot Bertutur Lagi (1994). Diterbitkan oleh Mizan. Dicetak kembali tahun 2013, 2015, dan 2019.
  • Sedang Tuhan Pun Cemburu: Refleksi Sepanjang Jalan (1994). Diterbitkan pertama kali oleh Sipress. Diterbitkan kembali tahun 2015 dan 2018 oleh Bentang Pustaka.
  • Gelandangan di Kampung Sendiri (1995). Diterbitkan pertama kali oleh Pustaka Pelajar. Diterbitkan kembali tahun 2015 dan 2018 oleh Bentang Pustaka.
  • Nasionalisme Muhammad: Islam Menyongsong Masa Depan (1995). Diterbitkan oleh Sipress.
  • Opini Plesetan, OPLES (1995). Diterbitkan oleh Mizan.
  • Terus Mencoba Budaya Tanding (1995). Diterbitkan oleh Pustaka Pelajar.
  • Surat Kepada Kanjeng Nabi (1995). Diterbitkan oleh Mizan. Dicetak kembali tahun 2015.
  • Titik Nadir Demokrasi: Kesunyian Manusia dalam Negara (1996). Diterbitkan pertama kali oleh Zaituna. Diterbitkan kembali tahun 2016 oleh Bentang Pustaka.
  • Tuhan Pun Berpuasa (1997). Diterbitkan pertama kali oleh Zaituna. Diterbitkan kembali tahun 2012 dan 2016 oleh Kompas.
  • Jogja-Indonesia Pulang-Pergi (1999). Diterbitkan oleh Zaituna.
  • Ziarah Pemilu, Ziarah Politik, Ziarah Kebangsaan (1999). Diterbitkan oleh Zaituna.
  • Hikmah Puasa 1 & 2 (2001). Diterbitkan oleh Zaituna.
  • Segitiga Cinta (2001). Diterbitkan oleh Zaituna.
  • Kafir Liberal (2005). Diterbitkan oleh Progress.
  • Orang Maiyah (2007). Diterbitkan pertama kali oleh Progress. Diterbitkan kembali tahun 2015 oleh Bentang Pustaka.
  • Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki (2007). Diterbitkan oleh Kompas. Dicetak kembali tahun 2016.
  • Tidak. Jibril Tidak Pensiun (2007). Diterbitkan pertama kali oleh Progress. Diterbitkan kembali tahun 2017 oleh Bentang Pustaka.
  • Istriku Seribu (2007). Diterbitkan pertama kali oleh Progress. Diterbitkan kembali tahun 2015 oleh Bentang Pustaka
  • Kagum Pada Orang Indonesia (2008). Diterbitkan pertama kali oleh Progress. Diterbitkan kembali tahun 2015 oleh Bentang Pustaka.
  • Jejak Tinju Pak Kiai (2008). Diterbitkan oleh Kompas.
  • Demokrasi La Roiba Fih (2009). Diterbitkan oleh Kompas. Dicetak kembali tahun 2016.
  • Anak Asuh Bernama Indonesia - Daur 1 (2017). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka.
  • Iblis Tidak Butuh Pengikut - Daur 2 (2017). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka.
  • Mencari Buah Simalakama - Daur 3 (2017). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka.
  • Kapal Nuh Abad 21 - Daur 4 (2017). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka.
  • Kiai Hologram (2018). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka.
  • Pemimpin Yang "Tuhan" (2018). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka.
  • Markesot Belajar Ngaji - Daur 5 (2019). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka.
  • Siapa Sebenarnya Markesot - Daur 6 (2019). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka.
  • Sinau Bareng Markesot - Daur 7 (2019). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka.
  • Lockdown 309 Tahun (2020). Diterbitkan oleh Bentang Pustaka.

Cerpen

  • Yang Terhormat Nama Saya (1992). DIterbitkan oleh Sipress.
  • BH (2006). Diterbitkan oleh Kompas.

Naskah Drama

  • Sidang Para Setan (1977).
  • Patung Kekasih (1983). Tentang pengkultusan. Ditulis bersama Fajar Suharno dan Simon Hate.
  • Doktorandus Mul (1984).
  • Mas Dukun (1986). Tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern.
  • Keajaiban Lik Par (1987). Tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern.
  • Geger Wong Ngoyak Macan (1989). Tentang pemerintahan "Raja" Soeharto. Ditulis bersama Fajar Suharno dan Gadjah Abiyoso.
  • Keluarga Sakinah (1990).
  • Lautan Jilbab (1990).
  • Santri-Santri Khidlir (1991). Dipentaskan di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain. Dihadiri 35.000 penonton di saat dipentaskan di alun-alun Madiun),
  • Perahu Retak (1992). Tentang Indonesia Orde Baru yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram.
  • Sunan Sableng dan Baginda Farouq (1993).
  • Pak Kanjeng (1994).
  • Duta Dari Masa Depan (1996).
  • Tikungan Iblis (2008).
  • Nabi Darurat Rasul Ad Hoc (2012). Tentang betapa rusaknya manusia Indonesia sehingga hanya manusia sekelas Nabi yang bisa membenahinya. Dipentaskan oleh Teater Perdikan dan Letto.
  • Sengkuni 2019 (2019).

Musik Puisi

  • Tuhan Aku Berguru Kepada-Mu (1980). Dimusikpuisikan berrsama Teater Dinasti di Taman Ismail Marzuki (TIM).
  • Isro` Mi’roj Yang Asyik (1986). Dimusikpuisikan di UGM, Yogyakarta.
  • Satria Natpala (1995).
  • Talbiyah Cinta (1996). Dipentaskan di RCTI
  • Jangan Cintai Ibu Pertiwi (2001).
  • Kesaksian Orang Biasa (2003).
  • Republik Gundul Pacul (2004).
  • Presiden Balkadaba (2009).

Album Musik dan Shalawat

  • Perahu Retak (1995). Seluruh lirik ditulis oleh Cak Nun, dan lagu oleh Frangky Sahilatua
  • Kado Muhammad (1996).
  • Raja Diraja (1997).
  • Wirid Padang Bulan (1998).
  • Jaman Wis Akhir (1999).
  • Menyorong Rembulan (1999).
  • Allah Merasa Heran (2000).
  • Perahu Nuh (2000).
  • Dangdut Kesejukan (2001). Syair ditulis oleh Cak Nun.
  • Maiyah Tanah Air (2001).
  • Terus Berjalan (2008).
  • Shohibu Baity (2010).
  • Sholawatun Nur (2020). Single.

Pemikiran Cak Nun

Aktivitas Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun adalah menyampaikan kebenaran lewat gagasan, pemikiran dan kritik-kritiknya dalam berbagai bentuk. Media beliau adalah dengan Puisi, Esai, artikel di Koran, Film, drama lagu serta majelis-majelis Ilmiah lainnya yang beliau bentuk.

Cakupan tema pemikiran, ilmu, dan kegiatan Emha sangat beragam. Bidang sastra, teater, tafsir, tasawwuf, musik, filsafat, pendidikan, kesehatan, Islam, dan lain-lain.

Sebagai seorang penulis, Beliau sangat produktif dengan banyaknya tulisan beliau antara lain Slilit Sang Kiai, Markesot Bertutur, Orang Maiyah, Anggukan Ritmis kaki Pak Kiai, Arus Bawah, Surat Kepada Kanjeng Nabi dan masih banyak lainnya.

Oleh karena bahan kajiannya yang sangat banyak menjadikan beliau fasih berbicara dalam bidang Seni, Budaya, Syair, Ilmu Keislaman, Sastra bahkan Tassawuf. tidak heran beliau disemati dengan manusia multi-dimensi dan literasi.

Penghargaan

Sepak terjang Cak Nun mendapat apresiasi pada bulan Maret 2011, Beliau memperoleh Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Penghargaan Satyalancana Kebudayaan diberikan kepada seseorang yang memiliki jasa besar di bidang kebudayaan dan mampu melestarikan kebudayaan daerah atau nasional serta hasil karyanya berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Peran besar Guru Sastra, Seni dan Budaya beliau yang diakui adalah Umbu Landu Paranggi yang sekarang bermukim di Pulau Dewata.

Cak Nun juga pernah mengikuti lokakarya teater di Filipina tahun 1980, International Writing Program di Universitas Iowa, AS tahun 1984, Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda tahun 1984 dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman pada tahun 1985.

Sepak Terjang di Dunia “PSK”

Kebiasaan nginep sebagai gelandangan di Malioboro dilakoni Cak Nun sejak akhir tahun 1969. Tahun itu adalah tahun-tahun awal bersekolah di SMA 1 Muhammadiyah. Praktis selama 5 tahun (sampai tahun 1975) beliau menapak diri di jalanan Malioboro bersama teman-teman seninya.

Jalanan Malioboro menjadi medan proses kreatifnya bersama aktivis mahasiswa, sastrawan, dan seniman Yogyakarta. Malioboro menjadi salah satu poros dalam jalur Bulaksumur-Malioboro-Gampingan yang menandakan dialektika intelektual-sastra-seni rupa.

Sekolah tidak menjadi penting bagi beliau karena “PSK” menyediakan ruang belajar lebih daripada bangku sekolah. PSK disini adalah Persada Studi Klub, sebuah ruang studi sastra bagi penyair muda Yogyakarta yang diasuh oleh Seniman Misterius Umbu Landu Paranggi.

 

Baca juga:

Habib Syech, Syiarkan Islam Lewat Syair

 

Umbu Landu P dikenal sebagai presiden Malioboro dan seorang sufi yang hidupnya misterius dan jauh dari hingar bingar media. Pertemuannya dengan Umbu Landu Paranggi memberikan pengaruh dalam perjalanan hidupnya pada masa mendatang.

Jebolah PSK yang didirikan tahun 1969 dan aktif hingga 1977 antara lain Imam Budhi Santoso, Ragil Suwarna, Linus Suryadi, dan Emha Ainun Najib.

Eksistensi Persada Studi Klub tidak dapat dipisahkan dari Mingguan Pelopor Yogya, sebuah harian pagi yakng aktif pada tahun 70an. Umbu Landu Paranggi dalam PSK seperti menjadi Ruh, karena menuntut setiap penyair mudanya untuk berpacu setiap saat dengan “kehidupan puisi”.

Dan lewat PSK Cak Nun dikenal sebagai penyair pada umur 17 tahun. beliau mendapat legitimasi sebagai penyair dan disematkan sebagai penyair garda depan yang dimiliki Yogyakarta.

Cak Nun dan Soeharto

Beberapa waktu sebelum “kejatuhan”  Soeharto, Cak Nun merupakan salah satu tokoh yang diundang Presiden ke Istana. Para tokoh tersebut dimintai Nasihat oleh Soeharto yang sudah minim dukungan karena tekanan Demonstrasi Mahasiswa.

Emha mengajukan sebuah Nasihat nyleneh yang berbunyi “Ora dadi presiden ora pathèken” (Tidak Jadi Presiden tidak Masalah). Selain nasihat tersebut, beliau juga menginisiasi “Mudun Keprabon” bagi Soeharto agar bisa Khusnul Khatimah.

Cak Nun menginginkan Soeharto turun Tahta Presiden dengan baik-baik sesuai dengan harapan para mahasiswa agar terjadi reformasi yang damai. Soeharto menyetujui saran dari Cak Nun dan beberapa tokoh sentral Indonesia masa itu, antara lain Gus Dur dan KH. Ali Yafie. Soeharto ingin mundur dalam situasi dalam dan menjamin peralihan kekuasaan secara baik

Fakta terungkap bahwa peralihan kekuasaan Soeharto, seorang Jendral Besar, kepada BJ Habibie terjadi begitu lunak. Cak Nun mengatakan bahwa ketakutan Soeharto bukan kepada Mahasiswa, akan tetapi kepada situasi chaos, seperti penjarahan dan kerusuhan. Oleh karenanya Soeharto legowo untuk mundur dari Presiden Republik Indonesia.

Cak Nun banyak menampilkan Informasi genuine lepas dari kepentingan-kepentingan politik para elitis partai politik. Terutama dalam menggambarkan kejatuhan Presiden Soeharto. Hal ini berkaitan erat dengan tidak adanya kepentingan Cak Nun terhadap kekuasaan politik.

Maiyah

Jika pada masa Orde Baru, aktivitas Cak Nun selalu ramai dalam hiruk pikuk media massa dan publik nasional, maka setelah Reformasi ia memilih ‘jalan sunyi’. Cak Nun mundur dari panggung nasional. Cak Nun menjaga jarak dengan media mainstream, karena ia menyadari sepenuhnya potensi destruktif yang kerap dibawa media daripada potensi konstruktifnya. Waktu kegiatannya sebagian besar bersama masyarakat langsung di berbagai pelosok daerah di nusantara, lebih banyak dibanding sebelumnya. Dalam aktivitasnya itu, Cak Nun bersama KiaiKanjeng melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metode perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Aktivitas Cak Nun yang intens bersama masyarakat itu kemudian berkembang sebagai sebuah konsep kebersamaan yang diikuti beragam lapisan masyarakat. Konsep ini kemudian tahun 2001 disebut Maiyah. Secara etimologis, Maiyah berasal dari kata ma’a, bahasa Arab yang artinya bersama. Dan arti Maiyah sendiri adalah kebersamaan. Kebersamaan dibangun dengan berpijak pada kebersamaan Segitiga Cinta. Yaitu segitiga antara Allah, Rasulullah, dan makhluk. Inspirasi konsep kebersamaan ini diambil dari Alquran yang dikaji oleh Marja’ (rujukan keilmuan) Maiyah: Ahmad Fuad Effendy. Bahwa kata ma’a dalam Alquran disebutkan sebanyak 161 kali yang berada dalam relasi atau kebersamaan antara Allah, Rasulullah, dan semua makhluk-Nya.

Ada yang melihat Maiyah yang diinisiasi Cak Nun ini sebagai sebuah fenomena gerakan sosial budaya baru yang cukup memberikan harapan kebangkitan Indonesia. Maiyah dianggap sebagai oase di tengah berbagai dahaga sosial, kebudayaan, agama, dan krisi keadilan yang terjadi di Indonesia. Karena kesemua permasalahan itu diakomodasi dan diolah bersama menjadi energi kreatif yang menyiratkan prospek masa depan Indonesia yang lebih baik

Maiyah bisa dikatakan seperti sekolah gratis terbuka atau universitas jalanan untuk berbagai lapisan masyarakat, atau juga mirip pesantren virtual. Maiyah seperti menjadi laboratorium sosial yang melatih logika berpikir dan seni manajemen kehidupan. Pun formatnya lain dari berbagai bentuk institusi pembelajaran yang pernah ada. Maiyah sangat terbuka bagi siapapun. 

Semuanya boleh datang ke Majelis Masyarakat Maiyah. Mereka yang merasa bertuhan, yang ateis, yang apolitis, juga yang politis, yang berpendidikan tinggi maupun tidak sekolah, semuanya boleh. Tanpa ada sekat yang dibangun untuk tujuan pemisahan. Tidak ada sekat berdasarkan agama, kelas sosial-ekonomi, dan atas dasar stratifikasi sosial yang selama ini telah terbentuk kehidupan sehari-hari.

Maiyah begitu cair, luwes, rileks, nyaris tanpa struktur baku. Bukan sebuah organisasi. Maiyah lebih cenderung disebut “organisme” yang memiliki karakter seperti ruang yang menampung apapun dan siapapun di dalamnya. 

Cak Nun mengatakan bahwa sejatinya Maiyah itu merupakan dinamika tafsir terus-menerus, tidak terlalu penting didefinisikan secara baku. Yang penting keberadaannya bermanfaat bagi masyarakat luas. 

Toto Rahardjo, pimpinan KiaiKanjeng dan sahabat Cak Nun yang merupakan salah satu sesepuh Maiyah mengatakan bahwa, meskipun Maiyah dipandang sebagai sebuah gerakan sosial budaya, agama, bahkan gerakan sufi, menurutnya Maiyah mengambil posisi cukup sebagai majelis ilmu. 

Menurut Cak Nun, dengan berposisi sebagai majelis ilmu, Maiyah dapat menjadi penyokong segala organisasi, pergerakan, ataupun institusi yang ada di masyarakat. Bagi nahdliyyin yang ber-Maiyah akan semakin kuat ke-NU-annya, dan warga Muhammadiyah tambah kuat ke-Muhammadiyah-annya. Maiyah berupaya untuk selalu berada pada titik seimbang, sebagai penengah, berada pada posisi washatiyah tidak memihak kepada siapapun, baik kekuasaan, ormas, mazhab agama, dan kelompok-kelompok atau aliran-aliran apapun.

Wallahu a'lam bishawab


Back to Top